BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Stroke
adalah kerusakan jaringan otak yang dikarenakan berkurangnya atau terhentinya
suplai darah secara tiba-tiba. Jaringan otak yang mengalami hal ini akan mati
dantidak dapat berfungsi lagi. Kadang pula stroke disebut CVA (cerbrovascular
accident). Masyarakat awam cenderung menganggap stroke sebagai penyakit.
Sebaliknya, para dokter justru menyebutnya sebagai gejala klinis yang muncul
akibat pembuluh darah jantung (cardiovascular) yang bermasalah, penyakit
jantung, atau keduanya secara bersamaan.
Stroke
merupakan manifestasi gangguan saraf umum, yang timbul secara mendadak dalam
waktu yang singkat, yang diakibatkan gangguan aliran darah ke otak mengalami
penyumbatan (ischemic stroke) atau perdarahan (hemmorhagic stroke). Penyumbatan
ini dapat terjadi bila seseorang termasuk dalam lebih dari tiga kriteria faktor
resiko terkena stroke.
Di
Indonesia, stroke merupakan penyakit mematikan ketiga. Kebanyakan penderita
stroke di Indonesia identik dengan kegemukan akibat pola makan yang kaya akan
kolesterol dan lemak. Hal tersebut juga tidak terlepas dari tuntutan gaya hidup
masyarakat dari waktu ke waktu.
Sebagai
perawat di era globalisasi saat ini, penting untuk lebih memahami penyakit
stroke dan serebrovaskular lainnya agar dapat menerapkan asuhan keperawatan
yang tepat. Perawat juga dituntut untuk melakukan perannya sebagai pendidik dan
konsultan serta meningkatkan kompetisinya dalam mencegah dan merehabilitasi
klien stroke, baik hemoragik maupun non hemoragik.
1.2 Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui
definisi stroke
2. Untuk mengetahui
etiologi stroke
3. Untuk
mengetahui patofisiologi stroke
4. Untuk
mengetahui manifestasi stroke
5. Untuk
mengetahui komplikasi stroke
6. Untuk
mengetahui pemeriksaan penunjang stroke
7. Untuk
mengetahui penatalaksanaan stroke
8.
Untuk mengetahui asuhan keperawatan stroke
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Anatomi
Serebrovaskular

2.2 Definisi
Stroke adalah gangguan peredaran
darah otak yang menyebabkan defisit neurologis mendadak sebagai akibat iskemia
atau hemoragi saraf otak (Amin dan Hardhi, 2015: 151). Stroke dibagi menjadi
dua jenis, yaitu stroke hemorragik dan iskemik (non hemoragik). Stroke iskemik adalah tersumbatnya pembuluh darah yang
menyebabkan aliran darah ke otak sebagian atau keseluruhan terhenti (Amin
dan Hardhi, 2015). Stroke ini terbagi menjadi tiga jenis, yaitu:
1) Stroke trombotik:
proses terbentuknya thrombus yang membuat penggumpalan.
2) Stroke embolik:
tertutupnya pembuluh arteri oleh bekuan darah.
3) Hiperfusion sistemik:
berkurangnya aliran darah ke seluruh tubuh karena gangguan denyut jantung.
Sedangkan
stroke hemoragik adalah
stroke yang disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak. Hampir 70%
kasus stroke hemoragik terjadi pada penderita hipertensi (Amin dan Hardhi,
2015). Stroke ini dibagi menjadi dua jenis, yaitu:
1) Hemoragik intraserebral:
pendarahan yang terjadi di dalam jaringan otak.
2) Hemoragik subaraknoid:
pendarahan yang terjadi pada ruang subaraknoid.
2.3
Etiologi
Sejalan
dengan pertambahan usia, pembuluh darah arteri manusia menjadi semakin sempit
dan keras sehingga memiliki kemungkinan besar terjadi penyumbatan pembuluh
darah. Keadaan medis khusus seseorang dan gaya hidup dapat mempercepat proses
tersebut dan meningkatkan faktor resiko terkena stroke
(http://www.stroke.org.uk).
