Selasa, 07 Februari 2017

Asuhan Keperawatan dengan kasus STROKE



BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Stroke adalah kerusakan jaringan otak yang dikarenakan berkurangnya atau terhentinya suplai darah secara tiba-tiba. Jaringan otak yang mengalami hal ini akan mati dantidak dapat berfungsi lagi. Kadang pula stroke disebut CVA (cerbrovascular accident). Masyarakat awam cenderung menganggap stroke sebagai penyakit. Sebaliknya, para dokter justru menyebutnya sebagai gejala klinis yang muncul akibat pembuluh darah jantung (cardiovascular) yang bermasalah, penyakit jantung, atau keduanya secara bersamaan.
Stroke merupakan manifestasi gangguan saraf umum, yang timbul secara mendadak dalam waktu yang singkat, yang diakibatkan gangguan aliran darah ke otak mengalami penyumbatan (ischemic stroke) atau perdarahan (hemmorhagic stroke). Penyumbatan ini dapat terjadi bila seseorang termasuk dalam lebih dari tiga kriteria faktor resiko terkena stroke.
Di Indonesia, stroke merupakan penyakit mematikan ketiga. Kebanyakan penderita stroke di Indonesia identik dengan kegemukan akibat pola makan yang kaya akan kolesterol dan lemak. Hal tersebut juga tidak terlepas dari tuntutan gaya hidup masyarakat dari waktu ke waktu.
Sebagai perawat di era globalisasi saat ini, penting untuk lebih memahami penyakit stroke dan serebrovaskular lainnya agar dapat menerapkan asuhan keperawatan yang tepat. Perawat juga dituntut untuk melakukan perannya sebagai pendidik dan konsultan serta meningkatkan kompetisinya dalam mencegah dan merehabilitasi klien stroke, baik hemoragik maupun non hemoragik.


1.2 Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui definisi stroke
2. Untuk mengetahui etiologi stroke
3. Untuk mengetahui  patofisiologi stroke
4. Untuk mengetahui manifestasi stroke
5. Untuk mengetahui komplikasi stroke
6. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang stroke
7. Untuk mengetahui penatalaksanaan stroke
8. Untuk mengetahui asuhan keperawatan stroke















BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Anatomi Serebrovaskular

Description: http://images.slideplayer.info/11/3110271/slides/slide_27.jpg

2.2 Definisi
            Stroke adalah gangguan peredaran darah otak yang menyebabkan defisit neurologis mendadak sebagai akibat iskemia atau hemoragi saraf otak (Amin dan Hardhi, 2015: 151). Stroke dibagi menjadi dua jenis, yaitu stroke hemorragik dan iskemik (non hemoragik). Stroke iskemik adalah tersumbatnya pembuluh darah yang menyebabkan aliran darah ke otak sebagian atau keseluruhan terhenti (Amin dan Hardhi, 2015). Stroke ini terbagi menjadi tiga jenis, yaitu:
1)      Stroke trombotik: proses terbentuknya thrombus yang membuat penggumpalan.
2)      Stroke embolik: tertutupnya pembuluh arteri oleh bekuan darah.
3)      Hiperfusion sistemik: berkurangnya aliran darah ke seluruh tubuh karena gangguan denyut jantung.
Sedangkan stroke hemoragik adalah stroke yang disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak. Hampir 70% kasus stroke hemoragik terjadi pada penderita hipertensi (Amin dan Hardhi, 2015). Stroke ini dibagi menjadi dua jenis, yaitu:
1)      Hemoragik intraserebral: pendarahan yang terjadi di dalam jaringan otak.
2)      Hemoragik subaraknoid: pendarahan yang terjadi pada ruang subaraknoid.

