Selasa, 07 Februari 2017

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KASUS RHEMATOID



ASUHAN KEPERAWATAN PADA KASUS RHEMATOID

photo.jpg.png





Makalah Ini Disusun Oleh Kelompok 1 :
1.      Asep Gunawan                                      14004
2.      Diki Unggara                             14009
3.      Indah Ayu Lestari                      14016
4.      Meylani Heni Saputri                 14021
5.      Mutiana Rizki Balia Rahmat      14045
6.      Nurina                                        14027
7.      Sapia Andro Latupono              14033

PROGRAM D3 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN RAFLESIA DEPOK
OKTOBER 2016

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji sykhur kehadirat Allah SWT, karena Ridho dan kehendak-Nya kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah dengan judul “Asuhan Keperawatan Pada Kasus Rheumatoid” dapat  diselesaikan tepat pada waktunya.
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah  Keperawatan Medikal Bedah II yang diampu oleh Frida Djoko S.kep pada Pendidikan Progran Diploma III Keperaawatan Sekolah tinggi Ilmu Kesehatan Raflesia Depok.
Dalam pembuatan makalah ini, kami mendapatkan beberapa kesulitan dalam penulisan dan keterbatasan dalam memperoleh literatur, namun berkat bantuan dari berbagai pihak akhiurnya kami dapat menyelesaikan makalah ini. Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami untuk menyelesaikan makalah ini.
Kami menyadari masih banyak terdapat kekurangan dalam penulisan makalah ini, karena itu kami mohon arahan, saran dan kritik yang sifatnya menyempurnakan makalah ini. Kami berharap makalah ini dapat diterima dan bermanfaat bagi kita semua. Amin Ya Rabbal Alamin.









DAFTAR ISI

Kata Pengantar.............................................................................................................       i
Daftar Isi ......................................................................................................................       ii
Pendahuluan
1.1.Latar Belakang .................................................................................................       iii
1.2.Tujuan ..............................................................................................................       iv
Pembahasan
2.1 Definisi ............................................................................................................       1
2.2 Etiologi ............................................................................................................       2
2.3 Phatofisiologi ...................................................................................................       2
2.4 Tanda dan gejala ..............................................................................................       5
2.5 Menifestasi Klinis ............................................................................................       5
2.6 Komplikasi .......................................................................................................       6
2.7 Penatalaksanaan ...............................................................................................       7
2.8 Pengkajian ........................................................................................................       9
2.9 Rencana Asuhan Keperawatan ........................................................................       10
Penutup
3.1 Kesimpulan ......................................................................................................       12
3.2 Saran ................................................................................................................       12
Daftar Pustaka


BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Perubahan – perubahan akan terjadi pada tubuh manusia sejalan dengan makin meningkatnya usia. Perubahan tubuh terjadi sejak awal kehidupan hingga usia lanjut pada semua organ dan jaringan tubuh.
Keadaan demikian itu tampak pula pada semua sistem muskuloskeletal dan jaringan lain yang ada kaitannya dengan kemungkinan timbulnya beberapa golongan reumatoid. Salah satu golongan penyakit Reumatoid yang sering menyertai usia lanjut yang menimbulkan gangguan muskuloskeletal terutama adalah reumatoid artritis. Kejadian penyakit tersebut akan makin meningkat sejalan dengan meningkatnya usia manusia.
Reumatoid dapat mengakibatkan perubahan otot, hingga fungsinya dapat menurun bila otot pada bagian yang menderita tidak dilatih guna mengaktifkan fungsi otot. Dengan meningkatnya usia menjadi tua fungsi otot dapat dilatih dengan baik. Namun usia lanjut tidak selalu mengalami atau menderita reumatoid. Bagaimana timbulnya kejadian reumatoid ini, sampai sekarang belum sepenuhnya dapat dimengerti.
Menurut kesepakatan para ahli di bidang rematologi, reumatoid dapat terungkap sebagai keluhan dan/atau tanda. Dari kesepakatan itu, dinyatakan ada tiga keluhan utama pada sistem muskuloskeletal yaitu: nyeri, kekakuan (rasa kaku) dan kelemahan, serta adanya tiga tanda utama yaitu: pembengkakan sendi, kelemahan otot, dan gangguan gerak. (Soenarto, 1982)
Reumatoid dapat terjadi pada semua umur dari kanak – kanak sampai usia lanjut, atau sebagai kelanjutan sebelum usia lanjut. Dan gangguan Reumatoid akan meningkat dengan meningkatnya umur. (Felson, 1993, Soenarto dan Wardoyo, 1994). Pencegahan yang tepat dan penanganan yang sesuai dari perawat maupun tim medis lainnya dapat meminimalkan terjadinya resiko reumatoid artritis pada lansia.



