ASUHAN
KEPERAWATAN PADA KASUS RHEMATOID

Makalah
Ini Disusun Oleh Kelompok 1 :
1. Asep
Gunawan 14004
2. Diki
Unggara 14009
3. Indah
Ayu Lestari 14016
4. Meylani
Heni Saputri 14021
5. Mutiana
Rizki Balia Rahmat 14045
6. Nurina 14027
7. Sapia
Andro Latupono 14033
PROGRAM
D3 KEPERAWATAN
SEKOLAH
TINGGI ILMU KESEHATAN RAFLESIA DEPOK
OKTOBER
2016
KATA PENGANTAR
Dengan
memanjatkan puji sykhur kehadirat Allah SWT, karena Ridho dan kehendak-Nya kami
dapat menyelesaikan penyusunan makalah dengan judul “Asuhan Keperawatan Pada
Kasus Rheumatoid” dapat diselesaikan
tepat pada waktunya.
Makalah
ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah
Keperawatan Medikal Bedah II yang diampu oleh Frida Djoko S.kep pada
Pendidikan Progran Diploma III Keperaawatan Sekolah tinggi Ilmu Kesehatan
Raflesia Depok.
Dalam
pembuatan makalah ini, kami mendapatkan beberapa kesulitan dalam penulisan dan
keterbatasan dalam memperoleh literatur, namun berkat bantuan dari berbagai
pihak akhiurnya kami dapat menyelesaikan makalah ini. Oleh karena itu, kami
mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami untuk
menyelesaikan makalah ini.
Kami
menyadari masih banyak terdapat kekurangan dalam penulisan makalah ini, karena
itu kami mohon arahan, saran dan kritik yang sifatnya menyempurnakan makalah
ini. Kami berharap makalah ini dapat diterima dan bermanfaat bagi kita semua.
Amin Ya Rabbal Alamin.
DAFTAR
ISI
Kata
Pengantar............................................................................................................. i
Daftar
Isi ...................................................................................................................... ii
Pendahuluan
1.1.Latar
Belakang ................................................................................................. iii
1.2.Tujuan
.............................................................................................................. iv
Pembahasan
2.1
Definisi ............................................................................................................ 1
2.2
Etiologi ............................................................................................................ 2
2.3
Phatofisiologi ................................................................................................... 2
2.4
Tanda dan gejala .............................................................................................. 5
2.5
Menifestasi Klinis ............................................................................................ 5
2.6
Komplikasi ....................................................................................................... 6
2.7
Penatalaksanaan ............................................................................................... 7
2.8
Pengkajian ........................................................................................................ 9
2.9
Rencana Asuhan Keperawatan ........................................................................ 10
Penutup
3.1
Kesimpulan ...................................................................................................... 12
3.2
Saran ................................................................................................................ 12
Daftar
Pustaka
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Perubahan
– perubahan akan terjadi pada tubuh manusia sejalan dengan makin meningkatnya
usia. Perubahan tubuh terjadi sejak awal kehidupan hingga usia lanjut pada
semua organ dan jaringan tubuh.
Keadaan
demikian itu tampak pula pada semua sistem muskuloskeletal dan jaringan lain
yang ada kaitannya dengan kemungkinan timbulnya beberapa golongan reumatoid.
Salah satu golongan penyakit Reumatoid yang sering menyertai usia lanjut yang
menimbulkan gangguan muskuloskeletal terutama adalah reumatoid artritis.
Kejadian penyakit tersebut akan makin meningkat sejalan dengan meningkatnya usia
manusia.
Reumatoid
dapat mengakibatkan perubahan otot, hingga fungsinya dapat menurun bila otot
pada bagian yang menderita tidak dilatih guna mengaktifkan fungsi otot. Dengan
meningkatnya usia menjadi tua fungsi otot dapat dilatih dengan baik. Namun usia
lanjut tidak selalu mengalami atau menderita reumatoid. Bagaimana timbulnya
kejadian reumatoid ini, sampai sekarang belum sepenuhnya dapat dimengerti.