Penyebab
perdarahan otak yang paling lazim terjadi
1. Aneurisma
Berry, biasanya defek kongenital.
2. Aneurisma
fusiformis dari atherosklerosis. Atherosklerosis adalah mengerasnya pembuluh
darah serta berkurangnya
kelenturan atau elastisitas dinding pembuluh darah. Dinding
arteri menjadi
lemah dan terjadi aneurisma kemudian robek dan terjadi perdarahan
3. Aneurisma
myocotik dari vaskulitis nekrose dan emboli septis.
4. Malformasi
arteriovenous, adalah pembuluh darah yang mempunyai bentuk abnormal,
terjadi hubungan
persambungan pembuluh darah arteri, sehingga darah arteri langsung
masuk vena,
menyebabkan mudah pecah dan menimbulkan perdarahan otak.
5. Ruptur
arteriol serebral, akibat hipertensi yang menimbulkan penebalan dan degenerasi
pembuluh
darah.
Penyebab-penyebab
stroke non hemoragik menurut Smeltzer (2002):
1.Trombosis (
bekuan cairan di dalam pembuluh darah otak )
2.Embolisme
cerebral ( bekuan darah atau material lain )
3.Iskemia (
Penurunan aliran darah ke area otak)
Faktor-faktor
yang menyebabkan stroke (Amin dan Hardhi, 2015):
1. Faktor
yang tidak dapat dirubah (non reversibel)
a. Jenis
kelamin: pria lebih sering ditemukan menderita stroke dibanding wanita.
b. Usia
c. Keturunan:
adanya riwayat keluarga yang terkena stroke.
2. Faktor
yang dapat dirubah (reversibel)
a. Hipertensi
b. Penyakit
jantung
c. Kolesterol
tinggi
d. Obesitas
e. Diabetes
melitus
f. Polisetemia
g. Stres
emosional
3. Kebiasaan
hidup
a. Merokok
b. Peminum
alkohol
c. Obat-obatan
terlarang
d. Aktivitas
yang tidak sehat: kurang olahraga, makanan berkolesterol.
2.4
Patofisiologi
a) Patofisiologi
stroke iskemik
Iskemia
disebabkan oleh adanya penyumbatan aliran darah otak oleh thrombus atau
embolus. Trombus umumnya terjadi karena berkembangnya aterosklerosis pada
dinding pembuluh darah, sehingga arteri menjadi tersumbat, aliran darah ke area
thrombus menjadi berkurang, menyebabkan iskemia kemudian menjadi kompleks
iskemia akhirnya terjadi infark pada jaringan otak.
Emboli
disebabkan oleh embolus yang berjalan menuju arteri serebral melalui arteri
karotis. Terjadinya blok pada arteri tersebut menyebabkan iskemia yang
tiba-tiba berkembang cepat dan terjadi gangguan neurologist fokal. Perdarahan
otak dapat ddisebabkan oleh pecahnya dinding pembuluh darah oleh emboli.
b) Patofisiologi
pada stroke hemoragik
Pembuluh
darah otak yang pecah menyebabkan darah mengalir ke substansi atau ruangan
subarachnoid yang menimbulkan perubahan komponen intracranial yang seharusnya
konstan. Adanya perubahan komponen intracranial yang tidak dapat dikompensasi
tubuh akan menimbulkan peningkatan TIK yang bila berlanjut akan menyebabkan
herniasi otak sehingga timbul kematian.
Di samping itu, darah yang mengalir ke
substansi otak atau ruang subarachnoid dapat menyebabkan edema, spasme pembuluh
darah otak dan penekanan pada daerah tersebut menimbulkan aliran darah
berkurang atau tidak ada sehingga terjadi nekrosis jaringan otak.
2.5
Manifestasi Klinis
1) Tiba-tiba
mengalami kelemahan atau kelumpuhan separuh badan.
2) Tiba-tiba
hilang rasa peka.
3) Bicara
cadel atau pelo.
4) Gangguan
bicara dan bahasa.
5) Gangguan
penglihatan.
6) Mulut
tidak simetris ketika menyeringai.
