PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Meningitis
dan Ensefalitis merupakan penyakit yang menyerang sistem saraf. Kebanyakan
penyakit ini menyerang pada anak-anak. Banyak yang tidak mengetahui
sesungguhnya kedua penyakit ini berbeda meskipun sebenarnya mirip.
Meningitis
adalah radang membran pelindung sistem saraf pusat. Penyakit ini dapat
disebabkan oleh mikroorganisme, luka fisik, kanker, obat-obatan tertentu.
Meningitis adalah penyakit serius karena letaknya dekat dengan otak dan tulang
belakang, sehingga dapat menyebabkan kerusakan kendali gerak, pikiran bahkan
kematian. Kebanyakan kasus meningitis disebabkan oleh mikroorganisme, seperti
virus, bakteri, jamur, atau parasit yang menyebar dalam darah ke cairan otak.
Meningitis tergolong penyakit serius dan
bisa mengakibatkan kematian. Data WHO menunjukkan bahwa sekitar 1,8 juta
kematian anak balita diseluruh dunia setiap tahun, lebih dari 700.000 kematian
anak terjadi di negara kawasan Asia Tenggara dan pasifik Barat.
Sedangkan
Ensefalitis adalah peradangan akut otak yang disebabkan oleh infeksi virus.
Terkadang ensefalitis dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, seperti meningitis
atau komplikasi dari penyakit lain seperti rabies (disebabkan oleh virus) atau
sifilis (disebabkan oleh bakteri). Penyakit parasit dan protozoa seperti
toksoplasmosis, malaria, atau primary amoebic meningoencephalitis, juga dapat
menyebabkan pada orang yang sistem kekebalan tubunya kurang. Kerusakan otak
terjadi karena otak terdorong terhadap tengkorak dan menyebabkan kematian. Di
Hokkaido Jepang sepanjang tahun 1994-1995 terdapat 12 kasus acute onset brain
dysfunction yang secara klinis didiagnosis sebagai ensefalitis dan
ensefalopati. Tidak ada satupun dari 12 kasus ini yang memiliki riwayat
penyakit kronis yang dapat memicu komplikasi infeksi virus influenza.
Dalam
sebuah penelitian yang dilakukan di RSCM Jakarta didapatkan sebuah hasil bahwa
dari 95 penderita ensefalitis karena infeksi virus. Dalam penelitian yang
menggunakan metode yang spesifik dan sensitive yaitu ELISA diketemukan hanya 9
spesimen yang positif artinya ensefalitis disebabkan oleh virus Japanese
Encephalitis. Angka kematian untuk ensefalitis masih tinggi, berkisar antara
35-50%. Penderita yang hidup 20-40% mempunyai komplikasi atau gejala sisa yang
melibatkan sistem saraf pusat yang dapat mengenai kecerdasan, motoris,
psikiatrik, epilepsi, penglihatan atau pendengaran bahkan sampai siste
kardiovaskuler.
1.2
Tujuan
1. Tujuan
Umum
Untuk pembelajaran Mata Kuliah KMB II, pada
sub bab sistem persyarafan yang terfokus pada asuhan keperawatan pada kasus Ensefalitis
dan Meningitis.
2. Tujuan
Khusus
a. Agar
dapat mengetahui, menjelaskan dan memahami definisi pada kasus Ensefalitis dan
Meningitis.
b. Agar
dapat mengetahui, menjelaskan dan memahami etiologi pada kasus Ensefalitis dan
Meningitis.
c. Agar
dapat mengetahui, menjelaskan dan memahami tanda dan gejala pada kasus Ensefalitis
dan Meningitis.
d. Agar
dapat mengetahui, menjelaskan dan memahami patofisiologi
pada kasus Ensefalitis dan Meningitis.
e. Agar
dapat mengetahui, menjelaskan dan memahami komplikasi pada kasus Ensefalitis
dan Meningitis.
f. Agar
dapat mengetahui, menjelaskan dan memahami penatalaksanaan medis pada kasus Ensefalitis dan Meningitis.
g. Agar
dapat mengetahui, menjelaskan dan memahami pemeriksaan penunjang pada
kasus Ensefalitis dan Meningitis.
h. Agar
dapat mengetahui, menjelaskan, memahami dan menerapkan asuhan keperawatan pada
kasus Ensefalitis dan Meningitis.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Ensefalitis
2.1.1
Definisi
Ensefalitis
adalah radang jaringan
otak yang dapat disebabkan oleh bakteri, cacing, protozoa, jamur, riketsia, atau virus. (
kapita selekta kedokteran jilid 2,2000).
Ensefalitis
adalah infeksi jaringan atas oleh berbagai macam mikroorganisme ( ilmu kesehatan anak, 2006).
Encephalitis
infeksi yang mengenai CNS
yang disebabkan oleh virus atau mikroorganisme lain yang non-prulen (+)
(pedoman diagnosis dan terapi, 2002)
2.1.2
Etiologi
1. Ensefalitis
supuratif akut
Bakteri
penyebab ensefalitis adalah staphylococcus aureus, strepthococcus, E.coli, M. Tuberculosa, dan T.
Pallidium. Tiga bakteri pertama merupakan penebab ensefalitis bakterial
akut yang menimbulkan pemnahan pada korteks serebri sehingga terbentuk abses
serebri. Ensefalitis bakterial akut sering disebut ensefalitisvsupuratif akut.
2. Ensefalitis
sifilis
Kuman
yang menyebabkan ensefalitis sifilis adalah kuman: treponema pallidium, infeksi terjadi melalui permukaan tubuh
umumnya sewaktu kontak
seksual.
3. Ensefalitis
virus
Virus
yang menyebabkan ensefalitis virus adalah virus RNA ( virus parotitis, virus morbili, virus rubela,virus rabies, virus ensefalitis jepang B, virus dengue, virus polio, cocksakie A, cocksakie B, echovirus, dan virus koriomeningitis limfositaria )
dan virus DNA (
virus herpes zooster-
varisela, herves simpleks, cytomegalovirus, variola, vaksinia dan AIDS).