2.3 Etiologi
Sejalan dengan pertambahan usia, pembuluh darah arteri manusia menjadi semakin sempit dan keras sehingga memiliki kemungkinan besar terjadi penyumbatan pembuluh darah. Keadaan medis khusus seseorang dan gaya hidup dapat mempercepat proses tersebut dan meningkatkan faktor resiko terkena stroke (http://www.stroke.org.uk).
Penyebab perdarahan otak yang paling lazim terjadi
1. Aneurisma Berry, biasanya defek kongenital.
2. Aneurisma fusiformis dari atherosklerosis. Atherosklerosis adalah mengerasnya pembuluh
darah serta berkurangnya kelenturan atau elastisitas dinding pembuluh darah. Dinding
arteri menjadi lemah dan terjadi aneurisma kemudian robek dan terjadi perdarahan
3. Aneurisma myocotik dari vaskulitis nekrose dan emboli septis.
4. Malformasi arteriovenous, adalah pembuluh darah yang mempunyai bentuk abnormal,
terjadi hubungan persambungan pembuluh darah arteri, sehingga darah arteri langsung
masuk vena, menyebabkan mudah pecah dan menimbulkan perdarahan otak.
5. Ruptur arteriol serebral, akibat hipertensi yang menimbulkan penebalan dan degenerasi
pembuluh darah.                  
Penyebab-penyebab stroke non hemoragik menurut Smeltzer (2002):
1.Trombosis ( bekuan cairan di dalam pembuluh darah otak )
2.Embolisme cerebral ( bekuan darah atau material lain )
3.Iskemia ( Penurunan aliran darah ke area otak)
Faktor-faktor yang menyebabkan stroke (Amin dan Hardhi, 2015):
1.      Faktor yang tidak dapat dirubah (non reversibel)
a.       Jenis kelamin: pria lebih sering ditemukan menderita stroke dibanding wanita.
b.      Usia
c.       Keturunan: adanya riwayat keluarga yang terkena stroke.
2.      Faktor yang dapat dirubah (reversibel)
a.       Hipertensi
b.      Penyakit jantung
c.       Kolesterol tinggi
d.      Obesitas
e.       Diabetes melitus
f.       Polisetemia
g.      Stres emosional
3.      Kebiasaan hidup
a.       Merokok
b.      Peminum alkohol
c.       Obat-obatan terlarang
d.      Aktivitas yang tidak sehat: kurang olahraga, makanan berkolesterol.


2.4 Patofisiologi
a)    Patofisiologi stroke iskemik
Iskemia disebabkan oleh adanya penyumbatan aliran darah otak oleh thrombus atau embolus. Trombus umumnya terjadi karena berkembangnya aterosklerosis pada dinding pembuluh darah, sehingga arteri menjadi tersumbat, aliran darah ke area thrombus menjadi berkurang, menyebabkan iskemia kemudian menjadi kompleks iskemia akhirnya terjadi infark pada jaringan otak.
Emboli disebabkan oleh embolus yang berjalan menuju arteri serebral melalui arteri karotis. Terjadinya blok pada arteri tersebut menyebabkan iskemia yang tiba-tiba berkembang cepat dan terjadi gangguan neurologist fokal. Perdarahan otak dapat ddisebabkan oleh pecahnya dinding pembuluh darah oleh emboli.
b)   Patofisiologi pada stroke hemoragik
Pembuluh darah otak yang pecah menyebabkan darah mengalir ke substansi atau ruangan subarachnoid yang menimbulkan perubahan komponen intracranial yang seharusnya konstan. Adanya perubahan komponen intracranial yang tidak dapat dikompensasi tubuh akan menimbulkan peningkatan TIK yang bila berlanjut akan menyebabkan herniasi otak sehingga timbul kematian.
 Di samping itu, darah yang mengalir ke substansi otak atau ruang subarachnoid dapat menyebabkan edema, spasme pembuluh darah otak dan penekanan pada daerah tersebut menimbulkan aliran darah berkurang atau tidak ada sehingga terjadi nekrosis jaringan otak.

