Kamis, 06 April 2017

Perjuangan Angkatan 23 menuju Tingkat Akhir

Perjuangan Angkatan 23 menuju Tingkat Akhir





Angkatan 23 mahasiswa prodi DIII Keperawatan STIKes Raflesia Depok.
Dari berbagai macam daerah dari Sabang sampai Merauke, ada disini.
Ada orang Aceh, Padang, Palembang, Jawa, Sunda hingga Ambon.
Walaupun berbeda budaya, bahasa, sifat karena berbeda daerah ataupun keturunan, kita tetap bersama-sama berjuang sampai tingkat akhir ini.

Di semester akhir ini, aku banyak berterimakasih pada kalian, yang saling support satu sama lain, saling menguatkan bila ada yang lemah dan jatuh, dan tidak membedakan 1 sama lain.
Semoga Allah mudahkan langkah kita hingga wisuda dan lulus ujikom. Aamiin....



Mahasiswa Keperawatan, cintai Askepmu..

Sharing


Bagi Mahasiswa Keperawatan,

Ketika membuat askep misalnya mau mengangkat diagnosa keperawatan di RS, baiknya dikonsulkan juga dengan perawat ruangan atau langsung ke CI / Karunya.

Dari pengalaman pribadi, di berbagai macam praktek di RS, ketika mengangkat 5-8 diagnosa keperawatan, sering mendapati pertanyaan dan pernyataan dari CI / Karunya.

"Mengapa banyak sekali mengangkat diagnosa keperawatan? kan 2 atau 3 saja sudah cukup dijadikan diagnosa keperawatan."
"Kalau sudah mengambil 1 diagnosa ini, sudah tidak perlu mengangkat masalah resikonya. Karena pasti masalah resikonya akan teratasi."
"Apakah diagnosa spiritual juga harus diangkat pada pasien ini?"
"Apakah sanggup menulis renpra semua diagnosa ini lalu mengimplementasikannya?"
Dan lain sebagainya...

Terkadang persepsi CI/Karu berbeda dengan persepsi pribadi sebagai mahasiswa. Dari pribadi mahasiswa pun harus mempunyai persepsi kuat juga atas diagnosa keperawatan yang diambil untuk menjelaskan mengapa harus mengangkatnya. Bahkan bisa jadi persepsi CI/Karu yang tadinya berbeda dengan kita, bisa berubah menjadi setuju dengan persepsi kita.

Boleh berpegang teguh dengan persepsi pribadi tapi lebih baik juga menerima saran dari perawat/CI/Karu sebagai evaluasi perbaikan.

Intinya selalu kolaborasi/diskusikan secara sesama antarperawat dengan mahasiswa keperawatan saat pembuatan askep yang baik dan benar sesaui data pengkajian nyata dan tak lupa konsul dengan dosen pembimbing.

Kalau sudah sering membuat banyak diagnosa keperawatan dan rencana keperawatan pada asuhan keperawatan (askep), insyaAllah ke depannya akan terlatih dalam menentukannya dan pastinya tidak boleh mengeluh "Duhhhh lelah... banyak mikir dan banyak nulis berlembar-lembar", karena askep adalah kewajiban perawat maka jalanilah dengan semangat dan ikhlas karena Allah. Jangan sampai sumpah yang sudah diucapkan menjadi luntur dan futur karena ketidakikhlasan dalam menjalaninya.

Tentunya, sebanyak apapun masalah-masalah dalam data pengkajian pasien, ya harus dituangkan ke dalam askep supaya masalahnya bisa diatasi melalui intervensi yang dibuat dan implementasi yang dilakukan.

Apapun yang dijalani harus dilandasi dengan dan karena cinta.
Peduli pada pasien akan mnumbuhkan rasa cinta kita pada askep yang kita buat.

Love Askep...
Cintailah profesimu..! Cintailah kewajibanmu...!
Mahasiswa harus kritis....!
Mahasiswa harus peduli...!
Mahasiswa harus semangat...!
Mahasiswa harus berjuang...!
Mahasiswa harus berlandaskan karena Allah...

Jadilah perawat yang kritis, peduli, semangat, berjuang karena Allah...
Semangat lillah...


Depok,
7 April 2017


Affin Aknatikharin


 

Selasa, 07 Februari 2017

Asuhan Keperawatan dengan kasus Meningitis dan Ensefalitis



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Meningitis dan Ensefalitis merupakan penyakit yang menyerang sistem saraf. Kebanyakan penyakit ini menyerang pada anak-anak. Banyak yang tidak mengetahui sesungguhnya kedua penyakit ini berbeda meskipun sebenarnya mirip.
Meningitis adalah radang membran pelindung sistem saraf pusat. Penyakit ini dapat disebabkan oleh mikroorganisme, luka fisik, kanker, obat-obatan tertentu. Meningitis adalah penyakit serius karena letaknya dekat dengan otak dan tulang belakang, sehingga dapat menyebabkan kerusakan kendali gerak, pikiran bahkan kematian. Kebanyakan kasus meningitis disebabkan oleh mikroorganisme, seperti virus, bakteri, jamur, atau parasit yang menyebar dalam darah ke cairan otak. Meningitis tergolong penyakit serius dan  bisa mengakibatkan kematian. Data WHO menunjukkan bahwa sekitar 1,8 juta kematian anak balita diseluruh dunia setiap tahun, lebih dari 700.000 kematian anak terjadi di negara kawasan Asia Tenggara dan pasifik Barat.
Sedangkan Ensefalitis adalah peradangan akut otak yang disebabkan oleh infeksi virus. Terkadang ensefalitis dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, seperti meningitis atau komplikasi dari penyakit lain seperti rabies (disebabkan oleh virus) atau sifilis (disebabkan oleh bakteri). Penyakit parasit dan protozoa seperti toksoplasmosis, malaria, atau primary amoebic meningoencephalitis, juga dapat menyebabkan pada orang yang sistem kekebalan tubunya kurang. Kerusakan otak terjadi karena otak terdorong terhadap tengkorak dan menyebabkan kematian. Di Hokkaido Jepang sepanjang tahun 1994-1995 terdapat 12 kasus acute onset brain dysfunction yang secara klinis didiagnosis sebagai ensefalitis dan ensefalopati. Tidak ada satupun dari 12 kasus ini yang memiliki riwayat penyakit kronis yang dapat memicu komplikasi infeksi virus influenza.
Dalam sebuah penelitian yang dilakukan di RSCM Jakarta didapatkan sebuah hasil bahwa dari 95 penderita ensefalitis karena infeksi virus. Dalam penelitian yang menggunakan metode yang spesifik dan sensitive yaitu ELISA diketemukan hanya 9 spesimen yang positif artinya ensefalitis disebabkan oleh virus Japanese Encephalitis. Angka kematian untuk ensefalitis masih tinggi, berkisar antara 35-50%. Penderita yang hidup 20-40% mempunyai komplikasi atau gejala sisa yang melibatkan sistem saraf pusat yang dapat mengenai kecerdasan, motoris, psikiatrik, epilepsi, penglihatan atau pendengaran bahkan sampai siste kardiovaskuler.
1.2  Tujuan
1.      Tujuan Umum
Untuk pembelajaran Mata Kuliah KMB II, pada sub bab sistem persyarafan yang terfokus pada asuhan keperawatan pada kasus Ensefalitis dan Meningitis.