7) Gangguan
daya ingat.
8) Nyeri
kepala hebat.
9) Vertigo.
10) Kesadaran
menurun.
11) Proses
kencing terganggu.
12) Gangguan
fungsi otak.
Perbedaan stroke hemoragik dan non
hemoragik
|
Gejala klinis
|
Stroke hemoragik
|
Stroke non hemoragik
|
|
|
PIS
|
PSA
|
||
|
Gejala defisit lokal
|
Berat
|
Ringan
|
Berat/ringan
|
|
SIS sebelumnya
|
Amat jarang
|
-
|
+/biasa
|
|
Permulaan (onset)
|
Menit/jam
|
1-2 menit
|
Pelan (jam/hari)
|
|
Nyeri kepala
|
Hebat
|
Sangat hebat
|
Ringan/tidak ada
|
|
Muntah pada awalnya
|
Sering
|
Sering
|
Tidak, kecuali lesi
di batang otak
|
|
Hipertensi
|
Hampir selalu
|
Biasanya tidak
|
Sering kali
|
|
Kesadaran
|
Bisa hilang
|
Bisa hilang sebentar
|
Dapat hilang
|
|
Kaku kuduk
|
Jarang
|
Bisa ada pada
permulaan
|
Tidak ada
|
|
Hemiparesis
|
Sering sejak awal
|
Tidak ada
|
Sering dari awal
|
|
Deviasi mata
|
Bisa ada
|
Tidak ada
|
Mungkin ada
|
|
Gangguan bicara
|
Sering
|
Jarang
|
Sering
|
|
Likuor
|
Sering berdarah
|
Selalu berdarah
|
Jernih
|
|
Perdarahan subhialoid
|
Tidak ada
|
Bisa ada
|
Tidak ada
|
|
Paresis/gangguan NIII
|
-
|
Mungkin (+)
|
-
|
2.6
Komplikasi
Adapun komplikasi dari penyakit
stroke adalah sebagai berikut:
1. Hipoksia
serebral
2. Penurunan
darah serebral
3. Luasnya
area cedera
4. Embolisme
serebral
2.7 Penatalaksanaan
Tindakan
medis terhadap pasien stroke meliputi deuretik untuk menurunkan edema serebral
yang mencapai tingkat maksimum 3 sampai 5 hari setelah infrak serebral.
Antikoagulan dapat diresepkan untuk mencegah terjadinya atau memberatnya
trombosis atau embolisasi dari tempat lain dalam sistem kardiovaskuler,
medikasi anti trombosit dapat diresepkan karena trombosit memainkan peran
sangat penting dalam pembentukan trombus dan embolisasi.
1. Diuretika : untuk menurukan edema cerebral
2. Antikoagulan : Mencegah memberatnya trombosis dan embolisasi
2.8
Teori Asuhan Keperawatan pada Penyakit Stroke
A. Pengkajian
1. Pengkajian
Primer
a.
Airway
Airway artinya
mengusahakan agar jalan napas bebas dari segala hambatan, baik akibat hambatan
yang terjadi akibat benda asing maupun sebagai akibat strokenya sendiri.
b.
Breathing
Breathing atau fungsi
bernapas yang mungkin terjadi akibat gangguan di pusat napas (akibat stroke)
atau oleh karena komplikasi infeksi di saluran napas.
c.
Circulation
Cardiovaskular function
(fungsi kardiovaskular), yaitu fungsi
jantung dan pembuluh darah. Seringkali terdapat gangguan irama, adanya trombus,
atau gangguan tekanan darah yang harus ditangani secara cepat. Gangguan jantung
seringkali merupakan penyebab stroke, akan tetapi juga bisa merupakan
komplikasi dari stroke tersebut
2. Pengkajian
Sekunder
a. Wawancara
1) Identitas
klien: Meliputi nama, umur (kebanyakan terjadi pada usia tua), jenis kelamin,
pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan jam masuk rumah
sakit, nomor register, diagnosa medis.
2) Keluhan
utama: Biasanya didapatkan kelemahan anggota gerak sebelah badan, bicara pelo,
dan tidak dapat berkomunikasi.