2.5 Manifestasi Klinis
1)      Tiba-tiba mengalami kelemahan atau kelumpuhan separuh badan.
2)      Tiba-tiba hilang rasa peka.
3)      Bicara cadel atau pelo.
4)      Gangguan bicara dan bahasa.
5)      Gangguan penglihatan.
6)      Mulut tidak simetris ketika menyeringai.
7)      Gangguan daya ingat.
8)      Nyeri kepala hebat.
9)      Vertigo.
10)  Kesadaran menurun.
11)  Proses kencing terganggu.
12)  Gangguan fungsi otak.
Perbedaan stroke hemoragik dan non hemoragik
Gejala klinis
Stroke hemoragik
Stroke non hemoragik
PIS
PSA
Gejala defisit lokal
Berat
Ringan
Berat/ringan
SIS sebelumnya
Amat jarang
-
+/biasa
Permulaan (onset)
Menit/jam
1-2 menit
Pelan (jam/hari)
Nyeri kepala
Hebat
Sangat hebat
Ringan/tidak ada
Muntah pada awalnya
Sering
Sering
Tidak, kecuali lesi di batang otak
Hipertensi
Hampir selalu
Biasanya tidak
Sering kali
Kesadaran
Bisa hilang
Bisa hilang sebentar
Dapat hilang
Kaku kuduk
Jarang
Bisa ada pada permulaan
Tidak ada
Hemiparesis
Sering sejak awal
Tidak ada
Sering dari awal
Deviasi mata
Bisa ada
Tidak ada
Mungkin ada
Gangguan bicara
Sering
Jarang
Sering
Likuor
Sering berdarah
Selalu berdarah
Jernih
Perdarahan subhialoid
Tidak ada
Bisa ada
Tidak ada
Paresis/gangguan NIII
-
Mungkin (+)
-

2.6 Komplikasi
Adapun komplikasi dari penyakit stroke adalah sebagai berikut:
1.      Hipoksia serebral
2.      Penurunan darah serebral
3.      Luasnya area cedera
4.      Embolisme serebral

2.7 Penatalaksanaan
Tindakan medis terhadap pasien stroke meliputi deuretik untuk menurunkan edema serebral yang mencapai tingkat maksimum 3 sampai 5 hari  setelah infrak serebral. Antikoagulan dapat diresepkan untuk mencegah terjadinya atau memberatnya trombosis atau embolisasi dari tempat lain dalam sistem kardiovaskuler, medikasi anti trombosit dapat diresepkan karena trombosit memainkan peran sangat penting dalam pembentukan trombus dan embolisasi.
1. Diuretika                 : untuk menurukan edema cerebral
2. Antikoagulan          : Mencegah memberatnya trombosis dan embolisasi