1.2.Tujuan

1.      Tujuan Umum
Untuk pembelajaran Mata Kuliah KMB II pada sub bab sistem muskuloskeletal, yang terfokus pada asuhan keperawatan pada kasus rhematoid artritis

2.      Tujuan Khusus
a.      Agar dapat mengetahui, menjelaskan dan memahami definisi pada kasus rhematoid astritis.
b.      Agar dapat mengetahui, menjelaskan dan memahami etiologi kasus rhematoid artritis.
c.       Agar dapat mengetahui, menjelaskan dan memahami tanda dan gejala pada kasus rhematoid artritis.
d.      Agar dapat mengetahui, menjelaskan dan memahami patofisiologi pada kasus dermatitis.
e.      Agar dapat mengetahui, menjelaskan dan memahami komplikasi pada kasus dermatitis.
f.        Agar dapat mengetahui, menjelaskan dan memahami penatalaksanaan medis  pada kasus dermatitis.
g.      Agar dapat mengetahui, menjelaskan, memahami dan menerapkan konsep asuhan keperawatan pada kasus dermatitis.



BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Definisi
Rheumatoid is a chronic inflammatory disease with primary manifestation poliartritis progressive and involve all the organs, jadi merupakan suatu penyakit inflamasi kronik dengan manifestasi utama poliartritis progresif dan melibatkan seluruh organ tubuh. (Arif Mansjour. 2001).
Rheumatoid adalah suatu penyakit inflamasi sistemik kronik yang tidak diketahui penyebabnya, dikarakteristikan oleh kerusakan dan proliferasi membran sinovial, yang menyebabkan kerusakan pada tulang sendi, ankilosis, dan deformitas. (Doenges, E Marilynn, 2000 : hal 859).
Rheumatoid adalah suatu penyakit inflamasi sistemik kronik dengan manifestasi utama poliartritis progresif dan melibatkan seluruh organ tubuh.(Kapita Selekta Kedokteran, 2001 : hal 536)
Rheumatoid adalah gangguan autoimun kronik yang menyebabkan proses inflamasi pada sendi (Lemone & Burke, 2001 : 1248).
Penyakit reumatik adalah penyakit inflamasi non- bakterial yang bersifat sistemik, progesif, cenderung kronik dan mengenai sendi serta jaringan ikat sendi secara simetris. ( Rasjad Chairuddin, Pengantar Ilmu Bedah Orthopedi, hal. 165 ).
Rheumatoid adalah penyakit autoimun sistemik kronis yang tidak diketahui penyebabnya dikarekteristikan dengan reaksi inflamasi dalam membrane sinovial yang mengarah pada destruksi kartilago sendi dan deformitas lebih lanjut.(Susan Martin Tucker.1998).
Jadi rheumatoid addalah penyakit inflamsi kronik dalam membrane synovial yang menyebabkan kerusakan pada tulang atau sendi.