2.      Tujuan Khusus
a.       Agar dapat mengetahui, menjelaskan dan memahami definisi pada kasus Ensefalitis dan Meningitis.
b.      Agar dapat mengetahui, menjelaskan dan memahami etiologi pada kasus Ensefalitis dan Meningitis.
c.       Agar dapat mengetahui, menjelaskan dan memahami tanda dan gejala pada kasus Ensefalitis dan Meningitis.
d.      Agar dapat mengetahui, menjelaskan dan memahami patofisiologi pada kasus Ensefalitis dan Meningitis.
e.       Agar dapat mengetahui, menjelaskan dan memahami komplikasi pada kasus Ensefalitis dan Meningitis.
f.       Agar dapat mengetahui, menjelaskan dan memahami penatalaksanaan medis  pada kasus Ensefalitis dan Meningitis.
g.      Agar dapat mengetahui, menjelaskan dan memahami pemeriksaan penunjang  pada kasus Ensefalitis dan Meningitis.
h.      Agar dapat mengetahui, menjelaskan, memahami dan menerapkan asuhan keperawatan pada kasus Ensefalitis dan Meningitis.










BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Ensefalitis
2.1.1   Definisi
Ensefalitis adalah radang jaringan otak yang dapat disebabkan oleh bakteri, cacing, protozoa, jamur, riketsia, atau virus. ( kapita selekta kedokteran jilid 2,2000).
Ensefalitis adalah infeksi jaringan atas oleh berbagai macam mikroorganisme ( ilmu kesehatan anak, 2006).
Encephalitis infeksi yang mengenai CNS yang disebabkan oleh virus atau mikroorganisme lain yang non-prulen (+) (pedoman diagnosis dan terapi, 2002)
2.1.2   Etiologi
1.      Ensefalitis supuratif akut
Bakteri penyebab ensefalitis adalah staphylococcus aureus, strepthococcus, E.coli, M. Tuberculosa, dan T. Pallidium. Tiga bakteri pertama merupakan penebab ensefalitis bakterial akut yang menimbulkan pemnahan pada korteks serebri sehingga terbentuk abses serebri. Ensefalitis bakterial akut sering disebut ensefalitisvsupuratif akut.
2.      Ensefalitis sifilis
Kuman yang menyebabkan ensefalitis sifilis adalah kuman: treponema pallidium, infeksi terjadi melalui permukaan tubuh umumnya sewaktu kontak seksual.
3.      Ensefalitis virus
Virus yang menyebabkan ensefalitis virus adalah virus RNA ( virus parotitis, virus morbili, virus rubela,virus rabies, virus ensefalitis jepang B, virus dengue, virus polio, cocksakie A, cocksakie B, echovirus, dan virus koriomeningitis limfositaria ) dan virus DNA ( virus herpes zooster- varisela, herves simpleks, cytomegalovirus, variola, vaksinia dan AIDS).






2.1.3   Patofisiologi
2.1.4   Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala ensefalitis tergantung dari penyebabnya, masing-masing berneda. Namun secara umum tanda dan gelaja ensefalitis tang timbul adalah :
a.          Nyeri kepala, photofobia, nyeri sendi, leher dan pinggang
b.         Kesadaran menurun
c.          Sering mengantuk
d.         Vomitus (demam)
e.          Adanya tanda-tanda iritasi cerebral
f.          Peningkatan tekanan intra cranial
g.         Kejang, tremor, aphasia
h.         Nyeri tenggorokan dan ekstremitas
i.           Malaise
j.           Pucat

2.1.5   Komplikasi
Komplikasi yang dapat muncul pada kasus enchepalitis adalah :
a.          Retradasi mental
b.         Gangguan motorik
c.          Epilepsy
d.         Emosi tidak stabil
e.          Sulit tidur
f.          Halusinasi

2.1.6   Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan medis meliputi: tindakan isolasi atau pengontrolan infeksi sebagaimana indikasi dari organisme, pemberian obat-obatan antibiotik, analgesik, antikejang, antipiretik, dukungan ventilator/ oksigen, terapi cairan/ elektrolit.
Terapi yang diberikan pada klien dengan gangguan ensefalitis adalah ampisilin 4x3-4 g dan kloromisetin 4x1 g per 24 jam intravena, selama 10 hari. Bersama dengan antibiotika dapat diberikan kortison untuk mengurangi edema otak. Bila abses besar dan operabel, dapat dipertimbangkan eksisi.

2.1.7   Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan dilakukan seperti biasanya pada penyakit infeksi. Selain itu EEG, foto Rontgen kepala, bila mungkin scan  tomografik otak, jika diperlukan arteriografi. Fungsi lumbal tidak dilakukan bila ada edema papil, cairan otak menunjukkan tanda-tanda radang akuta, sub akuta atau radang kronik, kadar protein meningkat. Tekanan likuor serebrospinalis dapat meningkat.