2.8 Teori Asuhan Keperawatan pada Penyakit Stroke
A.    Pengkajian
1.      Pengkajian Primer
a.      Airway
Airway artinya mengusahakan agar jalan napas bebas dari segala hambatan, baik akibat hambatan yang terjadi akibat benda asing maupun sebagai akibat strokenya sendiri.
b.      Breathing
Breathing atau fungsi bernapas yang mungkin terjadi akibat gangguan di pusat napas (akibat stroke) atau oleh karena komplikasi infeksi di saluran napas.
c.       Circulation
Cardiovaskular function (fungsi kardiovaskular),  yaitu fungsi jantung dan pembuluh darah. Seringkali terdapat gangguan irama, adanya trombus, atau gangguan tekanan darah yang harus ditangani secara cepat. Gangguan jantung seringkali merupakan penyebab stroke, akan tetapi juga bisa merupakan komplikasi dari stroke tersebut
2.      Pengkajian Sekunder
a.       Wawancara
1)      Identitas klien: Meliputi nama, umur (kebanyakan terjadi pada usia tua), jenis kelamin, pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan jam masuk rumah sakit, nomor register, diagnosa medis.
2)      Keluhan utama: Biasanya didapatkan kelemahan anggota gerak sebelah badan, bicara pelo, dan tidak dapat berkomunikasi.
3)      Riwayat penyakit sekarang: Identifikasi faktor penyebab, Kaji saat mulai timbul; apakah saat tidur/ istirahat atau pada saat aktivitas, Bagaimana tanda dan gejala berkembang; tiba-tiba kemungkinan stroke karena emboli dan pendarahan, tetapi bila onsetnya berkembang secara bertahap kemungkinan stoke trombosis, Bagaimana gejalanya; bila langsung memburuk setelah onset yang pertama kemungkinan karena pendarahan, tetapi bila mulai membaik setelah onset pertama karena emboli, bila tanda dan gejala hilang kurang dari 24 jam kemungkinan TIA, Observasi selama proses interview/ wawancara meliputi; level kesadaran, itelektual dan memory, kesulitan bicara dan mendengar, Adanya kesulitan dalam sensorik, motorik, dan visual.
4)      Riwayat penyakit dahulu: Ada atau tidaknya riwayat trauma kepala, hipertensi, cardiac desease, obesitas, DM, anemia, sakit kepala, gaya hidup kurang olahraga, penggunaan obat-obat anti koagulan, aspirin, vasodilator dan obat-obat adiktif
5)      Riwayat penyakit keluarga: Biasanya ada riwayat keluarga yang menderita hipertensi ataupun diabetes militus.
6)      Riwayat psikososial: Stroke memang suatu penyakit yang sangat mahal. Biaya untuk pemeriksaan, pengobatan dan perawatan dapat mengacaukan keuangan keluarga sehingga faktor biaya ini dapat mempengaruhi stabilitas emosi dan pikiran klien dan keluarga.

7)      Pola-pola fungsi kesehatan:
a)      Pola kebiasaan. Biasanya ada riwayat perokok, penggunaan alkohol.
b)      Pola nutrisi dan metabolisme , adanya keluhan kesulitan menelan, nafsu makan menurun, mual muntah pada fase akut.
c)      Pola eliminasi: Biasanya terjadi inkontinensia urine dan pada pola defekasi biasanya terjadi konstipasi akibat penurunan peristaltik usus.
d)     Pola aktivitas dan latihan, adanya kesukaran untuk beraktivitas karena kelemahan, kehilangan sensori atau paralise/ hemiplegi, mudah lelah,
e)      Pola tidur dan istirahat biasanya klien mengalami kesukaran untuk istirahat karena kejang otot/nyeri otot,
f)       Pola hubungan dan peran: Adanya perubahan hubungan dan peran karena klien mengalami kesukaran untuk berkomunikasi akibat gangguan bicara.
g)      Pola persepsi dan konsep diri: Klien merasa tidak berdaya, tidak ada harapan, mudah marah, tidak kooperatif.
h)      Pola sensori dan kognitif: Pada pola sensori klien mengalami gangguan penglihatan/kekaburan pandangan, perabaan/ sentuhan menurun pada muka dan ekstremitas yang sakit. Pada pola kognitif biasanya terjadi penurunan memori dan proses berpikir.
i)        Pola reproduksi seksual: Biasanya terjadi penurunan gairah seksual akibat dari beberapa pengobatan stroke, seperti obat anti kejang, anti hipertensi, antagonis histamin.
j)        Pola penanggulangan stress: Klien biasanya mengalami kesulitan untuk memecahkan masalah karena gangguan proses berpikir dan kesulitan berkomunikasi.
k)      Pola tata nilai dan kepercayaan: Klien biasanya jarang melakukan ibadah karena tingkah laku yang tidak stabil, kelemahan/kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh.
b.      Pemeriksaan fisik
1)      Keadaan umum:  mengelami penurunan kesadaran, Suara bicara : kadang mengalami gangguan yaitu sukar dimengerti, kadang tidak bisa bicara/afasia: tanda-tanda vital: TD meningkat, nadi bervariasi.
2)      Pemeriksaan integument:
a)      Kulit: jika klien kekurangan O2 kulit akan tampak pucat dan jika kekurangan cairan maka turgor kulit kan jelek. Di samping itu perlu juga dikaji tanda-tanda dekubitus terutama pada daerah yang menonjol karena klien CVA Bleeding harus bed rest 2-3 minggu.
b)      Kuku : perlu dilihat adanya clubbing finger, cyanosis.
c)      Rambut : umumnya tidak ada kelainan.
3)      Pemeriksaan leher dan kepala:
a)      Kepala: bentuk normocephalik
b)      Wajah: umumnya tidak simetris yaitu mencong ke salah satu sisi.
c)      Leher: kaku kuduk jarang terjadi.
4)      Pemeriksaan dada: Pada pernafasan kadang didapatkan suara nafas terdengar ronchi, wheezing ataupun suara nafas tambahan, pernafasan tidak teratur akibat penurunan refleks batuk dan menelan.
5)      Pemeriksaan abdomen: Didapatkan penurunan peristaltik usus akibat bed rest yang lama, dan kadang terdapat kembung.
6)      Pemeriksaan inguinal, genetalia, anus: Kadang terdapat incontinensia atau retensio urine.
7)      Pemeriksaan ekstremitas: Sering didapatkan kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh.
8)      Pemeriksaan neurologi:
a)      Pemeriksaan nervus cranialis: Umumnya terdapat gangguan nervus cranialis VII dan XII central.
b)      Pemeriksaan motorik: Hampir selalu terjadi kelumpuhan/ kelemahan pada salah satu sisi tubuh.
c)      Pemeriksaan sensorik: Dapat terjadi hemihipestesi.
d)     Pemeriksaan refleks: Pada fase akut reflek fisiologis sisi yang lumpuh akan menghilang. Setelah beberapa hari refleks fisiologis akan muncul kembali didahuli dengan refleks patologis
B.     Diagnosa
1.      perubahan perfusi jaringan otak berhubungan dengan perdarahan intra serebri, oklusi otak, vasopasme, dan edema otak
2.      hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan hemiparese atau hemipelgia dan kelemahan pada ekstremitas
3.      gangguan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring yang lama