2.2  Etiologi
Penyebab utama penyakit reumatik masih belum diketahui secara pasti. Biasanya merupakan kombinasi dari faktor genetik, lingkungan, hormonal dan faktor sistem reproduksi. Namun faktor pencetus terbesar adalah faktor infeksi seperti bakteri, mikoplasma dan virus (Lemone & Burke, 2001).
Ada beberapa teori yang dikemukakan sebagai penyebab artritis reumatoid, yaitu:
1.      Infeksi Streptokkus hemolitikus dan Streptococcus non-hemolitikus.
2.      Endokrin.
3.      Autoimmun.
4.      Metabolik.
5.      Faktor genetik serta pemicu lingkungan.
Pada saat ini artritis reumatoid diduga disebabkan oleh faktor autoimun dan infeksi. Autoimun ini bereaksi terhadap kolagen tipe II; faktor infeksi mungkin disebabkan oleh karena virus dan organisme mikroplasma atau grup difterioid yang menghasilkan antigen tipe II kolagen dari tulang rawan sendi penderita.
2.3  Phatofisiologi
Pada Reumatoid arthritis, reaksi autoimun (yang dijelaskan sebelumnya) terutama terjadi dalam jaringan sinovial. Proses fagositosis menghasilkan enzim-enzim dalam sendi. Enzim-enzim tersebut akan memecah kolagen sehingga terjadi edema, proliferasi membran sinovial dan akhirnya pembentukan pannus. Pannus akan menghancurkan tulang rawan dan menimbulkan erosi tulang. Akibatnya adalah menghilangnya permukaan sendi yang akan mengganggu gerak sendi. Otot akan turut terkena karena serabut otot akan mengalami perubahan degeneratif dengan menghilangnya elastisitas otot dan kekuatan kontraksi otot (Smeltzer & Bare, 2002).
Inflamasi mula-mula mengenai sendi-sendi sinovial seperti edema, kongesti vaskular, eksudat febrin dan infiltrasi selular.  Peradangan yang berkelanjutan, sinovial menjadi menebal, terutama pada sendi artikular kartilago dari sendi.  Pada persendian ini granulasi membentuk pannus, atau penutup yang menutupi kartilago.  Pannus masuk ke tulang sub chondria. Jaringan granulasi menguat karena radang menimbulkan gangguan pada nutrisi kartilago artikuer. Kartilago menjadi nekrosis. 
Tingkat erosi dari kartilago menentukan tingkat ketidakmampuan sendi.  Bila kerusakan kartilago sangat luas maka terjadi adhesi diantara permukaan sendi, karena jaringan fibrosa atau tulang bersatu (ankilosis).  Kerusakan kartilago dan tulang menyebabkan tendon dan ligamen jadi lemah dan bisa menimbulkan subluksasi atau dislokasi dari persendian.  Invasi dari tulang sub chondrial bisa menyebkan osteoporosis setempat.
Lamanya Reumatoid arthritis berbeda pada setiap orang ditandai dengan adanya masa serangan dan tidak adanya serangan. Sementara ada orang yang sembuh dari serangan pertama dan selanjutnya tidak terserang lagi. Namun pada sebagian kecil individu terjadi progresif yang cepat ditandai dengan kerusakan sendi yang terus menerus dan terjadi vaskulitis yang difus (Long, 1996)
















 

 

2.4  Tanda dan Gejala
Gejala yang paling sering terjadi yaitu nyeri sendi dan kekakuan sendi yang memburuk pada pagi hari setelah bangun tidur dan setelah duduk lama. Kekakuan biasanya membaik dengan gerakan. Gejala cenderung hilang timbul.
Gejala lain dapat berupa: mata gatal atau sensasi terbakar, lelah, ulkus kaki, penurunan nafsu makan, baal dan kesemutan, sesak, nodul kulit, kelemahan dan demam. Sendi dapat memerah, bengkak, nyeri, berubah bentuk dan terasa hangat.
2.5  MenifestasiKlinis
Manifestasi klinis reumatoid sangat bervariasi dan biasanya mencerminkan stadium serta berat nya penyakit. Gambaran klinis yang klasik untuk reumatoid yaitu rasa nyeri, pembengkakan, panas, eritema dan gangguan fungsi pada sendi.
Jika ditinjau dari stadium penyakit, terdapat tiga stadium yaitu:
1.      Stadium sinovitis
Pada stadium ini terjadi perubahan dini pada jaringan sinovial yang ditandai hiperemi, edema karena kongesti, nyeri pada saat bergerak maupun istirahat, bengkak dan kekakuan.
2.      Stadium destruksi
Pada stadium ini selain terjadi kerusakan pada jaringan sinovial terjadi juga pada jaringan sekitarnya yang ditandai adanya kontraksi tendon.
3.      Stadium deformitas
Pada stadium ini terjadi perubahan secara progresif dan berulang kali, deformitas dan gangguan fungsi secara menetap.