2.1.3
Patofisiologi
2.1.4
Manifestasi
Klinis
Tanda dan gejala
ensefalitis tergantung dari penyebabnya, masing-masing berneda. Namun secara
umum tanda dan gelaja ensefalitis tang timbul adalah :
a.
Nyeri kepala, photofobia, nyeri sendi, leher dan pinggang
b.
Kesadaran menurun
c.
Sering mengantuk
d.
Vomitus (demam)
e.
Adanya tanda-tanda iritasi cerebral
f.
Peningkatan tekanan intra cranial
g.
Kejang, tremor, aphasia
h.
Nyeri tenggorokan dan ekstremitas
i.
Malaise
j.
Pucat
2.1.5
Komplikasi
Komplikasi yang dapat
muncul pada kasus enchepalitis adalah :
a.
Retradasi mental
b.
Gangguan motorik
c.
Epilepsy
d.
Emosi tidak stabil
e.
Sulit tidur
f.
Halusinasi
2.1.6
Penatalaksanaan
Medis
Penatalaksanaan
medis meliputi: tindakan
isolasi atau pengontrolan infeksi sebagaimana indikasi dari organisme,
pemberian obat-obatan antibiotik,
analgesik, antikejang, antipiretik, dukungan ventilator/ oksigen, terapi cairan/ elektrolit.
Terapi
yang diberikan pada klien dengan gangguan ensefalitis adalah ampisilin 4x3-4 g dan kloromisetin 4x1 g per 24 jam
intravena, selama 10 hari. Bersama dengan antibiotika dapat diberikan kortison untuk mengurangi edema otak.
Bila abses besar dan operabel, dapat dipertimbangkan eksisi.
2.1.7
Pemeriksaan
Diagnostik
Pemeriksaan
dilakukan seperti biasanya pada penyakit infeksi. Selain itu EEG, foto Rontgen
kepala, bila mungkin scan tomografik
otak, jika diperlukan arteriografi. Fungsi lumbal tidak dilakukan bila ada
edema papil, cairan otak menunjukkan tanda-tanda radang akuta, sub akuta atau
radang kronik, kadar protein meningkat. Tekanan likuor serebrospinalis dapat
meningkat.
2.1.8
Konsep
Asuhan Keperawatan Ensefalitis
2.1.8.1
Pengkajian
1. Anamnesis
a. Biodata
b. Keluhan
Utama
1) Demam
2) Kejang
c. Riwayat
Kesehatan Sekarang
Demam, kejang, sakit
kepala, pusing, nyeri tenggorokan, malaise, nyeri ekstremitas, pucat, gelisah,
perubahan perilaku dan gangguan kesadaran.
d.
Riwayat Kesehatan Masa Lalu
Klien sebelumnya
menderita batuk, pilek
kurang dari 1-4 hari, pernah menderita penyakit herpes, peyakit infeksi pada hidung, telinga dan tenggorokan.
e.
Riwayat Penyakit Keluarga
Keluarga ada yang
menderita penyakit yang disebabkan oleh virus contohnya herpes. Bakteri contohnya staphylococcus
Aureus, Streptococcus, E Coli dan lain-lain.
2. Pola-pola
fungsi Kesehatan
a. Pola
persepsi dan tata laksana hidup sehat
1) Kebiasaan.
Sumber air yang digunakan dari PAM atau
sumur, kebiasaan buang air besar di toilet umum yang tempatnya kumuh.
2) Status
Ekonomi
Biasanya menyerang klien dengan status
ekonomi rendah.
b. Pola
fungsi kesehatan
1) Pola
nutrisi dan metabolime
Nafsu makan menurun, anoreksia, nyeri
tenggorokan dan berat badan menurun.
2) Pola
istirahat dan tidur
Keterbatasan rentang gerak akan
mempengaruhi pola aktifitas.
3) Pola
eliminasi
Kebiasaan defekasi sehari-hari ( pada
klien dengan enchepalitis karena tidak dapat melakukan mobilisasi maka dapat
terjadi konstipasi). Kebiasaan BAK sehari ( biasanya frekuensinta miksi
normal). Jika kebutuhan cairan tidak terpenuhi maka produksi urine akan
menurun, konsentrasi urine pekat.
4) Pola
hubungan dan peran
Biasanya interaksi pada keluarga atau
orang lain akan berkurang , karena kesadaran klien mulai menurun dari apatis
sampai koma.
5) Pola
penanggulangan stress
Akan cenderung mngeluh dengan keadaan
dirinya ( stress).
3. Pemeriksaan
Fisik
Setelah melakukan
anamnesis yang mengarah pada keluhan-keluhan klien, pemeriksaan fisik sangat
berguna untuk mendukung data dari pengkajian anamnesis. Pemeriksaan fisik
sebaiknya dilakukan persistem (B1-B6) dengan focus pemeriksaan fisik pada
pemeriksaan B3 (Brain) yang terarah dan dihubungkan dengan keluhan-keluhan dari
klien.
Pemeriksaan fisik
dimulai dengan memeriksa tanda-tanda vital (TTV) pada klien enchepalitis
biasanya didapatkan peningkatan suhu tubuh lebih dari normal 39-40oC. keadaan ini biasanya
dihubngkan denga proses inflamasi
dari selaput otak yang sudanh mengganggu pusat pengatur suhu tubuh. Penurunan denyut nadi
terjadi berhubungan dengan tanda-tanda peningkatan TIK. Apabila disertai peningkatan frekuensi pernapasan
sering berhubungan dengan peningkatan
laju metabolisme umum dan adanya infeksi pada sistem pernafasan sebelum
mengalami enchepalitis. Tekanan darah biasanya normal atau meningkat
berhubungan denagn tanda-tanda
peningkatan TIK.
a.