Menurut
kesepakatan para ahli di bidang rematologi, reumatoid dapat terungkap sebagai
keluhan dan/atau tanda. Dari kesepakatan itu, dinyatakan ada tiga keluhan utama
pada sistem muskuloskeletal yaitu: nyeri, kekakuan (rasa kaku) dan kelemahan,
serta adanya tiga tanda utama yaitu: pembengkakan sendi, kelemahan otot, dan
gangguan gerak. (Soenarto, 1982)
Reumatoid
dapat terjadi pada semua umur dari kanak – kanak sampai usia lanjut, atau
sebagai kelanjutan sebelum usia lanjut. Dan gangguan Reumatoid akan meningkat
dengan meningkatnya umur. (Felson, 1993, Soenarto dan Wardoyo, 1994).
Pencegahan yang tepat dan penanganan yang sesuai dari perawat maupun tim medis
lainnya dapat meminimalkan terjadinya resiko reumatoid artritis pada lansia.
1.2.Tujuan
1.
Tujuan Umum
Untuk
pembelajaran Mata Kuliah KMB II pada sub bab sistem muskuloskeletal, yang terfokus pada
asuhan keperawatan pada kasus rhematoid
artritis
2. Tujuan Khusus
a. Agar
dapat mengetahui, menjelaskan dan memahami definisi pada kasus rhematoid astritis.
b. Agar
dapat mengetahui, menjelaskan dan memahami etiologi kasus rhematoid artritis.
c. Agar
dapat mengetahui, menjelaskan dan memahami tanda dan gejala pada kasus rhematoid artritis.
d. Agar
dapat mengetahui, menjelaskan dan memahami patofisiologi
pada kasus dermatitis.
e. Agar
dapat mengetahui, menjelaskan dan memahami komplikasi pada kasus dermatitis.
f.
Agar dapat mengetahui, menjelaskan dan
memahami penatalaksanaan medis pada
kasus dermatitis.
g. Agar
dapat mengetahui, menjelaskan, memahami dan menerapkan konsep asuhan
keperawatan pada kasus dermatitis.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi
Rheumatoid
is a chronic inflammatory disease with primary manifestation poliartritis
progressive and involve all the organs, jadi merupakan suatu penyakit inflamasi
kronik dengan manifestasi utama poliartritis progresif dan melibatkan seluruh
organ tubuh. (Arif Mansjour. 2001).
Rheumatoid
adalah suatu penyakit inflamasi sistemik kronik yang tidak diketahui
penyebabnya, dikarakteristikan oleh kerusakan dan proliferasi membran sinovial,
yang menyebabkan kerusakan pada tulang sendi, ankilosis, dan deformitas.
(Doenges, E Marilynn, 2000 : hal 859).
Rheumatoid
adalah suatu penyakit inflamasi sistemik kronik dengan manifestasi utama
poliartritis progresif dan melibatkan seluruh organ tubuh.(Kapita Selekta
Kedokteran, 2001 : hal 536)
Rheumatoid
adalah gangguan autoimun kronik yang menyebabkan proses inflamasi pada sendi
(Lemone & Burke, 2001 : 1248).
Penyakit
reumatik adalah penyakit inflamasi non- bakterial yang bersifat sistemik,
progesif, cenderung kronik dan mengenai sendi serta jaringan ikat sendi secara
simetris. ( Rasjad Chairuddin, Pengantar Ilmu Bedah Orthopedi, hal. 165 ).
Rheumatoid
adalah penyakit autoimun sistemik kronis yang tidak diketahui penyebabnya
dikarekteristikan dengan reaksi inflamasi dalam membrane sinovial yang mengarah
pada destruksi kartilago sendi dan deformitas lebih lanjut.(Susan Martin
Tucker.1998).
Jadi
rheumatoid addalah
penyakit inflamsi kronik dalam
membrane synovial yang menyebabkan
kerusakan pada tulang atau sendi.
2.2 Etiologi
Penyebab
utama penyakit reumatik masih belum diketahui secara pasti. Biasanya merupakan
kombinasi dari faktor genetik, lingkungan, hormonal dan faktor sistem
reproduksi. Namun faktor pencetus terbesar adalah faktor infeksi seperti
bakteri, mikoplasma dan virus (Lemone & Burke, 2001).
Ada beberapa teori yang dikemukakan sebagai penyebab
artritis reumatoid, yaitu:
1.
Infeksi
Streptokkus hemolitikus dan Streptococcus non-hemolitikus.
2.
Endokrin.
3.
Autoimmun.
4.
Metabolik.
5.
Faktor
genetik serta pemicu lingkungan.
Pada
saat ini artritis reumatoid diduga disebabkan oleh faktor autoimun dan infeksi.