2.1.8   Konsep Asuhan Keperawatan Ensefalitis
2.1.8.1       Pengkajian
1.      Anamnesis
a.       Biodata
b.      Keluhan Utama
1)      Demam
2)      Kejang
c.       Riwayat Kesehatan Sekarang
Demam, kejang, sakit kepala, pusing, nyeri tenggorokan, malaise, nyeri ekstremitas, pucat, gelisah, perubahan perilaku dan gangguan kesadaran.
d.      Riwayat Kesehatan Masa Lalu
Klien sebelumnya menderita batuk, pilek kurang dari 1-4 hari, pernah menderita penyakit herpes, peyakit infeksi pada hidung, telinga dan tenggorokan.
e.       Riwayat Penyakit Keluarga
Keluarga ada yang menderita penyakit yang disebabkan oleh virus contohnya herpes. Bakteri contohnya staphylococcus Aureus, Streptococcus, E Coli dan lain-lain.

2.      Pola-pola fungsi Kesehatan
a.       Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat
1)      Kebiasaan.
Sumber air yang digunakan dari PAM atau sumur, kebiasaan buang air besar di toilet umum yang tempatnya kumuh.
2)      Status Ekonomi
Biasanya menyerang klien dengan status ekonomi rendah.
b.      Pola fungsi kesehatan
1)      Pola nutrisi dan metabolime
Nafsu makan menurun, anoreksia, nyeri tenggorokan dan berat badan menurun.
2)      Pola istirahat dan tidur
Keterbatasan rentang gerak akan mempengaruhi pola aktifitas.
3)      Pola eliminasi
Kebiasaan defekasi sehari-hari ( pada klien dengan enchepalitis karena tidak dapat melakukan mobilisasi maka dapat terjadi konstipasi). Kebiasaan BAK sehari ( biasanya frekuensinta miksi normal). Jika kebutuhan cairan tidak terpenuhi maka produksi urine akan menurun, konsentrasi urine pekat.
4)      Pola hubungan dan peran
Biasanya interaksi pada keluarga atau orang lain akan berkurang , karena kesadaran klien mulai menurun dari apatis sampai koma.
5)      Pola penanggulangan stress
Akan cenderung mngeluh dengan keadaan dirinya ( stress).

3.      Pemeriksaan Fisik
Setelah melakukan anamnesis yang mengarah pada keluhan-keluhan klien, pemeriksaan fisik sangat berguna untuk mendukung data dari pengkajian anamnesis. Pemeriksaan fisik sebaiknya dilakukan persistem (B1-B6) dengan focus pemeriksaan fisik pada pemeriksaan B3 (Brain) yang terarah dan dihubungkan dengan keluhan-keluhan dari klien.
Pemeriksaan fisik dimulai dengan memeriksa tanda-tanda vital (TTV) pada klien enchepalitis biasanya didapatkan peningkatan suhu tubuh lebih dari normal 39-40oC. keadaan ini biasanya dihubngkan denga proses inflamasi dari selaput otak yang sudanh mengganggu pusat pengatur suhu tubuh. Penurunan denyut nadi terjadi berhubungan dengan tanda-tanda peningkatan TIK. Apabila disertai peningkatan frekuensi pernapasan sering berhubungan dengan peningkatan laju metabolisme umum dan adanya infeksi pada sistem pernafasan sebelum mengalami enchepalitis. Tekanan darah biasanya normal atau meningkat berhubungan denagn tanda-tanda  peningkatan TIK.
a.       B1 (Breathing)
Inspeksi apakan klien batuk, produksi sputum, sesak nafas, penggunaan otot bantu nafas, dan peningkatan frekuensi pernafasan yang sering didapatkan pada klien ensefalitis yang sering disertai adanya gangguan pada sistem pernafasan. Palpasi biasanya taktil premitus seimbang kanan dan kiri. Auskultasi bunyi nafas tambahan seperti ronkhi pada klien denga ansefalitis berhubungan akumulasi secret dari penurunan kesadaran.
b.      B2 ( Blood)
Pengkajian pada sistem kardiovaskuler didapatkan renjatan(syok) hipovolemik yang sering terjadi pada klie ensefalitis.
c.       B3 (Brain)
Pengkajian brain merupakan pemeriksaan focus dan lebih lengkap dibandingkan pengkajian pada sistem lainnya.
1)   Tingkat Kesadaran
Pada keadaan lanjut tingkat kesadaran klien ensefalitis biasanya berkisar pada tingkat letargi, stupor, semi komatosa. Apabila klien sudah mengalami koma maka penilaian GCS sangat penting untuk menilai tingkat kesadaran klien dan bahan evaluasi untuk memantau pemberian asuhan keperawatan.
2)   Fungsi Serebri
Pada status mental observasi penampilan klien dan tingkah lakunya, niali gaya bicara klien dan observasi ekspresi wajah dan aktiftas motorik. Pada klien ensefalitis tahap lanjut boasanya status mental klien mengalami perubahan.
3)   Pemeriksaan Saraf Kranial
a.       Saraf I
Fungsi penciuman biasanya tidak ada kelainan
b.      Saraf II
Tes ketajaman pengelihatan pada kondisi normal. Pemeriksaan papil edema mungkin didapatkan terutama pada ensefalitis supuratif disertai abses serebri dan efusi subdural yang menyebabkan terjadinya peningkatan TIK.
c.       Saraf III, IV,VI
Pemeriksaan fungsi dan reaksi pupil pada klien ensefalitis yang disertai penurunan kesadran biasanya tanpa kelainan. Pada tahap lanjut ensefalitis yang telah mengganggu kesadran, tanda-tanda perubahan dari fungsi dan reaksi pupil akan di dapatkan. Dengan alasan tidak diketahui, klien ensefalitis mengeluh mengalami sensitive yang berlebihan terhadap cahaya.
d.      Saraf V
Pada klien ensefalitis didapatkan paralisis pada otot sehingga mengganggu proses mengunyah.
e.       Saraf VII
Persepsi pengecapan dalam batas normal, wajah asimetri karena adanya paralisis unilateral.
f.       Saraf VIII
Tidak ditemukan adanya tuli kondungtif, dan tuli persepsi
g.      Saraf IX, X
Kemampuan menelan kurang baik sehingga mengganggu pemenuhan nutrisi via oral.
h.      Saraf XI
Tidak atrofi otot sternokleidomastoideus dan trapezius. Adanya usaha dari klien untuk melakukan fleksi leher dan kaku kuduk.
i.        Saraf XII
Lidah simetris, tidak ada deviasi pada satu sisi dan tidak ada fasikulasi. Indera pengecap normal.
j.        Saraf motorik
Kekuatan otot menurun, control kesimbangan dan koordinasi pada ensefalitis tahap lanjut terjadi perubahan.
k.      Pemeriksaan Reflek
Pemeriksaan reflex dada, pengetukan pada tendon, ligamentum atau periosteum derajat reflek pada respon normal. Reflex patologis akan didapatkan pada klien ensefalitis dengan tingkat kesadaran koma.
l.        Gerakan Involunter
Tidak ditemukan adanya tremor, Tic, dan distonia. Pda kesadaran tergantung klien mengalami kejang umum, terutama pada anak dengan ensefalitis disertai peningkatan suhu tubuh yang tinggi. Kejang dan peningkatan TIK juga berhubungan dengan ensefalitis. Kejang terjadi sekunder akibat area fokal kortikal yang peka.
m.    Sistem Sensorik
Pemeriksaan sensorik pada ensefalitis biasanya didapatkan perasaan raba normal, perasaan nyeri normal, perasaan suhu normal, tidak adanya perasaan abnormal dipermukaan tubuh, perasaan diskriminatif normal. Peradangan pada selaput otak mengakibatkan sejumlah tanda yang mudah dikenali pada ensefalitis. Tanda tersebut adalah kaku kuduk, yaitu ketika adanya upaya untuk fleksi kepala mengalami kesukaran adanya spasme otot-otot leher.  
d.      B4 (Bladder)
Pemeriksaan pada sistem perkemihan biasanya didapatkan berkurangnya volume keluaran urin, hal ini berhubungan dengan penurunan perfusi dan penurunan curah jantung ke ginjal.
e.       B5 (Bowel)
Mual sampai muntah dihubungkan dengan peningkatan produksi asam lambung. Pemenuhan nutrisi pada klien ensefalitis menurun karena anoreksia dan adanya kejang.
f.       B6 (Bone)
Penurunan kekuatan otot dan penurunan tingkat kesadaran menurunkan mobliitas klien secara umum. Dalam upaya pemenuhan kebuthan sehari-hari klien lebih banyak dibantu orang lain.