B1 (Breathing)
Inspeksi apakan klien
batuk, produksi sputum, sesak nafas, penggunaan otot bantu nafas, dan
peningkatan frekuensi pernafasan yang sering didapatkan pada klien ensefalitis
yang sering disertai adanya gangguan pada sistem pernafasan. Palpasi biasanya
taktil premitus seimbang kanan dan kiri. Auskultasi bunyi nafas tambahan seperti
ronkhi pada klien
denga ansefalitis berhubungan akumulasi secret dari penurunan kesadaran.
b.
B2 ( Blood)
Pengkajian
pada sistem kardiovaskuler
didapatkan renjatan(syok)
hipovolemik yang sering terjadi pada klie ensefalitis.
c.
B3 (Brain)
Pengkajian brain
merupakan pemeriksaan focus dan lebih lengkap dibandingkan pengkajian pada
sistem lainnya.
1)
Tingkat Kesadaran
Pada
keadaan lanjut tingkat kesadaran klien ensefalitis biasanya berkisar pada tingkat letargi, stupor, semi
komatosa. Apabila klien
sudah mengalami koma maka penilaian GCS sangat penting untuk menilai tingkat
kesadaran klien dan bahan evaluasi untuk memantau pemberian asuhan keperawatan.
2)
Fungsi Serebri
Pada
status mental observasi penampilan klien dan tingkah lakunya, niali gaya bicara
klien dan observasi ekspresi wajah dan aktiftas motorik. Pada klien ensefalitis
tahap lanjut boasanya status
mental klien mengalami perubahan.
3)
Pemeriksaan Saraf Kranial
a. Saraf
I
Fungsi penciuman biasanya tidak ada
kelainan
b. Saraf
II
Tes ketajaman pengelihatan pada kondisi
normal. Pemeriksaan papil edema mungkin didapatkan terutama pada ensefalitis
supuratif disertai abses serebri dan efusi subdural yang menyebabkan terjadinya
peningkatan TIK.
c.
Saraf III, IV,VI
Pemeriksaan fungsi dan reaksi pupil pada
klien ensefalitis yang disertai penurunan kesadran biasanya tanpa kelainan. Pada tahap lanjut
ensefalitis yang telah mengganggu kesadran, tanda-tanda perubahan dari fungsi
dan reaksi pupil akan di dapatkan. Dengan alasan tidak diketahui, klien
ensefalitis mengeluh mengalami sensitive yang berlebihan terhadap cahaya.
d.
Saraf V
Pada klien ensefalitis didapatkan
paralisis pada otot sehingga mengganggu
proses mengunyah.
e.
Saraf VII
Persepsi pengecapan dalam batas normal, wajah asimetri karena adanya
paralisis unilateral.
f. Saraf
VIII
Tidak ditemukan adanya tuli kondungtif,
dan tuli persepsi
g.
Saraf IX, X
Kemampuan menelan kurang baik sehingga
mengganggu pemenuhan nutrisi via oral.
h. Saraf
XI
Tidak atrofi otot sternokleidomastoideus
dan trapezius. Adanya usaha dari klien untuk melakukan fleksi leher dan kaku
kuduk.
i.
Saraf XII
Lidah simetris, tidak ada deviasi pada
satu sisi dan tidak ada fasikulasi. Indera pengecap normal.
j.
Saraf motorik
Kekuatan
otot menurun, control kesimbangan dan koordinasi pada
ensefalitis tahap lanjut terjadi perubahan.
k.
Pemeriksaan Reflek
Pemeriksaan reflex dada, pengetukan pada
tendon, ligamentum atau periosteum derajat reflek pada respon normal. Reflex patologis akan didapatkan pada klien ensefalitis dengan
tingkat kesadaran koma.
l.
Gerakan Involunter
Tidak ditemukan adanya tremor, Tic, dan
distonia. Pda kesadaran tergantung klien mengalami kejang umum, terutama pada
anak dengan ensefalitis disertai peningkatan suhu tubuh yang tinggi. Kejang dan
peningkatan TIK juga berhubungan dengan ensefalitis. Kejang terjadi sekunder
akibat area fokal kortikal yang peka.
m. Sistem
Sensorik
Pemeriksaan sensorik pada ensefalitis
biasanya didapatkan perasaan raba normal, perasaan nyeri normal, perasaan suhu
normal, tidak adanya perasaan abnormal dipermukaan tubuh, perasaan
diskriminatif normal. Peradangan pada selaput otak mengakibatkan sejumlah tanda
yang mudah dikenali pada ensefalitis. Tanda tersebut adalah kaku kuduk, yaitu
ketika adanya upaya untuk fleksi kepala mengalami kesukaran adanya spasme
otot-otot leher.
d.
B4 (Bladder)
Pemeriksaan
pada sistem perkemihan biasanya didapatkan berkurangnya volume keluaran urin, hal ini berhubungan dengan penurunan perfusi dan penurunan
curah jantung ke ginjal.
e.
B5 (Bowel)
Mual
sampai muntah
dihubungkan dengan peningkatan
produksi asam lambung. Pemenuhan nutrisi pada klien ensefalitis menurun
karena anoreksia dan adanya kejang.
f.
B6 (Bone)
Penurunan
kekuatan otot dan penurunan tingkat kesadaran menurunkan mobliitas klien secara umum. Dalam
upaya pemenuhan kebuthan sehari-hari klien lebih banyak dibantu orang lain.
2.1.8.2
Diagnosa
1. Hipertermi berhubungan
dengan penyakit
ditandai dengan kejang, gelisah, dan kulit terasa hangat.
2. Nyeri akut berhubungan
dengan agen cedera biologis ditandai
dengan infeksi.
3. Hambatan mobilitas fisik berhubungan
dengan gangguan neuromuskuler ditandai
dengan penurunan kemampuan melakukan keterampilan motorik.
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat ditandai
dengan anoreksia, kelemahan otot mengunyah dan menelan.
5. Resiko ketidakefektifan perfusi
jaringan cerebral berhubungan dengan penurunan kesadaran.