Autoimun ini bereaksi terhadap kolagen tipe II; faktor infeksi mungkin
disebabkan oleh karena virus dan organisme mikroplasma atau grup difterioid
yang menghasilkan antigen tipe II kolagen dari tulang rawan sendi penderita.
2.3 Phatofisiologi
Pada Reumatoid
arthritis, reaksi autoimun (yang dijelaskan sebelumnya) terutama terjadi dalam
jaringan sinovial. Proses fagositosis menghasilkan enzim-enzim dalam sendi.
Enzim-enzim tersebut akan memecah kolagen sehingga terjadi edema, proliferasi
membran sinovial dan akhirnya pembentukan pannus. Pannus akan menghancurkan
tulang rawan dan menimbulkan erosi tulang. Akibatnya adalah menghilangnya
permukaan sendi yang akan mengganggu gerak sendi. Otot akan turut terkena
karena serabut otot akan mengalami perubahan degeneratif dengan menghilangnya
elastisitas otot dan kekuatan kontraksi otot (Smeltzer & Bare, 2002).
Inflamasi mula-mula
mengenai sendi-sendi sinovial seperti edema, kongesti vaskular, eksudat febrin
dan infiltrasi selular. Peradangan yang berkelanjutan, sinovial menjadi
menebal, terutama pada sendi artikular kartilago dari sendi. Pada
persendian ini granulasi membentuk pannus, atau penutup yang menutupi
kartilago. Pannus masuk ke tulang sub chondria. Jaringan granulasi
menguat karena radang menimbulkan gangguan pada nutrisi kartilago artikuer.
Kartilago menjadi nekrosis.
Tingkat erosi dari
kartilago menentukan tingkat ketidakmampuan sendi. Bila kerusakan
kartilago sangat luas maka terjadi adhesi diantara permukaan sendi, karena
jaringan fibrosa atau tulang bersatu (ankilosis). Kerusakan kartilago dan
tulang menyebabkan tendon dan ligamen jadi lemah dan bisa menimbulkan
subluksasi atau dislokasi dari persendian. Invasi dari tulang sub
chondrial bisa menyebkan osteoporosis setempat.
Lamanya Reumatoid arthritis
berbeda pada setiap orang ditandai dengan adanya masa serangan dan tidak adanya
serangan. Sementara ada orang yang sembuh dari serangan pertama dan selanjutnya
tidak terserang lagi. Namun pada sebagian kecil individu terjadi progresif yang
cepat ditandai dengan kerusakan sendi yang terus menerus dan terjadi vaskulitis
yang difus (Long, 1996)
2.4 Tanda dan Gejala
Gejala
yang paling sering terjadi yaitu nyeri sendi dan kekakuan sendi yang memburuk
pada pagi hari setelah bangun tidur dan setelah duduk lama. Kekakuan biasanya
membaik dengan gerakan. Gejala cenderung hilang timbul.
Gejala
lain dapat berupa: mata gatal atau sensasi terbakar, lelah, ulkus kaki,
penurunan nafsu makan, baal dan kesemutan, sesak, nodul kulit, kelemahan dan
demam. Sendi dapat memerah, bengkak, nyeri, berubah bentuk dan terasa hangat.
2.5 MenifestasiKlinis
Manifestasi klinis
reumatoid sangat bervariasi dan biasanya mencerminkan stadium serta berat nya
penyakit. Gambaran klinis yang klasik untuk reumatoid yaitu rasa nyeri,
pembengkakan, panas, eritema dan gangguan fungsi pada sendi.
Jika ditinjau dari stadium penyakit, terdapat tiga
stadium yaitu:
1.
Stadium
sinovitis
Pada
stadium ini terjadi perubahan dini pada jaringan sinovial yang ditandai hiperemi, edema karena kongesti,
nyeri pada saat bergerak maupun istirahat, bengkak dan kekakuan.
2.
Stadium
destruksi
Pada
stadium ini selain terjadi kerusakan pada jaringan sinovial terjadi juga pada
jaringan sekitarnya yang ditandai adanya kontraksi tendon.
3.
Stadium
deformitas
Pada
stadium ini terjadi perubahan secara progresif dan berulang kali, deformitas dan gangguan fungsi secara
menetap.