      Keterbatasan fungsi sendi dapat terjadi sekalipun dalam stadium penyakit yang dini sebelum terjadi perubahan tulang dan ketika terdapat reaksi inflamasi yang akut pada sendi-sendi tersebut. Deformitas tangan dan kaki sering dijumpai pada reumatoid, deformatis dapat disebabkan oleh ketidaksejajaran sendi (misaligment) yang terjadi akibat pembengkakan, destruksi sendi yang progresif atau sub lokasio (dislokasi parsial) yang terjadi ketika sebuah tulang tergeser terhadap lainnya dan menghilangkan rongga sendi.
Reumatoid merupakan penyakit sistemik dengan gejala ekstra-artikuler yang multipel. Gejala yang paling sering ditemukan adalah demam, penurunan berat badan, keadaan mudah lelah, anemia, pembesaran kelenjar limfe. Gejala ekstra-artikuler lainnya mencakup arteritis, neuropati, skleritis, perikarditis, splenomegali dan sindrom Sjogren (mata serta membran mukosa yang kering).
2.6.Komplikasi
Reumatoid adalah penyakit sistemik yang dapat mempengaruhi bagian lain dari luar tubuh selain sendi, efek ini meliputi :
a.       Dapat menimbulkan perubahan pada jaringan lain seperti adanya prosesgranulasi dibawah kulit yng disebut subcutan nodule.
b.      Sistem muskuloskeletal : pada otot daapat terjadi myosis karena proses granulasi jaringan otot dan osteoporosis.
c.       Sistem pembuluh darah : tromboemboli adalah adanya sumbatan pada pembuluh darah yang disebabkan oleh adanya darah yang membeku.
d.      Spenomegali : spenomegalimerupakan pembesaran limfa, jika limfa membesar kemampuannya untuk menangkap dan menyimpan sel-sel darah akan meningkat.
e.       Sistem pencernaan : pada sistem pencernaan yang sering dijumpai adalah gastritis dan ulkus peptik yang merupakan komplikasi utama penggunaan obat nti inflamasi non steroid (OAINS) yang menjadi faktor penyebab morbiditas dan mortalitas utama pada reumatoid.
f.       Komplikasi saraf yang terjaadi memberikan gambaran jelas sehingga sukar dibedakan antara akibat lesi artikuler dan lesi neuropatik.
g.      Infeksi : pasien dengan reumatoid memiliki risiko lebih besar untuk infeksi. Obat imunosupresif akan lebih meningkatkan risiko.
h.      Penyakit paru-paru : dikaitkan dengan merokok.
i.        Sindrom felty :  kondisi ini ditandai dengan spenomegali dan infeksi bakteri berulang.
j.        Limfoma dan kanker lainnya : terkait dengan perubahan sistem kekebalan tubuh.