2.1.8.3
Rencana
Asuhan Keperawatan
|
No
|
Diagnosa Keperawatan
|
Tujuan
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
1
No
|
Hipertermi
berhubungan dengan penyakit ditandai dengan kejang, gelisah, dan kulit terasa
hangat
Diagnosa keperawatan
|
Setelah diberikan tindakan asuhan
keperawatan selama 3x24 jam, masalah keperawatan hipertermi teratasi dengan
kriteria hasil:
1. Suhu
normal 36,5-37,5oC
2. Kulit
pasien terlihat lembab dan turgor kulit kembali normal (normal < 2 detik).
3. TTV
dalam batas normal (TD: 120/80 mmHg, S: 36,5-37°C, N: 60-100x/menit, RR:
16-20x/menit).
Tujuan
|
1. Observasi
tanda-tanda vital
2. Berikan
kompres dingin pada lipatan paha dan aksila.
3. Monitor
suhu setiap 2 jam.
Intervensi
4. Monitor
intake dan output.
5. Berikan
obat anti piretik.
|
1.
Untuk mengetahui
keadaan umum pasien dan efek dari peningkatan suhu adalah perubahan nadi,
pernafasan dan tekanan darah.
2.
Lipatan paha dan
aksila dilintasi pembuluh darah besar sehingga mengompres pada daerah
tersebut lebih efektif untuk menurunkan demam atau untuk proses evaporasi.
.
3.
mengetahui
perkembangan suhu pasien.
Rasional
4.
mencegah terjadinya
risiko dehidrasi dan kurangnya nutrisi pada pasien.
5.
untuk menurunkan
demam.
|
|
2
No
|
Nyeri
akut berhubungan dengan agen cedera biologis ditandai dengan infeksi.
Diagnosa
keperawatan
|
Setelah
dilakukan asuhan keperawatan 3 x 24 jam masalah nyeri akut/kronis teratasi
dengan kriteria hasil:
1.
TTV dalam batas
normal (TD: 120/80mmHg, RR: 12-20x/menit, N: 60-100x/menit, S: 36-37,5
derajat Celcius)
2.
Skala nyeri 0 (dari
1-10).
3.
Wajah tidak meringis
kesakitan.
Tujuan
|
1.
Kaji nyeri.
2.
Observasi nyeri.
3.
Monitor TTV.
Intervensi
4.
Anjurkan istirahat yang cukup.
5.
Kolaborasi dalam pemberian analgesik sesuai indikasi.
|
1. Mengetahui
tingkat keparaan nyeri melalui PQRST.
2. Mempertahankan
skala nyeri tidak mengalami keparahan.
3. Perubahan
pada pernapasan (>20x/menit mempunyai resiko ketidakefektifan pola napas.
Perubahan pada nadi
Rasional
(>100x/menit) mempunyai resiko penurunan
curah jantung.
4. Istirahat
yang cukup dapat menenangkandiri terhadap nyeri.
5. Membantu
mengurangi rasa nyeri.
|
|
3
No
|
Hambatan
mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan neuromuskuler ditandai dengan
penurunan kemampuan melakukan keterampilan motorik.
Diagnosa
Keperawatan
|
Setelah diberikan tindakan asuhan
keperawatan selama 3x24 jam, masalah keperawatan hambatan mobilitas fisik
teratasi dengan Kriteria Hasil :
1. Pasien
dapat mempertahankan mobilisasinya secara optimal.
Tujuan
2. Integritas
kulit utuh.
3. Tidak
terjadi kontraktur
|
1. Kaji
kemampuan mobilisasi.
2. Alih
posisi pasien setiap 2 jam
3. Lakukan
ROM pasif
4. Konsul
pada ahli fisioterapi jika
Intervensi
diperlakukan
|
1. Hemiparise
mungkin dapat tejadi
2. Menghindari
kerusakan kulit
3. Menghindari
kontraktur dan atrofi
4. Perencanaan
yang penting lebih lanjut
Rasional
|
|
4
No
|
Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat
ditandai dengan anoreksia, kelemahan otot mengunyah dan menelan.
Diagnosa
Keperawatan
|
Setelah
diberikan asuhan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan pemenuhan nutrisi
pasien terpenuhi dengan Kriteria Hasil:
1. Tidak
ada mual, muntah
2. Intake
nutrisi meningkat
3. Mukosa
mulut normal
4. Bibir
lembab
5. Peningkatan
BB
6. Porsi
makan habis.
Tujuan
|
1. Observasi tanda-tanda vital dan keadaan umum klien.
2. kaji turgor kulit dan mukosa mulut klien.
3. kaji keluhan mual,muntah dan nafsu makan klien.
4. timbang berat badan klien jika memungkinkan.
Intervensi
5. beri makan cair via NGT
6. catata jumlah /porsi makanan yang di habiskan klien
7. beri makanan cair yang mudah di telan seperti bubur
8. kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi parenteral,antiEmetik
|
1. Untuk
mengetahui kesehatan actual klien.
2. Untuk
mengetahui tanda-tanda kekurangan nutrisi.
3. Untuk
mengetahui berat ringannya keluhan,sebagai standar dalam menentukan
intervensi yang tepat.
4. untuk
menilai keadaan nutrisi klien.
Rasional
5. untuk
memenuhi kebutuhan nutrisi.
6. untuk
mengetahui berapa banyak nutrisi yang masuk.
7. mamakanan
yang mudah di telan dapat mengurangi kerja lambung.
8. untuk
mencukupi intake yang kurang dan mengurangi mual dan muntah
|
|
5
No
|
Resiko
ketidakefektifan perfusi jaringan cerebral berhubungan dengan penurunan
kesadaran.
Diagnosa
Keperawatan
|
Setelah diberikan tindakan asuhan
keperawatan selama 3x24 jam, masalah keperawatan ketidakefektifan perfusi
jaringan cerebral teratasi.
Tujuan
Kriteria Hasil :
1.
Tingkat kesadaran normal
(GCS E4 M6 V5)
2.