2.1.8.2       Diagnosa
1.    Hipertermi berhubungan dengan penyakit ditandai dengan kejang, gelisah, dan kulit terasa hangat.
2.    Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis ditandai dengan infeksi.
3.    Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan neuromuskuler ditandai dengan penurunan kemampuan melakukan keterampilan motorik.
4.    Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat ditandai dengan anoreksia, kelemahan otot mengunyah dan menelan.
5.    Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan cerebral berhubungan dengan penurunan kesadaran.




2.1.8.3       Rencana Asuhan Keperawatan
No
Diagnosa Keperawatan
Tujuan
Intervensi
Rasional
1





























No
Hipertermi berhubungan dengan penyakit ditandai dengan kejang, gelisah, dan kulit terasa hangat
























Diagnosa keperawatan
Setelah diberikan tindakan asuhan keperawatan selama 3x24 jam, masalah keperawatan hipertermi teratasi dengan kriteria hasil:
1.     Suhu normal  36,5-37,5oC
2.     Kulit pasien terlihat lembab dan turgor kulit kembali normal (normal < 2 detik).
3.     TTV dalam batas normal (TD: 120/80 mmHg, S: 36,5-37°C, N: 60-100x/menit, RR: 16-20x/menit).








Tujuan
1.    Observasi tanda-tanda vital









2.    Berikan kompres dingin pada lipatan paha dan aksila.










3.    Monitor suhu setiap 2 jam.

Intervensi

4.    Monitor intake dan output.





5.    Berikan obat anti piretik.
1.         Untuk mengetahui keadaan umum pasien dan efek dari peningkatan suhu adalah perubahan nadi, pernafasan dan tekanan darah.

2.         Lipatan paha dan aksila dilintasi pembuluh darah besar sehingga mengompres pada daerah tersebut lebih efektif untuk menurunkan demam atau untuk proses evaporasi.
.
3.         mengetahui perkembangan suhu pasien.
Rasional

4.         mencegah terjadinya risiko dehidrasi dan kurangnya nutrisi pada pasien.

5.         untuk menurunkan demam.
2



















No
Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis ditandai dengan infeksi.















Diagnosa keperawatan

Setelah dilakukan asuhan keperawatan 3 x 24 jam masalah nyeri akut/kronis teratasi dengan kriteria hasil:
1.      TTV dalam batas normal (TD: 120/80mmHg, RR: 12-20x/menit, N: 60-100x/menit, S: 36-37,5 derajat Celcius)
2.      Skala nyeri 0 (dari 1-10).
3.      Wajah tidak meringis kesakitan.

Tujuan
1.      Kaji nyeri.




2.      Observasi nyeri.



3.      Monitor TTV.









Intervensi










4.      Anjurkan istirahat yang cukup.

5.      Kolaborasi dalam pemberian analgesik sesuai indikasi.
1.      Mengetahui tingkat keparaan nyeri melalui PQRST.
2.      Mempertahankan skala nyeri tidak mengalami keparahan.
3.      Perubahan pada pernapasan (>20x/menit mempunyai resiko ketidakefektifan pola napas. Perubahan pada nadi
Rasional

 (>100x/menit) mempunyai resiko penurunan curah jantung.
4.      Istirahat yang cukup dapat menenangkandiri terhadap nyeri.



5.      Membantu mengurangi rasa nyeri.

3











No
Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan neuromuskuler ditandai dengan penurunan kemampuan melakukan keterampilan motorik.

Diagnosa Keperawatan

Setelah diberikan tindakan asuhan keperawatan selama 3x24 jam, masalah keperawatan hambatan mobilitas fisik teratasi dengan Kriteria Hasil :
1.     Pasien dapat mempertahankan mobilisasinya secara optimal.
Tujuan

2.     Integritas kulit utuh.
3.     Tidak terjadi kontraktur
1.    Kaji kemampuan mobilisasi.
2.    Alih posisi pasien setiap 2 jam
3.    Lakukan ROM pasif

4.    Konsul pada ahli fisioterapi jika
Intervensi

diperlakukan
1.    Hemiparise mungkin dapat tejadi
2.    Menghindari kerusakan kulit

3.    Menghindari kontraktur dan atrofi
4.    Perencanaan yang penting lebih lanjut
Rasional
4


























No
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat ditandai dengan anoreksia, kelemahan otot mengunyah dan menelan.
