2.7  Penatalaksanaan
Setelah diagnosis AR dapat ditegakkan, penderita pertama yang harus adalah segera berusaha untuk membina hubungan yang baik antara pasien dan keluarganya dengan dokter atau tim pengobatan yang merawatnya.
1.      Pendidikan pada pasien mengenai penyakitnya dan penatalaksanaan yang akan dilakuykan sehingga terjalin hubunggan baik dan terjamin ketaatan pasien.
2.      OAINS diberikan sejak dini untuk mengatasi nyeri sendi akibat inflamasi yang sering dijumpai. OAINS yang dapatdiberikan :
a.       Aspirin; pasien dibawah 50 tahun dapat dimulai dengan dosis 3-4 x 1 g/hari, kemudian dinaikkan 0,3-0,6 g/minggu sampai terjadi perbaikan atau gejala toksik. Dosis terapi 20-30 mg/dl.
b.      Ibuprofen, naproksen, piroksikam, diklofenak, dan sebagainya.
3.      DMARD (disease-modifying antirheumatic drugs) digunakan untuk melindugi rawan sendi dan tulang dari proses destruksi akibat artritis reumatoid. Mula khasiatnya baru terlihat setelah 3-12 bulan kemudian. Setelah 2-5 tahun, maka efektivitasnya dalam menekan proses reumatoid akan berkurang. Jenis-jenis yang digunakan adalah:
a.       Klorokuin; paling banyak digunakan karena harganya terjangkau, namun efektivitasnya lebih rendah dibandingkan dengan yang lain. Dosis anjuran klorokuin  fosfat 250 mg/hari, hidrosiklorokuin 400 mg/hari.
b.      Sulfasalazin dalam bentuk tablet bersalut enteric digunakan dalam dosis 1 x 500 mg/hari, ditingkatkan 500 mg/minggu, sampai mencapai dosis 4 x 500 mg. Setelah remisi tercapai, dosis dapat diturunkan hingga 1 g/hari untuk dipakai dalam jangka panjang sampai tercapai remisi sempurna. Jika dalam waktu 3 bulan tidak terlihat khasiatnya, obat ini dihentikan dan diganti dengan yang lain, atu dikombinasi.
c.       D-penisilamin, kurang disukai karena bekerja sangat lambat. Digunakan dalam dosis 250-300 mg/hari, kemudian dosis ditingkatkan setiap 2-4 minggu sebesar 250-300 mg/hari untuk mencapai dosis total 4x 250-300 mg/hari.
d.      Garam emas adalah gold standard bagi DMARD. Khasiatnya tidak diragukan lagi meski sering timbul efek samping. Auro sodium tiomalat (AST) diberikan intramuskular, dimulai dengan dosis percobaan pertama sebesar 10 mg, seminggu kemudian dosis kedua 20 mg. Seminggu kemudian diberikan dosis penuh 50 mg/minggu selama 20 minggu. Dapat dilanjutkan dengan dosis tambahan sebesar 50 mg tiap 2 minggu sampai 3 bulan. Jika diperlukan, dapat diberikan dosis 50 mg setiap 3 minggu sampai keadaan remisi tercapai.
e.       Obat imunosupresif atau imunoregulator; Metotreksat sangat mudah digunakan dan waktu kerjanya relatif pendek. Dosis dimulai 5-7,5 mg setiap minggu. bila dalam 4 bulan tidak menunjukan perbaikan, dosis harus ditingkatkan. Dosis jarang melebihi 20 mg/minggu. penggunaan siklosporin untuk artritis reumatoid masih dalam penelitian.
f.       Kortikosteroid hanya dipakai untuk pengobatan artritis reumatoid dengan komplikasi berat dan mengancam jiwa, seperti vaskulitis, karena obat ini memiliki eveksamping yang sangat berat. Dalam dosis rendah (seperti prednison 5-7,5 mg satu kali sehari) sangat bermanfaat sebagai bridging therapy dalam mengatasi sinovitis sebelum DMARD mulai bekerja, yang kemudian dihentikan secara bertahap. Dapat diberikan suntikan kortikosteroid intraartikularbjika terdapat peradangan yang berat. Sebelumnya, infeksi harus disingkirkan terlebih dahulu.
4.      Riwayat penyakit alamiah
Pada umumnya 25% pasien akan mengalami manifestasi panyakit yang bersifat monosiklik (hanya mengalami satu episode AR dan selanjutnya akan mengalami remisi sempurna). Pada pihak lain sebagian besar pasien akan menderita penyakit ini sepanjang hidupnya dengan hanya diselingi oleh beberapa masa remisi yang singkat (jenis polisiklis). Sebagian kecil lainnya akan menderita AR yang progresif yang disertai dengan penurunan kapasitas fungsional yang menetap pada setiap eksaserbasi. Sampai saat ini belum berhasil dijumpai obat yang bersifat sebagai disease controlling antirheumatic therapy (DC-ART).
5.      Rehabilitas
Rehabilitas merupakan tindakan untuk mengembalikan tinggkat kemampuan pasien AR dengan tujuan:
a.       Mengurangi rasa nyeri
b.      Mencegah terjadinya kekakuan dan keterbatasan gerak sendi
c.       Mencegah terjadinya atrofi dan kelemahan otot
d.      Mencegah terjadinya deformitas
e.       Meningkatkan rasa nyaman dan kepercayaan diri
f.       Mempertahankan kemandirian sehingga tidak bergantung kepada orang lain.
Rehabilitas dilaksanakan dengan mengistirahatkan sendi yang terlibat, latihan serta dengan menggunakan modalitas terapi fisis seperti pemanasan, pendinginan, peningkatan ambang rasa nyeri dengan arus listris.