Pasien kooperatif
dalam pelaksanaan prosedur tindakan
|
1. Kaji
respon terhadap perabaan atau sentuhan, panas atau dingin, tajam atau tumpul
dan catat perubahan
Intervensi
yang terjadi.
2. Kaji
persepsi pasien dan kemampuan orientasi terhadap orang, tempat dan waktu.
3. Berikan
stimulus, seperti menagajak bicara dan berikan sentuhan
4. Berikan
keamanan pasien pada sisi tempat tidur
|
1. Informasi
yang didapat melalui pengkajian penting untuk mengetahui tingkat kegawatan
dan kerusakan otak
Rasional
2. Membantu
untuk memberikan intervensi selanjutnya
3. Untuk
merangsang kembali kemampuan persepsi
4. Untuk
menjaga keselamatan dan mencegah terjadinya resiko injury.
|
2.2
Meningitis
2.2.1
Definisi
Meningitis
adalah radang pada meningen (membrane yang mengelilingi otak dan medulla
spinalis) dan disebabkan oleh virus, bakteri atau organ organ jamur (Smeltzer,
2001).
Meningitis
merupakan infeksi akut dari meninges, biasanya ditimbulkan oleh salah satu
mikroorganisme pneumokok, meningokok, stafilokok, streptokok, hemophilus
influenza dan bahan aseptis (virus) (long, 1996).
Meningitis
adalah peradangan pada
selaput meningen, cairan
serebrospinal dan spinal colum yang menyebabkan proses infeksi pada
sistem saraf pusat (suriadi & rita, 2001).
2.2.2
Etiologi
1.
Bakteri: Mycobacterium
tuberculosa, Diplococcus pneumonia (pneumokok), Neisseria meningitis (meningokok), Streptococcus haemolyticus, Staphylococcus aureus, Haemophilus
influenza, Escherichia coli, Klebsiella pneumonia, pseudomonas aeruginosa.
2. Penyebab
lainnya lues, virus Toxoplasma gondhii dan Ricketsia.
3. Faktor
predisposisi: jenis kelamin laki-laki
lebih sering dibandingkan perempuan.
4. Faktor
maternal: rupture membrane fetal, infeksi maternal pada minggu terakhir kehamilan.
5. Faktor
imunologi: defisiensi
mekanisme imun, defisiensi immunoglobulin.
6. Kelainan sistem saraf pusat,
pembedahan atau injuri yang berhubungan
dengan sistem persarafan.
2.2.3
Patofisiologi
Meningitis bakteri dimulai sebagai infeksi dari
orofaring dan diikuti dengan septikemia, yang menyebar ke meningen otak dan
daerah medulla spinalis bagian atas.
Faktor-faktor predisposisi mencakup infeksi jalan
napas bagian atas, otitis media, mastoiditis, anemia sel sabit dan
hemoglobinopatis lain, prosedur bedah saraf baru, trauma kepala, dan pengaruh
immunologis. Saluran vena yang melalui nasofaring posterior, telinga bagian
tengah, dan saluran mastoid menuju otak dan dekat saluran vena-vena meningen,
semuanya ini penghubung yang menyokong perkembangan bakteri.
Organisme masuk
ke dalam aliran darah dan menyebabkan reaksi radang di dalam meningen dan di bawah daerah
korteks, yang dapat
menyebabkan thrombus dan
penurunan aliran darah serebral. Jaringan serebral mengalami gangguan
metabolisme akibat eksudat meningen, vaskulitis, dan hipoperfusi. Eksudat perulen dapat menyebar sampai dasar otak dan medulla spinalis. Radangn
juga menyebar ke dinding membrane ventriel serebral. Meningitis bakteri
dihubungkan dengan perubahan
fisiologis intracranial, yang terdiri dari peningkatan permeabilitas pada darah, daerah pertahanan
otak (barrier otak), edema serebral dan peningkatan TIK
Pada infeksi akut pasien meninggal akibat toksin
bakteri sebelum terjadi meningitis. Infeksi terbanyak dari pasien ini dengan
kerusakan adrenal, kolaps sirkulasi dan dihubungkan dengan meluasnya hemoragi
(pada sindrom Waterhouse-friderichsen) sebagai akibat terjadinya kerusakan
endotel dan nekrosis pembuluh darah yang disebabkan oleh meningokokus.
2.2.4
Manifestasi
Klinis
Gejala meningitis
diakibatkan dari infeksi dan peningkatan TIK :
1. Sakit kepala dan demam (gejala
awal yang sering).
2. Perubahan pada tingkat kesadaran dapat
terjadi letargik, tidak responsif, dan koma.
3. Iritasi meningen mengakibatkan
sejumlah tanda sbb:
a. Rigiditas
nukal ( kaku leher ).
Upaya untuk fleksi kepala mengalami kesukaran karena adanya spasme otot-otot
leher.
Tanda kernik positip:
ketika pasien dibaringkan dengan paha dalam keadan fleksi kearah abdomen, kaki
tidak dapat di ekstensikan sempurna.
b. Tanda brudzinki :
bila leher pasien di fleksikan maka dihasilkan fleksi lutut dan pinggul. Bila
dilakukan fleksi pasif pada ekstremitas bawah pada salah satu sisi maka gerakan
yang sama terlihat peda sisi ektremita yang berlawanan.
4. Mengalami
foto fobia, atau
sensitif yang berlebihan pada cahaya.
5. Kejang
akibat area fokal kortikal yang peka dan
peningkatan TIK akibat eksudat dan edema
serebral dengan tanda-tanda perubahan karakteristik tanda-tanda
vital(melebarnya tekanan pulsa dan bradikardi), pernafasan tidak teratur, sakit
kepala, muntah dan penurunan tingkat kesadaran.
6. Adanya ruam merupakan ciri menyolok pada meningitis meningokokal.
7. Infeksi
fulminating dengan tanda-tanda septikimia : demam tinggi tiba-tiba muncul, lesi purpura yang
menyebar, syok dan tanda koagulopati intravaskuler diseminata.