Keterbatasan fungsi sendi dapat terjadi sekalipun dalam stadium
penyakit yang dini sebelum terjadi perubahan tulang dan ketika terdapat reaksi
inflamasi yang akut pada sendi-sendi tersebut. Deformitas tangan dan kaki
sering dijumpai pada reumatoid, deformatis dapat disebabkan oleh
ketidaksejajaran sendi (misaligment) yang terjadi akibat pembengkakan,
destruksi sendi yang progresif atau sub lokasio (dislokasi parsial) yang
terjadi ketika sebuah tulang tergeser terhadap lainnya dan menghilangkan rongga
sendi.
Reumatoid merupakan
penyakit sistemik dengan gejala ekstra-artikuler yang multipel. Gejala yang
paling sering ditemukan adalah demam, penurunan berat badan, keadaan mudah
lelah, anemia, pembesaran kelenjar limfe. Gejala ekstra-artikuler lainnya
mencakup arteritis, neuropati, skleritis, perikarditis, splenomegali dan
sindrom Sjogren (mata serta membran mukosa yang kering).
2.6.Komplikasi
Reumatoid adalah
penyakit sistemik yang dapat mempengaruhi bagian lain dari luar tubuh selain
sendi, efek ini meliputi :
a. Dapat
menimbulkan perubahan pada jaringan lain seperti adanya prosesgranulasi dibawah
kulit yng disebut subcutan nodule.
b. Sistem
muskuloskeletal : pada otot daapat terjadi myosis karena proses granulasi
jaringan otot dan osteoporosis.
c. Sistem
pembuluh darah : tromboemboli adalah adanya sumbatan pada pembuluh darah yang
disebabkan oleh adanya darah yang membeku.
d. Spenomegali
: spenomegalimerupakan pembesaran limfa, jika limfa membesar kemampuannya untuk
menangkap dan menyimpan sel-sel darah akan meningkat.
e. Sistem
pencernaan : pada sistem pencernaan yang sering dijumpai adalah gastritis dan
ulkus peptik yang merupakan komplikasi utama penggunaan obat nti inflamasi non
steroid (OAINS) yang menjadi faktor penyebab morbiditas dan mortalitas utama
pada reumatoid.
f. Komplikasi
saraf yang terjaadi memberikan gambaran jelas sehingga sukar dibedakan antara
akibat lesi artikuler dan lesi neuropatik.
g. Infeksi
: pasien dengan reumatoid memiliki risiko lebih besar untuk infeksi. Obat
imunosupresif akan lebih meningkatkan risiko.
h. Penyakit
paru-paru : dikaitkan dengan merokok.
i.
Sindrom felty : kondisi ini ditandai dengan spenomegali dan
infeksi bakteri berulang.
j.
Limfoma dan kanker lainnya : terkait
dengan perubahan sistem kekebalan tubuh.
2.7 Penatalaksanaan
Setelah diagnosis AR dapat ditegakkan, penderita pertama yang harus
adalah segera berusaha untuk membina hubungan yang baik antara pasien dan
keluarganya dengan dokter atau tim pengobatan yang merawatnya.
1.
Pendidikan pada
pasien mengenai penyakitnya dan penatalaksanaan yang akan dilakuykan sehingga
terjalin hubunggan baik dan terjamin ketaatan pasien.
2.
OAINS diberikan
sejak dini untuk mengatasi nyeri sendi akibat inflamasi yang sering dijumpai.
OAINS yang dapatdiberikan :
a.
Aspirin; pasien
dibawah 50 tahun dapat dimulai dengan dosis 3-4 x 1 g/hari, kemudian dinaikkan
0,3-0,6 g/minggu sampai terjadi perbaikan atau gejala toksik. Dosis terapi
20-30 mg/dl.
b.
Ibuprofen,
naproksen, piroksikam, diklofenak, dan sebagainya.
3.
DMARD
(disease-modifying antirheumatic drugs) digunakan untuk melindugi rawan sendi
dan tulang dari proses destruksi akibat artritis reumatoid. Mula khasiatnya
baru terlihat setelah 3-12 bulan kemudian. Setelah 2-5 tahun, maka
efektivitasnya dalam menekan proses reumatoid akan berkurang. Jenis-jenis yang
digunakan adalah:
a.
Klorokuin;
paling banyak digunakan karena harganya terjangkau, namun efektivitasnya lebih
rendah dibandingkan dengan yang lain. Dosis anjuran klorokuin fosfat 250 mg/hari, hidrosiklorokuin 400
mg/hari.
b.