Diagnosa Keperawatan
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan pemenuhan nutrisi pasien terpenuhi dengan Kriteria Hasil:
1.    Tidak ada mual, muntah
2.    Intake nutrisi meningkat
3.    Mukosa mulut normal
4.    Bibir lembab
5.    Peningkatan BB

6.    Porsi makan habis.









Tujuan
1.    Observasi tanda-tanda vital dan keadaan umum klien.

2.    kaji turgor kulit dan mukosa mulut klien.

3.    kaji keluhan mual,muntah dan nafsu makan klien.


4.    timbang berat badan klien jika memungkinkan.

Intervensi
5.    beri makan cair via NGT
6.    catata jumlah /porsi makanan yang di habiskan klien
7.    beri makanan cair yang mudah di telan seperti bubur
8.    kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi parenteral,antiEmetik
1.    Untuk mengetahui kesehatan actual klien.



2.    Untuk mengetahui tanda-tanda kekurangan nutrisi.

3.    Untuk mengetahui berat ringannya keluhan,sebagai standar dalam menentukan intervensi yang tepat.
4.    untuk menilai keadaan nutrisi klien.



Rasional

5.    untuk memenuhi kebutuhan nutrisi.
6.    untuk mengetahui berapa banyak nutrisi yang masuk.
7.    mamakanan yang mudah di telan dapat mengurangi kerja lambung.
8.    untuk mencukupi intake yang kurang dan mengurangi mual dan muntah
5









No
Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan cerebral berhubungan dengan penurunan kesadaran.



Diagnosa Keperawatan
Setelah diberikan tindakan asuhan keperawatan selama 3x24 jam, masalah keperawatan ketidakefektifan perfusi jaringan cerebral teratasi.


Tujuan


Kriteria Hasil :
1.      Tingkat kesadaran normal (GCS E4 M6 V5)
2.      Pasien kooperatif dalam pelaksanaan prosedur tindakan
1.    Kaji respon terhadap perabaan atau sentuhan, panas atau dingin, tajam atau tumpul dan catat perubahan
Intervensi

yang terjadi.

2.    Kaji persepsi pasien dan kemampuan orientasi terhadap orang, tempat dan waktu.

3.    Berikan stimulus, seperti menagajak bicara dan berikan sentuhan

4.    Berikan keamanan pasien pada sisi tempat tidur
1.    Informasi yang didapat melalui pengkajian penting untuk mengetahui tingkat kegawatan dan kerusakan otak


Rasional

2.    Membantu untuk memberikan intervensi selanjutnya






3.    Untuk merangsang kembali kemampuan persepsi



4.    Untuk menjaga keselamatan dan mencegah terjadinya resiko injury.







2.2  Meningitis
2.2.1   Definisi
Meningitis adalah radang pada meningen (membrane yang mengelilingi otak dan medulla spinalis) dan disebabkan oleh virus, bakteri atau organ organ jamur (Smeltzer, 2001).
Meningitis merupakan infeksi akut dari meninges, biasanya ditimbulkan oleh salah satu mikroorganisme pneumokok, meningokok, stafilokok, streptokok, hemophilus influenza dan bahan aseptis (virus) (long, 1996).
Meningitis adalah peradangan pada selaput meningen, cairan serebrospinal dan spinal colum yang menyebabkan proses infeksi pada sistem saraf pusat (suriadi & rita, 2001).

2.2.2   Etiologi
1.    Bakteri: Mycobacterium tuberculosa, Diplococcus pneumonia (pneumokok), Neisseria meningitis (meningokok), Streptococcus haemolyticus, Staphylococcus aureus, Haemophilus influenza, Escherichia coli, Klebsiella pneumonia, pseudomonas aeruginosa.
2.    Penyebab lainnya lues,  virus Toxoplasma gondhii dan Ricketsia.
3.    Faktor predisposisi: jenis kelamin laki-laki lebih sering dibandingkan perempuan.
4.    Faktor maternal: rupture membrane fetal, infeksi maternal pada minggu terakhir kehamilan.
5.    Faktor imunologi: defisiensi mekanisme imun, defisiensi immunoglobulin.
6.    Kelainan sistem saraf pusat, pembedahan atau injuri yang berhubungan dengan sistem persarafan.

2.2.3   Patofisiologi
Meningitis bakteri dimulai sebagai infeksi dari orofaring dan diikuti dengan septikemia, yang menyebar ke meningen otak dan daerah medulla spinalis bagian atas.
Faktor-faktor predisposisi mencakup infeksi jalan napas bagian atas, otitis media, mastoiditis, anemia sel sabit dan hemoglobinopatis lain, prosedur bedah saraf baru, trauma kepala, dan pengaruh immunologis. Saluran vena yang melalui nasofaring posterior, telinga bagian tengah, dan saluran mastoid menuju otak dan dekat saluran vena-vena meningen, semuanya ini penghubung yang menyokong perkembangan bakteri.
Organisme masuk ke dalam aliran darah dan menyebabkan reaksi radang di dalam meningen dan di bawah daerah korteks, yang dapat menyebabkan thrombus dan penurunan aliran darah serebral. Jaringan serebral mengalami gangguan metabolisme akibat eksudat meningen, vaskulitis, dan hipoperfusi. Eksudat perulen dapat menyebar sampai dasar otak dan medulla spinalis. Radangn juga menyebar ke dinding membrane ventriel serebral. Meningitis bakteri dihubungkan dengan perubahan fisiologis intracranial, yang terdiri dari peningkatan permeabilitas pada darah, daerah pertahanan otak (barrier otak), edema serebral dan peningkatan TIK
Pada infeksi akut pasien meninggal akibat toksin bakteri sebelum terjadi meningitis. Infeksi terbanyak dari pasien ini dengan kerusakan adrenal, kolaps sirkulasi dan dihubungkan dengan meluasnya hemoragi (pada sindrom Waterhouse-friderichsen) sebagai akibat terjadinya kerusakan endotel dan nekrosis pembuluh darah yang disebabkan oleh meningokokus.