3) Riwayat
penyakit sekarang: Identifikasi faktor penyebab, Kaji saat mulai timbul; apakah
saat tidur/ istirahat atau pada saat aktivitas, Bagaimana tanda dan gejala
berkembang; tiba-tiba kemungkinan stroke karena emboli dan pendarahan, tetapi
bila onsetnya berkembang secara bertahap kemungkinan stoke trombosis, Bagaimana
gejalanya; bila langsung memburuk setelah onset yang pertama kemungkinan karena
pendarahan, tetapi bila mulai membaik setelah onset pertama karena emboli, bila
tanda dan gejala hilang kurang dari 24 jam kemungkinan TIA, Observasi selama
proses interview/ wawancara meliputi; level kesadaran, itelektual dan memory,
kesulitan bicara dan mendengar, Adanya kesulitan dalam sensorik, motorik, dan
visual.
4) Riwayat
penyakit dahulu: Ada atau tidaknya riwayat trauma kepala, hipertensi, cardiac
desease, obesitas, DM, anemia, sakit kepala, gaya hidup kurang olahraga,
penggunaan obat-obat anti koagulan, aspirin, vasodilator dan obat-obat adiktif
5) Riwayat
penyakit keluarga: Biasanya ada riwayat keluarga yang menderita hipertensi
ataupun diabetes militus.
6) Riwayat
psikososial: Stroke memang suatu penyakit yang sangat mahal. Biaya untuk
pemeriksaan, pengobatan dan perawatan dapat mengacaukan keuangan keluarga
sehingga faktor biaya ini dapat mempengaruhi stabilitas emosi dan pikiran klien
dan keluarga.
7) Pola-pola
fungsi kesehatan:
a) Pola
kebiasaan. Biasanya ada riwayat perokok, penggunaan alkohol.
b) Pola
nutrisi dan metabolisme , adanya keluhan kesulitan menelan, nafsu makan
menurun, mual muntah pada fase akut.
c) Pola
eliminasi: Biasanya terjadi inkontinensia urine dan pada pola defekasi biasanya
terjadi konstipasi akibat penurunan peristaltik usus.
d) Pola
aktivitas dan latihan, adanya kesukaran untuk beraktivitas karena kelemahan,
kehilangan sensori atau paralise/ hemiplegi, mudah lelah,
e) Pola
tidur dan istirahat biasanya klien mengalami kesukaran untuk istirahat karena
kejang otot/nyeri otot,
f) Pola
hubungan dan peran: Adanya perubahan hubungan dan peran karena klien mengalami
kesukaran untuk berkomunikasi akibat gangguan bicara.
g) Pola
persepsi dan konsep diri: Klien merasa tidak berdaya, tidak ada harapan, mudah
marah, tidak kooperatif.
h) Pola
sensori dan kognitif: Pada pola sensori klien mengalami gangguan
penglihatan/kekaburan pandangan, perabaan/ sentuhan menurun pada muka dan
ekstremitas yang sakit. Pada pola kognitif biasanya terjadi penurunan memori
dan proses berpikir.
i)
Pola reproduksi
seksual: Biasanya terjadi penurunan gairah seksual akibat dari beberapa
pengobatan stroke, seperti obat anti kejang, anti hipertensi, antagonis
histamin.
j)
Pola penanggulangan
stress: Klien biasanya mengalami kesulitan untuk memecahkan masalah karena
gangguan proses berpikir dan kesulitan berkomunikasi.
k) Pola
tata nilai dan kepercayaan: Klien biasanya jarang melakukan ibadah karena
tingkah laku yang tidak stabil, kelemahan/kelumpuhan pada salah satu sisi
tubuh.
b. Pemeriksaan
fisik
1) Keadaan
umum: mengelami penurunan kesadaran,
Suara bicara : kadang mengalami gangguan yaitu sukar dimengerti, kadang tidak
bisa bicara/afasia: tanda-tanda vital: TD meningkat, nadi bervariasi.