Sulfasalazin
dalam bentuk tablet bersalut enteric digunakan dalam dosis 1 x 500 mg/hari,
ditingkatkan 500 mg/minggu, sampai mencapai dosis 4 x 500 mg. Setelah remisi
tercapai, dosis dapat diturunkan hingga 1 g/hari untuk dipakai dalam jangka
panjang sampai tercapai remisi sempurna. Jika dalam waktu 3 bulan tidak
terlihat khasiatnya, obat ini dihentikan dan diganti dengan yang lain, atu
dikombinasi.
c.
D-penisilamin,
kurang disukai karena bekerja sangat lambat. Digunakan dalam dosis 250-300
mg/hari, kemudian dosis ditingkatkan setiap 2-4 minggu sebesar 250-300 mg/hari
untuk mencapai dosis total 4x 250-300 mg/hari.
d.
Garam emas
adalah gold standard bagi DMARD. Khasiatnya tidak diragukan lagi meski sering
timbul efek samping. Auro sodium tiomalat (AST) diberikan intramuskular,
dimulai dengan dosis percobaan pertama sebesar 10 mg, seminggu kemudian dosis
kedua 20 mg. Seminggu kemudian diberikan dosis penuh 50 mg/minggu selama 20
minggu. Dapat dilanjutkan dengan dosis tambahan sebesar 50 mg tiap 2 minggu
sampai 3 bulan. Jika diperlukan, dapat diberikan dosis 50 mg setiap 3 minggu
sampai keadaan remisi tercapai.
e.
Obat
imunosupresif atau imunoregulator; Metotreksat sangat mudah digunakan dan waktu
kerjanya relatif pendek. Dosis dimulai 5-7,5 mg setiap minggu. bila dalam 4
bulan tidak menunjukan perbaikan, dosis harus ditingkatkan. Dosis jarang
melebihi 20 mg/minggu. penggunaan siklosporin untuk artritis reumatoid masih
dalam penelitian.
f.
Kortikosteroid
hanya dipakai untuk pengobatan artritis reumatoid dengan komplikasi berat dan
mengancam jiwa, seperti vaskulitis, karena obat ini memiliki eveksamping yang
sangat berat. Dalam dosis rendah (seperti prednison 5-7,5 mg satu kali sehari)
sangat bermanfaat sebagai bridging therapy dalam mengatasi sinovitis sebelum
DMARD mulai bekerja, yang kemudian dihentikan secara bertahap. Dapat diberikan
suntikan kortikosteroid intraartikularbjika terdapat peradangan yang berat.
Sebelumnya, infeksi harus disingkirkan terlebih dahulu.
4.
Riwayat
penyakit alamiah
Pada umumnya 25% pasien akan mengalami manifestasi panyakit yang
bersifat monosiklik (hanya mengalami satu episode AR dan selanjutnya akan
mengalami remisi sempurna). Pada pihak lain sebagian besar pasien akan menderita
penyakit ini sepanjang hidupnya dengan hanya diselingi oleh beberapa masa
remisi yang singkat (jenis polisiklis). Sebagian kecil lainnya akan menderita
AR yang progresif yang disertai dengan penurunan kapasitas fungsional yang
menetap pada setiap eksaserbasi. Sampai saat ini belum berhasil dijumpai obat
yang bersifat sebagai disease controlling antirheumatic therapy
(DC-ART).
5.
Rehabilitas
Rehabilitas merupakan tindakan untuk mengembalikan tinggkat
kemampuan pasien AR dengan tujuan:
a.
Mengurangi rasa
nyeri
b.
Mencegah
terjadinya kekakuan dan keterbatasan gerak sendi
c.
Mencegah
terjadinya atrofi dan kelemahan otot
d.
Mencegah
terjadinya deformitas
e.
Meningkatkan
rasa nyaman dan kepercayaan diri
f.
Mempertahankan
kemandirian sehingga tidak bergantung kepada orang lain.
Rehabilitas
dilaksanakan dengan mengistirahatkan sendi yang terlibat, latihan serta dengan
menggunakan modalitas terapi fisis seperti pemanasan, pendinginan, peningkatan
ambang rasa nyeri dengan arus listris.
2.8 Pengkajian
1.