2.2.4   Manifestasi Klinis
Gejala meningitis diakibatkan dari infeksi dan peningkatan TIK :
1.      Sakit kepala dan demam (gejala awal yang sering).
2.      Perubahan pada tingkat kesadaran dapat terjadi letargik, tidak responsif, dan koma.
3.      Iritasi meningen mengakibatkan sejumlah tanda sbb:
a.       Rigiditas nukal ( kaku leher ). Upaya untuk fleksi kepala mengalami kesukaran karena adanya spasme otot-otot leher.
Tanda kernik positip: ketika pasien dibaringkan dengan paha dalam keadan fleksi kearah abdomen, kaki tidak dapat di ekstensikan sempurna.
b.      Tanda brudzinki : bila leher pasien di fleksikan maka dihasilkan fleksi lutut dan pinggul. Bila dilakukan fleksi pasif pada ekstremitas bawah pada salah satu sisi maka gerakan yang sama terlihat peda sisi ektremita yang berlawanan.
4.      Mengalami foto fobia, atau sensitif yang berlebihan pada cahaya.
5.      Kejang akibat area  fokal kortikal yang peka dan peningkatan TIK akibat eksudat  dan edema serebral dengan tanda-tanda perubahan karakteristik tanda-tanda vital(melebarnya tekanan pulsa dan bradikardi), pernafasan tidak teratur, sakit kepala, muntah dan penurunan tingkat kesadaran.
6.       Adanya ruam merupakan ciri menyolok pada meningitis meningokokal.
7.      Infeksi fulminating dengan tanda-tanda septikimia : demam tinggi tiba-tiba muncul, lesi purpura yang menyebar, syok dan tanda koagulopati intravaskuler diseminata.

2.2.5   Komplikasi
1.         Hidrosefalus obstruktif
2.         MeningococcL Septicemia ( mengingocemia )
3.         Sindrome water-friderichen (septik syok, DIC,perdarahan adrenal bilateral)
4.         SIADH ( Syndrome Inappropriate Antidiuretic hormone )
5.         Efusi subdural
6.         Kejang
7.         Edema dan herniasi serebral
8.         Cerebral palsy
9.         Gangguan mental
10.     Gangguan belajar
11.     Attention deficit disorder

2.2.6   Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan medis lebih bersifat mengatasi etiologi dan perawat perlu menyesuaikan dengan standar pengobatan sesuai tempat bekerja yang berguna sebagai bahan kolaborasi dengan tim medis. Secara ringkas penatalaksanaan pengobatan meningitis meliputi pemberian antibiotic yang mampu melewati barier darah otak ke ruang subarachnoid dalam konsentrasi yang cukup untuk menghentikan perkembangbiakan bakteri. Baisanya menggunakan sefaloposforin generasi keempat atau sesuai dengan hasil uji resistensi antibiotic agar pemberian antimikroba lebih efektif digunakan.
Obat anti-infeksi (meningitis tuberkulosa):
1.      Isoniazid 10-20 mg/kgBB/24 jam, oral, 2x sehari maksimal 500 mg selama 1 setengah tahun.
2.      Rifampisin 10-15 mg/kgBB/24 jam, oral, 1 x sehari selama 1 tahun.
3.      Streptomisin sulfat 20-40 mg/kgBB/24 jam, IM, 1-2 x sehari selama 3 bulan.

Obat anti-infeksi (meningitis bakterial):
1.      Sefalosporin generasi ketiga
2.      Amfisilin 150-200 mg/kgBB/24 jam IV, 4-6 x sehari
3.      Klorafenikol 50 mg/kgBB/24 jam IV 4 x sehari.
Pengobatan simtomatis:
1.      Antikonvulsi, Diazepam IV; 0,2-0,5 mgkgBB/dosis, atau rectal: 0,4-0,6 mg/kgBB, atau fenitoin 5 mg/kgBB/24 jam, 3 x sehari atau Fenobarbital 5-7 mg/kgBB/24 jam, 3 x sehari.
2.      Antipiretik: parasetamol/asam salisilat 10 mg/kgBB/dosis.
3.      Antiedema serebri: Diuretikosmotik (seperti manitol) dapat digunakan untuk mengobati edema serebri.
4.      Pemenuhan oksigenasi dengan O2.
5.      Pemenuhan hidrasi atau pencegahan syok hipovolemik: pemberian tambahan volume cairan intravena.

2.2.7   Pemeriksaan Diagnostik
1.    Analisis CSS dan fungsi lumbal:
a)    Meningitis bakterial: tekanan meningkat, cairan keruh/berkabut, jumlah sel darah putih dan protein meningkat glukosa meningkat, kultur positif terhadap beberapa bakteri.
b)   Meningitis virus: tekanan bervariasi, cairan CSS biasanya jernih, sel darah putih meningkat, glukosa dan protein biasanya normal, kultur biasanya negatif, kultur virus biasanya dengan prosedur khusus.
2.    Glukosa serum : meningkat (meningitis)
3.    LDH serum: meningkat (meningitis bakteri)
4.    Sel darah putih: sedikit meningkat dengan peningkatan neurotrofil (infeksi bakteri)
5.    Elektrolit darah: abnormal
6.    ESR/LED: meningkat pada meningitis
7.    Kultur darh /hidung/ tenggorokan/ urine: dapat mengindikasikan daerah pusat infeksi atau mengindikasikan tipe penyebab infeksi.
8.    MRI/ CT scan: dapat membantu dalam melokalisasi lesi, melihat ukuran/ letak ventrikel, hematom daerah serebral, hemoragik atau tumor
9.    Rontgen dada/ kepala/ sinus: mungkin ada indikasi sumber infeksi intrakranial.