2.8  Pengkajian
1.      Aktifitas/istirahat
Gejala : Nyeri sendi karena gerakan, nyeri tekan, memburuk dengan stres pada sendi; kekakuan pada pagi hari, biasanya terjadi bilateral dan simetris. Limitasi fungsional yang berpengaruh pada gaya hidup, waktu senggang, pekerjaan, keletihan.
Tanda : Malaise, keterbatasan rentang gerak, atrofi otot, kulit, kontraktor/ kelaianan pada sendi.
2.      Kardiovskuler
Gejala: Fenomena Raynaud jari tangan/ kaki ( mis: pucat intermitten, sianosis, kemudian kemerahan pada jari sebelum warna kembali normal).
3.       Integritas ego
Gejala: Faktor-faktor stres akut/ kronis: mis; finansial, pekerjaan, ketidakmampuan, faktor-faktor hubungan. Keputusan dan ketidakberdayaan ( situasi ketidakmampuan ). Ancaman pada konsep diri, citra tubuh, identitas pribadi ( misalnya ketergantungan pada orang lain).
4.      Makanan/ cairan
Gejala: Ketidakmampuan untuk menghasilkan/ mengkonsumsi makanan/cairan adekuat: mual, anoreksia, kesulitan untuk mengunyah.
Tanda: Penurunan berat badan, kekeringan pada membran mukosa.
5.      Hygiene
Gejala: Berbagai kesulitan untuk melaksanakan aktivitas perawatan pribadi,  ketergantungan
6.      Neurosensori
Gejala: Kebas, semutan pada tangan dan kaki, hilangnya sensasi pada jari tangan
Tanda: Pembengkakan sendi simetris
7.      Nyeri/ kenyamanan
Fase akut dari nyeri (mungkin tidak disertai oleh pembengkakan jaringan lunak pada sendi).
8.      Keamanan
Kulit mengkilat, tegang, nodul subkutan, lesi kulit, ulkus kaki. Kesulitan ringan dalam menangani tugas/pemeliharaan rumah tangga. Demam ringan menetap kekeringan pada mata dan membran mukosa.

2.9  Rencana Asuhan Keperawatan
Diagnosa Keperawatan
  1. Gangguan rasa nyaman : nyeri akut b.d agen cedera fisik .
  2. Hambatan mobilitas fisik b.d Nyeri, gangguan muskulus skeletal, kaku sendi, gangguan sensori perseptual.
  3. Kurang pengetahuan, ketidak tahuan tentang penyakit b.d Kurang informasi dan keterbatasan kemampuan mencapai informasi

Rencana Keperawatan
No
Dx. keperawatan
Tujuan
Perencanaan
Intervensi
Rasional
1
Gangguan rasa nyaman : nyeri akut b.d agen cedera fisik.
Setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam 3 x 24 jam masalah keperawatan gangguan rasa nyaman : nyeri akut dapat teratasi.

Kriteria Hasil :
1.      Klien melaporkan penurunan nyeri.
2.      Menunjukkan perilaku yang lebih relaks.
3.      Memperagakan keterampilan reduksi nyeri yang dipelajari dengan peningkatan keberhasilan.
4.      Skala nyeri 0-1 atau teradaptasi.

1.      Kaji karakteristik nyeri
2.      anjurkan klien untuk mandi air hangat, kompres sendi- sendi yang sakit dengan kompres hangat
3.      Ajar teknik relaksasi nafas dalam
4.      Ciptakan lingkungan yang nyaman
5.      Kolaborasi pemberian obat analgetik
1.      Membantu dalam menentukan kebutuhan manajemen nyeri dan keefektifan progra
2.      Panas meningkatkan relaksasi otot dan mobilitas, menurunkan rasa sakit.
3.      Merelaksasi otot-otot tubuh
4.      Lingkungan yang nyaman dapat memberikan ketenangan pada klien
5.      Untuk menghilangkan rasa nyeri
2
Hambatan mobilitas fisik b.d Nyeri, gangguan muskulus skeletal, kaku sendi, gangguan sensori perceptual
Setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam 3 x 24 jam masalah keperawatan hambatan mobilitas fisik dapat teratasi.
Kriteria hasil :
1.      Klien dapat mengungkapkan bertambahnya kekuatan dan daya tahan ekstremitas
2.      Mempertahankan mobilitas
1.      Ajarkan dan panatau pasien dalam hal penggunaan alat bantu
2.      Pertahankan istirahat tirah baring/ duduk jika diperlukan
3.      Bantu ADL paien
4.      Ajarkan dan dukung pasien dalam latihan mobilisasi
1.      Menilai batasan kemampuan aktivitas
2.      Istirahat sistemik dianjurkan selama eksaserbasi akut dan seluruh fase penyakit yang penting untuk mencegah kelelahan mempertahankan kekuatan
3.      Memudahkan pasien dalam melakukan kegiatan sehari-hari
4.      Memperthankan/meningkatkan kekuatan dan ketahanan otot
3
Kurang pengetahuan, ketidak tahuan tentang penyakit b.d Kurang informasi dan keterbatasan kemampuan mencapai informasi,
Setelah dilakuka tindakan keperawatan dalam 3 x 24 jam masalah keperawatan kurang pengetahuan dapat teratasi.
Kriteria hasil :
klien dapat mengetahui pengetahuan tentang penyakit