2.2.5
Komplikasi
1.
Hidrosefalus obstruktif
2.
MeningococcL Septicemia
( mengingocemia )
3.
Sindrome
water-friderichen (septik syok, DIC,perdarahan adrenal bilateral)
4.
SIADH ( Syndrome
Inappropriate Antidiuretic hormone )
5.
Efusi subdural
6.
Kejang
7.
Edema dan herniasi
serebral
8.
Cerebral palsy
9.
Gangguan mental
10.
Gangguan belajar
11.
Attention deficit
disorder
2.2.6
Penatalaksanaan
Medis
Penatalaksanaan medis lebih bersifat mengatasi
etiologi dan perawat perlu menyesuaikan dengan standar pengobatan sesuai tempat
bekerja yang berguna sebagai bahan kolaborasi dengan tim medis. Secara ringkas
penatalaksanaan pengobatan meningitis meliputi pemberian antibiotic yang mampu melewati barier darah otak ke
ruang subarachnoid
dalam konsentrasi yang cukup untuk menghentikan perkembangbiakan bakteri. Baisanya menggunakan sefaloposforin generasi keempat
atau sesuai dengan hasil
uji resistensi antibiotic agar pemberian antimikroba lebih efektif digunakan.
Obat
anti-infeksi (meningitis tuberkulosa):
1.
Isoniazid 10-20 mg/kgBB/24 jam, oral, 2x sehari maksimal 500 mg
selama 1 setengah tahun.
2.
Rifampisin 10-15 mg/kgBB/24 jam, oral, 1 x sehari selama 1
tahun.
3.
Streptomisin sulfat 20-40 mg/kgBB/24 jam, IM, 1-2 x sehari selama 3 bulan.
Obat
anti-infeksi (meningitis bakterial):
1. Sefalosporin
generasi ketiga
2.
Amfisilin 150-200 mg/kgBB/24 jam IV, 4-6 x sehari
3.
Klorafenikol 50 mg/kgBB/24 jam IV 4 x sehari.
Pengobatan
simtomatis:
1.
Antikonvulsi, Diazepam IV; 0,2-0,5 mgkgBB/dosis, atau rectal: 0,4-0,6 mg/kgBB,
atau fenitoin 5 mg/kgBB/24 jam, 3 x sehari atau Fenobarbital 5-7 mg/kgBB/24
jam, 3 x sehari.
2.
Antipiretik: parasetamol/asam salisilat 10 mg/kgBB/dosis.
3.
Antiedema serebri: Diuretikosmotik (seperti manitol) dapat digunakan
untuk mengobati edema serebri.
4.
Pemenuhan
oksigenasi dengan O2.
5.
Pemenuhan
hidrasi atau pencegahan
syok hipovolemik: pemberian tambahan volume cairan intravena.
2.2.7
Pemeriksaan
Diagnostik
1. Analisis
CSS dan fungsi lumbal:
a) Meningitis
bakterial: tekanan meningkat, cairan keruh/berkabut, jumlah sel darah putih dan
protein meningkat glukosa meningkat, kultur positif terhadap beberapa bakteri.
b) Meningitis
virus: tekanan bervariasi, cairan CSS biasanya jernih, sel darah putih
meningkat, glukosa dan protein biasanya normal, kultur biasanya negatif, kultur
virus biasanya dengan prosedur khusus.
2. Glukosa
serum : meningkat (meningitis)
3. LDH
serum: meningkat (meningitis bakteri)
4. Sel
darah putih: sedikit meningkat dengan peningkatan neurotrofil (infeksi bakteri)
5. Elektrolit
darah: abnormal
6. ESR/LED:
meningkat pada meningitis
7. Kultur
darh /hidung/ tenggorokan/ urine: dapat mengindikasikan daerah pusat infeksi
atau mengindikasikan tipe penyebab infeksi.
8. MRI/
CT scan: dapat membantu dalam melokalisasi lesi, melihat ukuran/ letak
ventrikel, hematom daerah serebral, hemoragik atau tumor
9. Rontgen
dada/ kepala/ sinus: mungkin ada indikasi sumber infeksi intrakranial.
2.2.8
Konsep
Asuhan Keperawatan Meningitis
2.2.8.1
Pengkajian
a) Biodata
Klien
b) Riwayat kesehatan yang lalu
1.
Apakah
pernah menderita penyakit ISPA dan TBC
2.
Apakah
pernah jatuh atau trauma kepala
3.
Pernahkah
operasi daerah kepala
c) Pola kebiasaan sehari hari
1.
Aktivitas
Gejala: perasaan
tidak enak (malaise) tanda ataksia, kelumpuhan, gerakan infolunter
2.
Sirkulasi
Gejala: adanya
riwayat kardio patologi: endocarditis dan PJK.
Tanda: tekanan
darah meningkat, nadi menurun, dan tekanan nadi berat, takikardi, disritmia
3.
Eliminasi
Tanda: inkontinensi
dan retensi
4.
Makanan
atau cairan
Gejala:
kehilangan nafsu makan, sulit menelan
Tanda:
anoreksia, muntah, turgor kulit jelek dan membrane mukosa kering
5.
Hygiene
Tanda:
ketergantungan terhadap semua kebutuhan perawatan diri
6. Pola
hubungan dan peran
Biasanya interaksi pada keluarga atau
orang lain akan berkurang , karena kesadaran klien mulai menurun dari apatis
sampai koma.
7. Pola
penanggulangan stress
Akan cenderung mngeluh dengan keadaan
dirinya ( stress).
d) Pemeriksaan
Fisik
Tanda tanda vital
1) Peningkatan suhu lebih normal, yaitu 38-41 derajat C, dimulai
dari fase sistemik, kemerahan, panas, kulit kering, berkeringat. Keadaan
tersebut dihubungkandengan proses inflamasidan iritasi meningen yang sudah
mengganggu pusat pengatur suhu tubuh.