2.2.8   Konsep Asuhan Keperawatan Meningitis
2.2.8.1       Pengkajian
a)    Biodata Klien
b)   Riwayat kesehatan yang lalu
1.    Apakah pernah menderita penyakit ISPA dan TBC
2.    Apakah pernah jatuh atau trauma kepala
3.    Pernahkah operasi daerah kepala
c)    Pola kebiasaan sehari hari
1.    Aktivitas
Gejala: perasaan tidak enak (malaise) tanda ataksia, kelumpuhan, gerakan infolunter
2.    Sirkulasi
Gejala: adanya riwayat kardio patologi: endocarditis dan PJK.
Tanda: tekanan darah meningkat, nadi menurun, dan tekanan nadi berat, takikardi, disritmia
3.    Eliminasi
Tanda: inkontinensi dan retensi
4.    Makanan atau cairan
Gejala: kehilangan nafsu makan, sulit menelan
Tanda: anoreksia, muntah, turgor kulit jelek dan membrane mukosa kering
5.    Hygiene
Tanda: ketergantungan terhadap semua kebutuhan perawatan diri
6.    Pola hubungan dan peran
Biasanya interaksi pada keluarga atau orang lain akan berkurang , karena kesadaran klien mulai menurun dari apatis sampai koma.
7.    Pola penanggulangan stress
Akan cenderung mngeluh dengan keadaan dirinya ( stress).



d)   Pemeriksaan Fisik
Tanda tanda vital
1)   Peningkatan suhu lebih normal, yaitu 38-41 derajat C, dimulai dari fase sistemik, kemerahan, panas, kulit kering, berkeringat. Keadaan tersebut dihubungkandengan proses inflamasidan iritasi meningen yang sudah mengganggu pusat pengatur suhu tubuh.
2)   Penurunan denyut nadi, berhubungan dengan peningkatan tekanan intracranial
3)   Peningkatan frekuensi pernafasan, berhubungan dengan laju metabolism umum dan adanya infeksi pada sistem pernafasan sebelum terjadi meningitis.
1.    B1 (Breathing)
a.       Inspeksi adanya batuk, produksi sputum, sesak napas, penggunaan otot bantu pernafasanyang disertai adanya gangguan pada sistem pernafasan.
b.      Palpasi thoraks apabila terdapat deformitas tulang dada.
c.       Auskultasi adanya bunyi napas tambahan seperti ronkhi pada klien dengan meningitis tuberkolosa dengan penyebaran primer dari paru.

2.    B2 (Blood)
Pengkajian ada sistem kardiovaskuler dilakukan pada klien meningitis tahap lanjut apabila telah mengalami renjatan (syok), pada klien meningitis meningokokus terjadi infeksi fulminating dengan tanda tanda septicaemia:demam tinggi yang tiba tiba muncul, lesi purpura yang menyebar (sekitar wajah dan ekstremitas), syok, dan tanda tanda koagulasiintravaskuler diseminata

3.    B3 (Brain)
a)    Pemeriksaan focus dan lebih lengkap disbanding pengkajian pada sistem lain
b)   Tingkat kesadaran
Pada keadaan lanjut tingkat kesadaran klien meningitis berkisar antara letargi, stupor dan semikomatosa
c)    Fungsi serebri
Status mental :observasi penampilan dan tingkah laku, nilai gaya bicara dan observasi ekspresi wajah dan aktivitas motoric, pada klien meningitis tahap lanjut biasanya status mental mengalami perubahan
d)   Pemeriksaan saraf kranial
a.       Saraf I, pada klien meningitis tidak ada kelainan
b.      Saraf II, pemeriksaan ketajaman penglihatan pada kondisi normal dan pemeriksaan papilledema pada meningitis supuratif yang disertai abses serebri dan efusi subdural yang menyebabkan peningkatan TIK
c.       Saraf III, IV dan VI, pemeriksaan fungsi dan reaksi pupil tanpa kelainan pada klien meningitis tanpa penurunan kesadaran
d.      Saraf V, tidak didapatkan paralisis otot wajah dan reflek kornea tidak ada kelainan
e.       Saraf VII, persepsi pengecapan dalam batas normal, wajah simetris
f.       Saraf VIII, tidak ditemukan tuli konduktif dan tuli persepsi
g.      Saraf IX, dan X, kemampuan menelan baik
h.      Saraf XI, tidak ada atrofi otot sternokleidomastoideus dan trapezius

e)    Sistem Motorik
Kekuatan otot menurun, pada meningitis tahap lanjut kontrol keseimbangan dan koordinasi mengalami perubahan.

f)    Pemeriksaan reflex
Pemeriksaan reflex dalam, pengetukan pada tendon, ligamntum, atau periosteum derajat reflex pada respon normal. Reflex patologis terjadi pada klien dengan tingkat kesadaran koma




g)   Gerakan involunter
Tidak ditemukan adanya tremor, kedutan saraf, dan dystonia. Pada keadaan tertentu biasanya mengalami kejang umum terutama pada anak dengan meningitis yang disertai peningkatan suhu tubuh

h)   Sistem sensorik
Pemeriksaan terkait peningkatan TIK, tanda tanda peningkatan TIK sekunder akibat eksudat purulent dan edema serebri diantaranya perubahan TIK (melebarnya tekanan pulse dan bradikardi), pernafasan tidak teratur, sakit kepala, muntah dan penurunan tingkat kesadaran. Adanya ruam merupakan ciri menyolok adanya meningitis meningokokal (Neisseria meningitis).

4.    B4 (Bladder)
Pemeriksaan pada sistem perkemihan didapatkan berkurangnya volume keluaran urine. Hal tersebut berhubungan dengan penurunan curah jantung ke ginjal

5.    B5 (Bowl)
Mual hingga muntah karena peningkatan produksi asam lambung. Pada klien meningitis pemenuhan nutrisi menurun karena anoreksia dan adanya kejang

6.    B6 (Bone)
Adanya bengkak dan nyeri pada sendi sendi besar (lutut dan pergelangan kaki), petekia dan lesi purpura yang didahului oleh ruam. Pada kasus berat klien dapat ditemukan ekimosis yang besar pada wajah dan ekstremitas. Klein sering mengalami penurunan kekuatan otot dan kelemahan fisik sehingga mengganggu aktivitas sehari hari.
2.2.8.2       Diagnosa
1.    Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi ditandai dengan pasien suhu tubuh pasien dalam batas tidak normal,akral hangat.
2.    Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis ditandai dengan pasien tampak meringis,TTV dalam batas tidak normal.
3.     Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan neuromuscular ditandai dengan penurunan dalam melakukan aktivitas secara mandiri.
4.    Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan penurunan tingkat kesadaran.

2.2.8.3       Rencana Asuhan Keperawatan
No
Diagnosa Keperawatan
Tujuan
Intervensi
Rasional
1
























No
Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi ditandai dengan pasien suhu tubuh pasien dalam batas tidak normal,akral hangat.











Diagnosa Keperawatan
Setelah diberikan tindakan asuhan keperawatan selama 3x24 jam, masalah keperawatan hipertermi teratasi dengan kriteria hasil:
1.    Suhu normal  36,5-37,5oC
2.     Kulit pasien terlihat lembab dan turgor kulit kembali normal (normal < 2 detik).
3.     TTV dalam batas normal (TD: 120/80 mmHg, S: 36,5-37°C, N: 60-100x/menit, RR: 16-20x/menit).


Tujuan
1.   Observasi tanda-tanda vital





2.   Berikan kompres dingin pada lipatan paha dan aksila.






3.   Monitor suhu setiap 2 jam.

4.   Monitor intake dan output.

Intervensi




5.   Berikan obat anti piretik.
1.   Untuk mengetahui keadaan umum pasien dan efek dari peningkatan suhu adalah perubahan nadi, pernafasan dan tekanan darah.
2.   Lipatan paha dan aksila dilintasi pembuluh darah besar sehingga mengompres pada daerah tersebut lebih efektif untuk menurunkan demam atau untuk proses evaporasi.

3.   Mengetahui perkembangan suhu pasien.

4.   Mencegah terjadinya risiko
Rasional

dehidrasi dan kurangnya nutrisi pada pasien.

5.   Untuk menurunkan demam.
2

























No
Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis ditandai dengan pasien tampak meringis,TTV dalam batas tidak normal.












Diagnosa Keperawatan
Setelah dilakukan asuhan keperawatan 3 x 24 jam masalah nyeri akut/kronis teratasi dengan kriteria hasil:
4.      TTV dalam batas normal (TD: 120/80mmHg, RR: 12-20x/menit, N: 60-100x/menit, S: 36-37,5 derajat Celcius)
5.      Skala nyeri 0 (dari 1-10).
6.      Wajah tidak meringis kesakitan.







Tujuan
1.      Kaji nyeri.



2.      Observasi nyeri.


3.      Monitor TTV.











4.      Anjurkan istirahat yang cukup.

5.      Kolaborasi

Intervensi

dalam pemberian analgesik sesuai indikasi.
1.    Mengetahui tingkat keparaan nyeri melalui PQRST.
2.    Mempertahankan skala nyeri tidak mengalami keparahan.
3.    Perubahan pada pernapasan (>20x/menit mempunyai resiko ketidakefektifan pola napas. Perubahan pada nadi (>100x/menit) mempunyai resiko penurunan curah jantung.
4.    Istirahat yang cukup dapat menenangkandiri terhadap nyeri.
5.    Membantu
Rasional

mengurangi rasa nyeri.

3
Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan neuromuscular ditandai dengan penurunan dalam melakukan aktivitas secara mandiri.
Setelah diberikan tindakan asuhan keperawatan selama 3x24 jam, masalah keperawatan hambatan mobilitas fisik teratasi dengan Kriteria Hasil :
1.      Pasien dapat mempertahankan mobilisasinya secara optimal.
2.      Integritas kulit utuh
3.      Tidak terjadi kontraktur
1.    Kaji kemampuan mobilisasi.

2.    Alih posisi pasien setiap 2 jam.


3.    Lakukan ROM pasif.

4.    Konsul pada ahli fisioterapi jika diperlakukan
1.    Hemiparise mungkin dapat tejadi.

2.    Menghindari kerusakan kulit


3.    Menghindari kontraktur dan atrofi.

4.    Perencanaan yang penting lebih lanjut
4









No
Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan penurunan tingkat kesadaran.


Diagnosa Keperawatan

Setelah diberikan tindakan asuhan keperawatan selama 3x24 jam, masalah keperawatan ketidakefektifan perfusi jaringan cerebral teratasi.

Kriteria Hasil :
Tujuan

1.      Tingkat kesadaran normal (GCS E4 M6 V5)
2.      Pasien kooperatif dalam pelaksanaan prosedur tindakan
1.   Kaji respon terhadap perabaan atau sentuhan, panas atau dingin, tajam atau tumpul dan catat perubahan yang terjadi.
Intervensi

2.    Kaji persepsi pasien dan kemampuan orientasi terhadap orang, tempat dan waktu.

3.    Berikan stimulus, seperti menagajak bicara dan berikan sentuhan

4.    Berikan keamanan pasien pada sisi tempat tidur
1.   Informasi yang didapat melalui pengkajian penting untuk mengetahui tingkat kegawatan dan kerusakan otak




Rasional

2.    Membantu untuk memberikan intervensi selanjutnya





3.    Untuk merangsang kembali kemampuan persepsi



4.    Untuk menjaga keselamatan dan mencegah terjadinya resiko injury.







BAB III
PENUTUP
3.1  Kesimpulan
Ensefalitis adalah radang jaringan otak yang dapat disebabkan oleh bakteri, cacing, protozoa, jamur, riketsia, atau virus sedangkan meningitis adalah radang pada meningen (membrane yang mengelilingi otak dan medulla spinalis) dan disebabkan oleh virus, bakteri atau organ organ jamur. Bakteri ; mycobacterium tuberculosa, diplococus, pneumonia (peneumokok), neisseria meningitis (meningokok), streptococcus haemolyticuss, stapilococus aureus, haemophilus influenza.

3.2  Saran
Melalui makalah ini, kami selaku penyusun makalah ini berharap agar pembaca senantiasa memperdulikan akan kesehatannya sendiri, lingkungan dan sekitarnya juga kebiasaan hidupnya agar terhindar dari penyakit Ensefalitis dan Meningitis.












DAFTAR PUSTAKA

Amin, Hardi. 2015. Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis dan NANDA NIC NOC jilid 3. Yogyakarta. Mediaction.
Harsono. 2009. Neurologi. Yogyakarta: University Press.
Nanda International. 2015. Diagnosa Keperawatan Definisi Klasifikasi 2015-2017. Jakarta: EGC.
Smeltzer&bare, 2002. Keperawatan Medical Bedah ( Brunner& Suddarth). Jakarta: EGC.
Wahyu, Toto. 2008. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Sistem Persarafan. Jakarta: TIM.
http://nursingbaging.com/askep-meningitis/