1.      Kaji tingkat pengetahuan klien
2.      Berikan pendidikan kesehatan tentang cara mencegah dan mengatasi reumathoidartritis
3.      Evaluasi tingkat pengetahuan klien

1.      Mengetahui tingkat pengetahuan klien

2.      Menambah pengetahuan pasien tentang penyakit yang dideritanya

3.      Mengetahui sejauh mana klien memahami tentang penyakit yang dideritanya













BAB III
PENUTUP
3.1       Kesimpulan
Reumatoid merupakan penyakit inflamasi sistemik kronis yang tidak diketahui penyebabnya, diakrekteristikan oleh kerusakan dan ploriferasi membran sinofial yang menyebabkan kerusakan pada tulang sendi, ankilosis, dan deformitas.
           Penyebab utama penyakit artritis reumatoid masih belum diketahui secara pasti. Ada beberapa teori yang dikemukakan sebagai penyebab artritis reumatoid, yaitu: infeksi sptertokkus hemolitikus dan streptokkus non hemolitikus, endokrin, autoimun, metabolik, daan faktor genetik serta pemicu lingkungan.
           Jika pasien atritis reumatoid tidak di istirahatkan maka penyakit ini akan berkembang menjadi empat tahap yaitu terdapat radang sendi dengan pembengkakan membran sinofial dan kelebihan produksi cairan sinofial, secara radiologis, kerusakan tulang pipih atau tulang rawan dapat dilihat, jaringan ikat fibrosa yang keras menggantikan pannus, sehingga mengurangi ruang gerak sendi, ankilosis fibrosa mengakibatkan penurunan gerakan sendi, perubahan kesejajaran tubuh, dan defoitas. Secara radiologis terlihat adanya kerusakan kartilago dan tulang.
           Masalah keperawatan yang mungkin muncul adalah nyeri, gangguan mobilitas fisik, gangguan body image, kurang perawatan diri, resiko cedera, dan kurang pengetahuan.
4.1       Saran
Rheumatoid dapat menyerang segala usia maka penanganan penyakit ini diupayakan secara maksimal dengan peningkatan mutu pelayanan kesehatan baik melalui tenaga kesehatan, prasarana dan sarana kesehatan.






Daftar Pustaka

Doengoes E Marilynn. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. EGC: Jakarta.
Smeltzer, Suzzanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. EGC: Jakarta.
Marilyn E. Doenges dkk. Rencana Asuhan Keperaawatan edisi 3. EGC: Jakarta, 1999.
Mansjoer, Arif. Kapita Slekta Kedokteran edisi 3 jilid 2. Jakarta : Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2000.
Smeltzer, Suzanne C. dan Bare, Brenda G.2002.Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Brunner dan Suddarth (Ed.8, Vol. 1,2).Alih bahasa oleh Agung Waluyo (dkk).EGC.Jakarta.
Long, Barbara C.1996.Perawatan Medikal Bedah,(Volume 2). Penerjemah: Karnaen, Adam, Olva, dkk.Bandung.Yayasan Alumni Pendidikan Keperawatan.
Herdaman, Heather T. Nursing Diagnoses Definition & Classification 2012-2104. EGC: Jakarata
Huda, Amin N dan Kusuma, Hardhi.2013.Aplikasi NANDA NIC-NOC.Yogyakarta.Medactio







Tidak ada komentar:

Posting Komentar