Aktifitas/istirahat
Gejala : Nyeri sendi karena gerakan, nyeri tekan, memburuk dengan
stres pada sendi; kekakuan pada pagi hari, biasanya terjadi bilateral dan
simetris. Limitasi fungsional yang berpengaruh pada gaya hidup, waktu senggang,
pekerjaan, keletihan.
Tanda : Malaise, keterbatasan rentang gerak, atrofi otot, kulit,
kontraktor/ kelaianan pada sendi.
2.
Kardiovskuler
Gejala: Fenomena Raynaud jari tangan/ kaki ( mis: pucat
intermitten, sianosis, kemudian kemerahan pada jari sebelum warna kembali
normal).
3.
Integritas ego
Gejala: Faktor-faktor stres akut/ kronis: mis; finansial,
pekerjaan, ketidakmampuan, faktor-faktor hubungan. Keputusan dan
ketidakberdayaan ( situasi ketidakmampuan ). Ancaman pada konsep diri, citra
tubuh, identitas pribadi ( misalnya ketergantungan pada orang lain).
4.
Makanan/ cairan
Gejala: Ketidakmampuan untuk menghasilkan/ mengkonsumsi
makanan/cairan adekuat: mual, anoreksia, kesulitan untuk mengunyah.
Tanda: Penurunan berat badan, kekeringan pada membran mukosa.
5.
Hygiene
Gejala: Berbagai kesulitan untuk melaksanakan aktivitas perawatan
pribadi, ketergantungan
6.
Neurosensori
Gejala: Kebas, semutan pada tangan dan kaki, hilangnya sensasi pada
jari tangan
Tanda: Pembengkakan sendi simetris
7.
Nyeri/
kenyamanan
Fase akut dari nyeri (mungkin tidak disertai oleh pembengkakan
jaringan lunak pada sendi).
8.
Keamanan
Kulit mengkilat, tegang, nodul subkutan, lesi kulit, ulkus kaki.
Kesulitan ringan dalam menangani tugas/pemeliharaan rumah tangga. Demam ringan
menetap kekeringan pada mata dan membran mukosa.
2.9 Rencana Asuhan Keperawatan
Diagnosa Keperawatan
- Gangguan rasa nyaman : nyeri akut b.d agen cedera fisik .
- Hambatan mobilitas fisik b.d Nyeri, gangguan muskulus skeletal, kaku sendi, gangguan sensori perseptual.
- Kurang pengetahuan, ketidak tahuan tentang penyakit b.d Kurang informasi dan keterbatasan kemampuan mencapai informasi
Rencana Keperawatan
|
No
|
Dx. keperawatan
|
Tujuan
|
Perencanaan
|
|
|
Intervensi
|
Rasional
|
|||
|
1
|
Gangguan
rasa nyaman : nyeri akut b.d agen cedera fisik.
|
Setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam 3 x 24 jam masalah
keperawatan gangguan rasa nyaman : nyeri akut dapat teratasi.
Kriteria
Hasil :
1.
Klien melaporkan penurunan nyeri.
2.
Menunjukkan perilaku yang lebih relaks.
3.
Memperagakan keterampilan reduksi nyeri yang
dipelajari dengan peningkatan keberhasilan.
4.
Skala nyeri 0-1 atau teradaptasi.
|
1. Kaji karakteristik
nyeri
2. anjurkan klien untuk
mandi air hangat, kompres sendi- sendi yang sakit dengan kompres hangat
3. Ajar teknik relaksasi nafas
dalam
4. Ciptakan lingkungan yang nyaman
5. Kolaborasi pemberian obat
analgetik
|
1. Membantu dalam
menentukan kebutuhan manajemen nyeri dan keefektifan progra
2. Panas meningkatkan
relaksasi otot dan mobilitas, menurunkan rasa sakit.
3. Merelaksasi otot-otot tubuh
4. Lingkungan yang nyaman dapat
memberikan ketenangan pada klien
5. Untuk menghilangkan rasa nyeri
|
|
2
|
Hambatan
mobilitas fisik b.d Nyeri, gangguan muskulus skeletal, kaku sendi, gangguan
sensori perceptual
|
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan dalam 3 x 24 jam masalah keperawatan hambatan
mobilitas fisik dapat teratasi.
Kriteria hasil :
1. Klien dapat mengungkapkan bertambahnya
kekuatan dan daya tahan ekstremitas
2. Mempertahankan mobilitas
|
1. Ajarkan dan
panatau pasien dalam hal penggunaan alat bantu
2. Pertahankan
istirahat tirah baring/ duduk jika diperlukan
3. Bantu ADL paien
4. Ajarkan dan
dukung pasien dalam latihan mobilisasi
|
1. Menilai batasan kemampuan aktivitas
2.