C.     Renpra
No. Dx
Tujuan
Intervensi
Rasional
1
Tujuan : dalam waktu 2x24 jam perfusi jaringan otak dapat tercapai secara optimal.
Kriteria hasil :
1. klien tidak gelisah
2. tidak ada keluhan nyeri kepala
3. klien tidak kejang
4. GCS normal
5. pupil isokor
6. refleks cahaya (+)
7. TTV normal (nadi 60-100 x/menit, suhu 36,5-37,5oC, RR 16-20 x/menit)

1.      Berikan klien tirah baring total dengan posisi tidur tanpa bantal.
2.      Monitor tanda-tanda status neurologis dengan GCS.
3.      Monitor TTV.
4.      Monitor asupan dan keluaran.
5.      Kolabrasi pemberian cairan infus.
6.      Kolaborasi pemberian obat sesuai intruksi dokter seperti : steroid, aminofel, antibiotik.
1.      perubahan pada TIK akan dapat menyebabkan resiko terjadinya herniasi otak.
2.      Dapat mengurangi kerusakan otak lebih lanjut.
3.      Pada keadaan normal, otoregulasi mempertahankan keadaan tekanan darah sistemik berubah secara fluktuasi. Sedangkan peningkatan suhu dapat menggambarkan perjalanan infeksi.
4.      Hipertermi dapat menyebabkan peningkatan IWL dan meningkatkan resiko dehidrasi terutama pada klien yang tidak sadar, mual yang menerunkan asupan per oral.
5.      Meminimalkan fluktuasi pada beban vaskular dn intrakranial, retriksi cairan, dan cairan dapat menurubkan edema serebri
6.      Tujuan terapi:
-Menurunkan permeabilitas kapiler
-menurunkan edema serebri
-menurunkan metabolik/konsumsi sel dan kejang


2
Tujuan : dalam waktu 2x24 jam klien mampu melaksanakan aktivitas fisik sesuai dengan kemampuannya.
Kriteria hasil :
1. klien dapat ikut serta dalam program latihan.
2. tidak terjadi kontraktur sendi.
3. meningkatnya kekuatan otot.
4. klien menunjukan tindakan untuk meningkatkan mobilitas.
1.      Kaji mobilitas fisik dan observasi terhadap peningkatan kerusakan.
2.      Ubah posisi klien tiap 2 jam.
3.      Ajarkan klien untuk melakukan latihan gerak aktif pada ekstremitas yang tidak sakit.
4.      Ajarkan klien untuk melakukan latihan gerak pasif pada ekstremitas yang sakit.
5.      Kolaborasi dengan ahli fisioterapi untuk latihan fisik klien.

1.      Mengetahui tingkat kemampuan klien dalam melakukan aktivitas.
2.      Menurunkan resiko terjadinya iskemia jaringan akibat sirkulasi darah yang jelek pada daerah yang tertekan.
3.      Gerakan aktif memberikan massa, tonus dan kekuatan otot, serta memperbaiki fungsi jantung dan pernafasan.
4.      Otot volunter akan kehilangan tonus dan kekuatannya bila tidak di latih untuk digerakan.
5.      Peningktiatan kemampuan dalam mobilisasi ekstremitas dapat di tingkatkan dengan latihan fisik dari tim fisioterapi.
3
Tujuan : dalam waktu 3x24 am klien mampu mempertahankan keutuhan kulit.
Kriteria hasil :
1. klien mau berpartisipasi terhadap pencegahan luka.
2. Mengetahui penyebab dan cara pencegahan luka.
3. tidak ada tanda-tanda kemerahan atau luka.

1.      Anjurkan untuk melakukan latihan ROM dan mobilisasi jika mungkin.
2.      Ubah posisi tiap 2 jam.
3.      Lakukan masase pada daerah yang menonjol yang baru mengalami tekanan pada waktu berubah posisi.
4.      Jaga kebersihan kulit dan seminimal mungkin hindari trauma, panas terhadap kulit.
1.      Meningkatkan aliran darah kesemua daerah.
2.      Menghindari tekanan dan meningkatkan aliran darah.
3.      Mengindari kerusakan kapiler.
4.      Mempertahankan keutuhan kulit.




















BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Stroke merupakan penyakit yang sering ditemui, terutama pada lansia. Seiring dengan meningkatnya pasien stroke di RS, perawat dituntut untuk meningkatkan kompetisinya mengenai penyakit ini. Makalah ini disusun sebagai acuan dasar pendokumentasian asuhan keperawatan klien dengan stroke, mahasiswa keperawatan dapat mengkaji, menegakkan diagnosa yang muncul pada kondisi klien di tempat sehingga mahasiswa dapat menyusun rencana keperawatan hingga evaluasi seusai dengan diagnosa keperawatan yang diambil. Tepatnya penanganan yang diambil dapat membantu perbaikan kondisi klien dengan stroke mengingat perlu ketelatenan dalam penanganan pada kasus stroke. Oleh karena itu, mahasiswa keperawatan/perawat harus memiliki keterampilan dan pengetahuan konsep dasar perjalanan penyakit stroke yang baik agar dapat menentukan diagnosa yang tepat bagi klien yang mengalami stroke.












DAFTAR PUSTAKA

Amin, Hardhi. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkn Diagnosa Medis dan NANDA NIC-NOC. Yogyakarta: MediAction.
Muttaqin, Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Persarafan. Jakarta: Salemba Medika.
Smeltzer, Suzanne C. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner&Suddarth. Jakarta: EGC.
Stroke Associaton. What is Stroke. Diakses pada 12 Oktober 2016 dari stroke.org.uk:


















Tidak ada komentar:

Posting Komentar