2) Pemeriksaan
integument:
a) Kulit:
jika klien kekurangan O2 kulit akan tampak pucat dan jika kekurangan cairan
maka turgor kulit kan jelek. Di samping itu perlu juga dikaji tanda-tanda
dekubitus terutama pada daerah yang menonjol karena klien CVA Bleeding harus
bed rest 2-3 minggu.
b) Kuku
: perlu dilihat adanya clubbing finger, cyanosis.
c) Rambut
: umumnya tidak ada kelainan.
3) Pemeriksaan
leher dan kepala:
a) Kepala:
bentuk normocephalik
b) Wajah:
umumnya tidak simetris yaitu mencong ke salah satu sisi.
c) Leher:
kaku kuduk jarang terjadi.
4) Pemeriksaan
dada: Pada pernafasan kadang didapatkan suara nafas terdengar ronchi, wheezing
ataupun suara nafas tambahan, pernafasan tidak teratur akibat penurunan refleks
batuk dan menelan.
5) Pemeriksaan
abdomen: Didapatkan penurunan peristaltik usus akibat bed rest yang lama, dan
kadang terdapat kembung.
6) Pemeriksaan
inguinal, genetalia, anus: Kadang terdapat incontinensia atau retensio urine.
7) Pemeriksaan
ekstremitas: Sering didapatkan kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh.
8) Pemeriksaan
neurologi:
a) Pemeriksaan
nervus cranialis: Umumnya terdapat gangguan nervus cranialis VII dan XII
central.
b) Pemeriksaan
motorik: Hampir selalu terjadi kelumpuhan/ kelemahan pada salah satu sisi
tubuh.
c) Pemeriksaan
sensorik: Dapat terjadi hemihipestesi.
d) Pemeriksaan
refleks: Pada fase akut reflek fisiologis sisi yang lumpuh akan menghilang.
Setelah beberapa hari refleks fisiologis akan muncul kembali didahuli dengan
refleks patologis
B. Diagnosa
1. perubahan
perfusi jaringan otak berhubungan dengan perdarahan intra serebri, oklusi otak,
vasopasme, dan edema otak
2. hambatan
mobilitas fisik berhubungan dengan hemiparese atau hemipelgia dan kelemahan
pada ekstremitas
3. gangguan
integritas kulit berhubungan dengan tirah baring yang lama
C. Renpra
|
No. Dx
|
Tujuan
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
1
|
Tujuan :
dalam waktu 2x24 jam perfusi jaringan otak dapat tercapai secara optimal.
Kriteria
hasil :
1. klien
tidak gelisah
2. tidak
ada keluhan nyeri kepala
3. klien
tidak kejang
4. GCS
normal
5. pupil
isokor
6. refleks
cahaya (+)
7. TTV
normal (nadi 60-100 x/menit, suhu 36,5-37,5oC, RR 16-20 x/menit)
|
1. Berikan klien tirah
baring total dengan posisi tidur tanpa bantal.
2. Monitor tanda-tanda
status neurologis dengan GCS.
3. Monitor TTV.
4. Monitor asupan dan
keluaran.
5. Kolabrasi pemberian
cairan infus.
6. Kolaborasi pemberian
obat sesuai intruksi dokter seperti : steroid, aminofel, antibiotik.
|
1.
perubahan
pada TIK akan dapat menyebabkan resiko terjadinya herniasi otak.
2.
Dapat
mengurangi kerusakan otak lebih lanjut.
3.
Pada
keadaan normal, otoregulasi mempertahankan keadaan tekanan darah sistemik
berubah secara fluktuasi. Sedangkan peningkatan suhu dapat menggambarkan
perjalanan infeksi.
4.
Hipertermi
dapat menyebabkan peningkatan IWL dan meningkatkan resiko dehidrasi terutama
pada klien yang tidak sadar, mual yang menerunkan asupan per oral.
5.
Meminimalkan
fluktuasi pada beban vaskular dn intrakranial, retriksi cairan, dan cairan
dapat menurubkan edema serebri
6.