Istirahat sistemik dianjurkan selama eksaserbasi akut dan seluruh fase
penyakit yang penting untuk mencegah kelelahan mempertahankan kekuatan
3.
Memudahkan
pasien dalam melakukan kegiatan sehari-hari
4.
Memperthankan/meningkatkan
kekuatan dan ketahanan otot
|
|
3
|
Kurang pengetahuan, ketidak tahuan tentang penyakit b.d Kurang
informasi dan keterbatasan kemampuan mencapai informasi,
|
Setelah dilakuka
tindakan keperawatan dalam 3 x 24 jam masalah keperawatan kurang pengetahuan
dapat teratasi.
Kriteria hasil :
klien
dapat mengetahui pengetahuan tentang penyakit
|
1.
Kaji tingkat pengetahuan
klien
2.
Berikan pendidikan
kesehatan tentang cara mencegah dan mengatasi reumathoidartritis
3.
Evaluasi tingkat
pengetahuan klien
|
1. Mengetahui tingkat pengetahuan klien
2.
Menambah pengetahuan
pasien tentang penyakit yang dideritanya
3.
Mengetahui sejauh mana
klien memahami tentang penyakit yang dideritanya
|
BAB
III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Reumatoid merupakan penyakit inflamasi sistemik kronis
yang tidak diketahui penyebabnya, diakrekteristikan oleh kerusakan dan
ploriferasi membran sinofial yang menyebabkan kerusakan pada tulang sendi,
ankilosis, dan deformitas.
Penyebab utama penyakit artritis
reumatoid masih belum diketahui secara pasti. Ada beberapa teori yang
dikemukakan sebagai penyebab artritis reumatoid, yaitu: infeksi sptertokkus
hemolitikus dan streptokkus non hemolitikus, endokrin, autoimun, metabolik,
daan faktor genetik serta pemicu lingkungan.
Jika pasien atritis reumatoid tidak
di istirahatkan maka penyakit ini akan berkembang menjadi empat tahap yaitu
terdapat radang sendi dengan pembengkakan membran sinofial dan kelebihan produksi
cairan sinofial, secara radiologis, kerusakan tulang pipih atau tulang rawan
dapat dilihat, jaringan ikat fibrosa yang keras menggantikan pannus, sehingga
mengurangi ruang gerak sendi, ankilosis fibrosa mengakibatkan penurunan gerakan
sendi, perubahan kesejajaran tubuh, dan defoitas. Secara radiologis terlihat
adanya kerusakan kartilago dan tulang.
Masalah keperawatan yang mungkin
muncul adalah nyeri, gangguan mobilitas fisik, gangguan body image, kurang
perawatan diri, resiko cedera, dan kurang pengetahuan.
4.1
Saran
Rheumatoid
dapat menyerang segala usia maka penanganan penyakit ini diupayakan secara
maksimal dengan peningkatan mutu pelayanan kesehatan baik melalui tenaga
kesehatan, prasarana dan sarana kesehatan.
Daftar Pustaka
Doengoes E Marilynn. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. EGC: Jakarta.
Smeltzer, Suzzanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. EGC: Jakarta.
Marilyn E. Doenges dkk. Rencana Asuhan Keperaawatan edisi 3. EGC: Jakarta, 1999.
Mansjoer,
Arif. Kapita Slekta Kedokteran edisi 3
jilid 2. Jakarta : Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia, 2000.
Smeltzer,
Suzanne C. dan Bare, Brenda G.2002.Buku
Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Brunner dan Suddarth (Ed.8, Vol. 1,2).Alih
bahasa oleh Agung Waluyo (dkk).EGC.Jakarta.
Long,
Barbara C.1996.Perawatan Medikal Bedah,(Volume
2). Penerjemah: Karnaen, Adam, Olva, dkk.Bandung.Yayasan Alumni Pendidikan
Keperawatan.
Herdaman,
Heather T. Nursing Diagnoses Definition
& Classification 2012-2104. EGC: Jakarata
Huda, Amin N dan Kusuma, Hardhi.2013.Aplikasi NANDA NIC-NOC.Yogyakarta.Medactio
Tidak ada komentar:
Posting Komentar