2) Penurunan denyut nadi, berhubungan dengan peningkatan
tekanan intracranial
3) Peningkatan frekuensi pernafasan, berhubungan dengan
laju metabolism umum dan adanya infeksi pada sistem pernafasan sebelum terjadi
meningitis.
1. B1
(Breathing)
a.
Inspeksi
adanya batuk, produksi sputum, sesak napas, penggunaan otot bantu
pernafasanyang disertai adanya gangguan pada sistem pernafasan.
b.
Palpasi
thoraks apabila terdapat deformitas tulang dada.
c.
Auskultasi
adanya bunyi napas tambahan seperti ronkhi pada klien dengan meningitis tuberkolosa
dengan penyebaran primer dari paru.
2. B2
(Blood)
Pengkajian
ada sistem kardiovaskuler dilakukan pada klien meningitis tahap lanjut apabila
telah mengalami renjatan (syok), pada klien meningitis meningokokus terjadi
infeksi fulminating dengan tanda tanda septicaemia:demam tinggi yang tiba tiba
muncul, lesi purpura yang menyebar (sekitar wajah dan ekstremitas), syok, dan
tanda tanda koagulasiintravaskuler diseminata
3. B3
(Brain)
a) Pemeriksaan focus dan lebih lengkap disbanding
pengkajian pada sistem lain
b) Tingkat kesadaran
Pada keadaan
lanjut tingkat kesadaran klien meningitis berkisar antara letargi, stupor dan
semikomatosa
c) Fungsi serebri
Status mental
:observasi penampilan dan tingkah laku, nilai gaya bicara dan observasi
ekspresi wajah dan aktivitas motoric, pada klien meningitis tahap lanjut
biasanya status mental mengalami perubahan
d) Pemeriksaan saraf kranial
a.
Saraf
I, pada klien meningitis tidak ada kelainan
b.
Saraf
II, pemeriksaan ketajaman penglihatan pada kondisi normal dan pemeriksaan
papilledema pada meningitis supuratif yang disertai abses serebri dan efusi
subdural yang menyebabkan peningkatan TIK
c.
Saraf
III, IV dan VI, pemeriksaan fungsi dan reaksi pupil tanpa kelainan pada klien
meningitis tanpa penurunan kesadaran
d.
Saraf
V, tidak didapatkan paralisis otot wajah dan reflek kornea tidak ada kelainan
e.
Saraf
VII, persepsi pengecapan dalam batas normal, wajah simetris
f.
Saraf
VIII, tidak ditemukan tuli konduktif dan tuli persepsi
g.
Saraf
IX, dan X, kemampuan menelan baik
h.
Saraf
XI, tidak ada atrofi otot sternokleidomastoideus dan trapezius
e) Sistem
Motorik
Kekuatan otot
menurun, pada meningitis tahap lanjut kontrol keseimbangan dan koordinasi
mengalami perubahan.
f) Pemeriksaan reflex
Pemeriksaan
reflex dalam, pengetukan pada tendon, ligamntum, atau periosteum derajat reflex
pada respon normal. Reflex patologis terjadi pada klien dengan tingkat
kesadaran koma
g) Gerakan involunter
Tidak ditemukan
adanya tremor, kedutan saraf, dan dystonia. Pada keadaan tertentu biasanya
mengalami kejang umum terutama pada anak dengan meningitis yang disertai
peningkatan suhu tubuh
h) Sistem sensorik
Pemeriksaan
terkait peningkatan TIK, tanda tanda peningkatan TIK sekunder akibat eksudat
purulent dan edema serebri diantaranya perubahan TIK (melebarnya tekanan pulse
dan bradikardi), pernafasan tidak teratur, sakit kepala, muntah dan penurunan
tingkat kesadaran. Adanya ruam merupakan ciri menyolok adanya meningitis
meningokokal (Neisseria meningitis).
4. B4
(Bladder)
Pemeriksaan pada
sistem perkemihan didapatkan berkurangnya volume keluaran urine. Hal tersebut
berhubungan dengan penurunan curah jantung ke ginjal
5. B5
(Bowl)
Mual hingga
muntah karena peningkatan produksi asam lambung. Pada klien meningitis
pemenuhan nutrisi menurun karena anoreksia dan adanya kejang
6. B6
(Bone)
Adanya bengkak
dan nyeri pada sendi sendi besar (lutut dan pergelangan kaki), petekia dan lesi
purpura yang didahului oleh ruam. Pada kasus berat klien dapat ditemukan
ekimosis yang besar pada wajah dan ekstremitas. Klein sering mengalami
penurunan kekuatan otot dan kelemahan fisik sehingga mengganggu aktivitas
sehari hari.
2.2.8.2
Diagnosa
1.
Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi ditandai dengan pasien suhu tubuh
pasien dalam batas tidak normal,akral hangat.
2.
Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis ditandai dengan pasien tampak
meringis,TTV dalam batas tidak normal.
3.
Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan neuromuscular ditandai dengan penurunan
dalam melakukan aktivitas secara mandiri.
4.
Resiko ketidakefektifan perfusi
jaringan serebral berhubungan
dengan penurunan tingkat
kesadaran.
2.2.8.3
Rencana
Asuhan Keperawatan
|
No
|
Diagnosa
Keperawatan
|
Tujuan
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
1
No
|
Hipertermi berhubungan
dengan proses infeksi ditandai dengan pasien suhu tubuh pasien dalam batas
tidak normal,akral hangat.
Diagnosa
Keperawatan
|
Setelah
diberikan tindakan asuhan keperawatan selama 3x24 jam, masalah keperawatan
hipertermi teratasi dengan kriteria hasil:
1. Suhu
normal 36,5-37,5oC
2. Kulit
pasien terlihat lembab dan turgor kulit kembali normal (normal < 2 detik).
3. TTV
dalam batas normal (TD: 120/80 mmHg, S: 36,5-37°C, N: 60-100x/menit, RR:
16-20x/menit).
Tujuan
|
1. Observasi
tanda-tanda vital
2. Berikan
kompres dingin pada lipatan paha dan aksila.
3. Monitor
suhu setiap 2 jam.
4. Monitor
intake dan output.
Intervensi
5. Berikan
obat anti piretik.
|
1. Untuk
mengetahui keadaan umum pasien dan efek dari peningkatan suhu adalah
perubahan nadi, pernafasan dan tekanan darah.
2. Lipatan
paha dan aksila dilintasi pembuluh darah besar sehingga mengompres pada
daerah tersebut lebih efektif untuk menurunkan demam atau untuk proses
evaporasi.
3. Mengetahui
perkembangan suhu pasien.
4. Mencegah
terjadinya risiko
Rasional
dehidrasi dan kurangnya nutrisi
pada pasien.
5. Untuk
menurunkan demam.
|
|
2
No
|
Nyeri akut berhubungan
dengan agen cedera biologis ditandai dengan pasien tampak meringis,TTV dalam
batas tidak normal.
Diagnosa
Keperawatan
|
Setelah dilakukan asuhan
keperawatan 3 x 24 jam masalah nyeri akut/kronis teratasi dengan kriteria
hasil:
4. TTV
dalam batas normal (TD: 120/80mmHg, RR: 12-20x/menit, N: 60-100x/menit, S:
36-37,5 derajat Celcius)
5. Skala
nyeri 0 (dari 1-10).
6. Wajah
tidak meringis kesakitan.
Tujuan
|
1. Kaji nyeri.
2. Observasi nyeri.
3. Monitor TTV.
4. Anjurkan istirahat yang cukup.
5. Kolaborasi
Intervensi
dalam
pemberian analgesik sesuai indikasi.
|
1. Mengetahui
tingkat keparaan nyeri melalui PQRST.
2. Mempertahankan
skala nyeri tidak mengalami keparahan.
3. Perubahan
pada pernapasan (>20x/menit mempunyai resiko ketidakefektifan pola napas.
Perubahan pada nadi (>100x/menit) mempunyai resiko penurunan curah
jantung.
4. Istirahat
yang cukup dapat menenangkandiri terhadap nyeri.
5. Membantu
Rasional
mengurangi rasa nyeri.
|
|
3
|
Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan neuromuscular
ditandai dengan penurunan dalam melakukan
aktivitas secara mandiri.
|
Setelah
diberikan tindakan asuhan keperawatan selama 3x24 jam, masalah keperawatan
hambatan mobilitas fisik teratasi dengan Kriteria Hasil :
1. Pasien
dapat mempertahankan mobilisasinya secara optimal.
2. Integritas
kulit utuh
3. Tidak
terjadi kontraktur
|
1. Kaji
kemampuan mobilisasi.
2. Alih
posisi pasien setiap 2 jam.
3. Lakukan
ROM pasif.
4. Konsul
pada ahli fisioterapi jika diperlakukan
|
1. Hemiparise
mungkin dapat tejadi.
2. Menghindari
kerusakan kulit
3. Menghindari
kontraktur dan atrofi.
4. Perencanaan
yang penting lebih lanjut
|
|
4
No
|
Resiko ketidakefektifan
perfusi jaringan serebral berhubungan dengan penurunan tingkat kesadaran.
Diagnosa
Keperawatan
|
Setelah
diberikan tindakan asuhan keperawatan selama 3x24 jam, masalah keperawatan
ketidakefektifan perfusi jaringan cerebral teratasi.
Kriteria
Hasil :
Tujuan
1. Tingkat
kesadaran normal (GCS E4 M6 V5)
2. Pasien
kooperatif dalam pelaksanaan prosedur tindakan
|
1. Kaji
respon terhadap perabaan atau sentuhan, panas atau dingin, tajam atau tumpul
dan catat perubahan yang terjadi.
Intervensi
2. Kaji
persepsi pasien dan kemampuan orientasi terhadap orang, tempat dan waktu.
3. Berikan
stimulus, seperti menagajak bicara dan berikan sentuhan
4. Berikan
keamanan pasien pada sisi tempat tidur
|
1. Informasi
yang didapat melalui pengkajian penting untuk mengetahui tingkat kegawatan
dan kerusakan otak
Rasional
2. Membantu
untuk memberikan intervensi selanjutnya
3. Untuk
merangsang kembali kemampuan persepsi
4. Untuk
menjaga keselamatan dan mencegah terjadinya resiko injury.
|
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Ensefalitis adalah radang jaringan otak
yang dapat disebabkan oleh bakteri, cacing, protozoa, jamur, riketsia, atau
virus sedangkan meningitis
adalah radang pada meningen (membrane yang mengelilingi otak dan medulla
spinalis) dan disebabkan oleh virus, bakteri atau organ organ jamur. Bakteri ;
mycobacterium tuberculosa, diplococus, pneumonia (peneumokok), neisseria
meningitis (meningokok), streptococcus haemolyticuss, stapilococus aureus,
haemophilus influenza.
3.2
Saran
Melalui makalah ini, kami selaku penyusun
makalah ini berharap agar pembaca senantiasa memperdulikan akan kesehatannya
sendiri, lingkungan dan sekitarnya juga kebiasaan hidupnya agar terhindar dari
penyakit Ensefalitis dan Meningitis.
DAFTAR PUSTAKA
Amin, Hardi. 2015. Asuhan Keperawatan
Berdasarkan Diagnosa Medis dan NANDA NIC NOC jilid 3. Yogyakarta.
Mediaction.
Harsono.
2009. Neurologi. Yogyakarta: University Press.
Nanda
International. 2015. Diagnosa Keperawatan Definisi Klasifikasi 2015-2017.
Jakarta: EGC.
Smeltzer&bare, 2002.
Keperawatan Medical Bedah ( Brunner& Suddarth). Jakarta:
EGC.
Wahyu,
Toto. 2008. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Sistem Persarafan.
Jakarta: TIM.
http://nursingbaging.com/askep-meningitis/