Tujuan
terapi:
-Menurunkan
permeabilitas kapiler
-menurunkan
edema serebri
-menurunkan
metabolik/konsumsi sel dan kejang
|
|
2
|
Tujuan :
dalam waktu 2x24 jam klien mampu melaksanakan aktivitas fisik sesuai dengan
kemampuannya.
Kriteria
hasil :
1. klien
dapat ikut serta dalam program latihan.
2. tidak terjadi
kontraktur sendi.
3.
meningkatnya kekuatan otot.
4. klien
menunjukan tindakan untuk meningkatkan mobilitas.
|
1.
Kaji
mobilitas fisik dan observasi terhadap peningkatan kerusakan.
2.
Ubah
posisi klien tiap 2 jam.
3.
Ajarkan
klien untuk melakukan latihan gerak aktif pada ekstremitas yang tidak sakit.
4.
Ajarkan
klien untuk melakukan latihan gerak pasif pada ekstremitas yang sakit.
5.
Kolaborasi
dengan ahli fisioterapi untuk latihan fisik klien.
|
1.
Mengetahui
tingkat kemampuan klien dalam melakukan aktivitas.
2.
Menurunkan
resiko terjadinya iskemia jaringan akibat sirkulasi darah yang jelek pada
daerah yang tertekan.
3.
Gerakan
aktif memberikan massa, tonus dan kekuatan otot, serta memperbaiki fungsi
jantung dan pernafasan.
4.
Otot
volunter akan kehilangan tonus dan kekuatannya bila tidak di latih untuk
digerakan.
5.
Peningktiatan
kemampuan dalam mobilisasi ekstremitas dapat di tingkatkan dengan latihan
fisik dari tim fisioterapi.
|
|
3
|
Tujuan :
dalam waktu 3x24 am klien mampu mempertahankan keutuhan kulit.
Kriteria
hasil :
1. klien mau
berpartisipasi terhadap pencegahan luka.
2.
Mengetahui penyebab dan cara pencegahan luka.
3. tidak
ada tanda-tanda kemerahan atau luka.
|
1.
Anjurkan
untuk melakukan latihan ROM dan mobilisasi jika mungkin.
2.
Ubah
posisi tiap 2 jam.
3.
Lakukan
masase pada daerah yang menonjol yang baru mengalami tekanan pada waktu
berubah posisi.
4.
Jaga
kebersihan kulit dan seminimal mungkin hindari trauma, panas terhadap kulit.
|
1.
Meningkatkan
aliran darah kesemua daerah.
2.
Menghindari
tekanan dan meningkatkan aliran darah.
3.
Mengindari
kerusakan kapiler.
4.
Mempertahankan
keutuhan kulit.
|
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Stroke
merupakan penyakit yang sering ditemui, terutama pada lansia. Seiring dengan
meningkatnya pasien stroke di RS, perawat dituntut untuk meningkatkan kompetisinya
mengenai penyakit ini. Makalah ini disusun sebagai acuan dasar pendokumentasian
asuhan keperawatan klien dengan stroke, mahasiswa keperawatan dapat mengkaji,
menegakkan diagnosa yang muncul pada kondisi klien di tempat sehingga mahasiswa
dapat menyusun rencana keperawatan hingga evaluasi seusai dengan diagnosa
keperawatan yang diambil. Tepatnya penanganan yang diambil dapat membantu perbaikan
kondisi klien dengan stroke mengingat perlu ketelatenan dalam penanganan pada
kasus stroke. Oleh karena itu, mahasiswa keperawatan/perawat harus memiliki keterampilan dan pengetahuan
konsep dasar perjalanan penyakit stroke yang baik agar dapat menentukan diagnosa yang tepat
bagi klien
yang mengalami stroke.
DAFTAR PUSTAKA
Amin, Hardhi.
2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkn Diagnosa Medis dan NANDA NIC-NOC.
Yogyakarta: MediAction.
Muttaqin, Arif.
2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Persarafan.
Jakarta: Salemba Medika.
Smeltzer,
Suzanne C. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner&Suddarth.
Jakarta: EGC.
Stroke Associaton.
What is Stroke. Diakses pada 12
Oktober 2016 dari stroke.org.uk:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar