ASUHAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH DENGAN GANGGUAN MUSKULOSKELETAL DENGAN KASUS:
FRAKTUR DAN DISLOKASI
Disusun
Oleh :
Affin
Aknatikharin (14002)
Dianatul
Azhimah (14008)
Fikri
Dienul Hakim (14014)
Libriana
Oktavia (14019)
Muhamad
Suyatna (14024)
Reza
Dwi Puspita (14031)
Windiarsih
(14039)
Tingkat/Semester:
III/V
STIKES RAFLESIA DEPOK
Tahun Ajaran 2016/2017
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur ke hadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan penulisan
makalah tentang “ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN GANGGUAN SISTEM
MUSKULOSKELETAL: FRAKTUR DAN DISLOKASI” ini dengan baik.
Makalah ini disusun sebagai tugas mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah II.
Adapun makalah ini kami susun berdasarkan pengamatan
kami dari buku yang ada kaitannya dengan makalah yang kami buat. Dalam
penyusunan makalah ini tentunya tidak lepas dari adanya bantuan dari pihak
tertentu, oleh karena itu kami tidak lupa mengucapkan banyak terima kasih
kepada orang tua kami, dosen pembimbing kami, dan teman-teman kami yang telah
membantu hingga selesainya makalah ini.
Dalam penyusunan makalah ini kami menyadari masih
banyak kekurangan dan kelemahannya. Oleh karena itu kami mengharapkan kritik
dan saran yang bersifat membangun untuk menyempurnakan makalah ini. Semoga
makalah ini bermanfaat untuk para pembaca.
Depok,
Oktober 2016
Kelompok 3
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...................................................................................................... i
DAFTAR ISI..................................................................................................................... ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang............................................................................................................. 1
1.2 Tujuan.......................................................................................................................... 2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Fraktur
2.1.1 Definisi.......................................................................................................................
4
2.1.2 Etiologi.......................................................................................................................
5
2.1.3 Tanda dan gejala......................................................................................................
5
2.1.4 Patofisiologi...............................................................................................................
6
2.1.5 Komplikasi................................................................................................................
7
2.1.5 Penatalaksanaan Medis............................................................................................
7
2.1.6 Pemeriksaan
Penunjang ......................................................................................... 8
2.1.7 Konsep Asuhan Keperawatan................................................................................
8
2.2 Dislokasi
2.2.1 Definsi ....................................................................................................................... 17
2.2.2 Etiologi ...................................................................................................................... 18
2.2.3 Tanda dan Gejala .................................................................................................... 18
2.2.4 Patofisiologi .............................................................................................................. 19
2.2.5 Komplikasi ............................................................................................................... 20
2.2.6 Penatalaksanaan
Medis ........................................................................................... 20
2.2.7 Pemeriksaan
Penunjang ......................................................................................... 22
2.2.7 Konsep Asuhan
Keperawatan ............................................................................... 23
BAB III
3.1 Kesimpulan.................................................................................................................. 29
3.2 Saran............................................................................................................................. 29
DAFTAR PUSTAKA
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Badan kesehatan dunia (WHO) mencatat di tahun 2011
terdapat lebih dari 5,6 juta orang meninggal dikarenakan insiden kecelakaan dan
sekitar 1.3 juta orang mengalami kecacatan fisik. Salah satu insiden kecelakaan
yang memiliki prevalensi cukup tinggi yaitu insiden fraktur ekstrimitas bawah
sekitar 40% dari insiden kecelakaan yang terjadi. Fraktur merupakan suatu
keadaan dimana terjadi diintegritas pada tulang (http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/135/jtptunimus-gdl-nurhidayah-6731-1-babi.pdf).
Penyebab terbanyaknya adalah insiden kecelakaan,
tetapi faktor lain seperti proses degeneratif dan osteoporosis juga dapat
berpengaruh terhadap terjadinya fraktur. Kecelakaan lalu lintas dan kecelakaan
kerja merupakan suatu keadaan yang tidak di inginkan yang terjadi pada semua
usia dan secara mendadak. Angka kejadian kecelakaan lalu lintas di kota
Semarang sepanjang tahun 2011 mencapai 217 kasus, dengan korban meninggal 28
orang, luka berat 40 orang, dan luka ringan sejumlah 480 orang (http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/135/jtptunimus-gdl-nurhidayah-6731-1-babi.pdf).
Berbagai penyebab fraktur diantaranya cidera atau
benturan, faktor patologik,dan yang lainnya karena faktor beban. Selain itu
fraktur akan bertambah dengan adanya komplikasi yang berlanjut diantaranya
syok, sindrom emboli lemak, sindrom kompartement, kerusakan arteri, infeksi,
dan avaskuler nekrosis. Komplikasi lain dalam waktu yang lama akan terjadi mal
union, delayed union, non union atau bahkan perdarahan (http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/135/jtptunimus-gdl-nurhidayah-6731-1-babi.pdf).
Berbagai tindakan bisa dilakukan di antaranya rekognisi, reduksi,
retensi, dan rehabilitasi. Meskipun demikian masalah pasien fraktur tidak bisa
berhenti sampai itu saja dan akan berlanjut sampai tindakan setelah atau post
operasi. Berdasarkan data dari catatan medik Ruang Umar Rumah Sakit Roemani
Semarang, jumlah penderita fraktur selama 1 tahun terakhir ini yaitu dari bulan
Mei 2011 sampai April 2012 sebanyak 32 pasien, dari jumlah pasien yang
mengalami fraktur cruris ada 10 pasien (Catatan medik Ruang Umar Rumah Sakit
Roemani Semarang) (http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/135/jtptunimus-gdl-nurhidayah-6731-1-babi.pdf).
Etiologi
dislokasi pada 60% kasus disebabkan olehtrauma akibat jatuh, kecelakaan lalu
lintas, kecelakaan rumah tangga, kekerasan, dan penyebab lain seperti membuka
mulut yang berlebihan saat menguap, tertawa, bernyanyi, membuka mulut
berkepanjangan dari prosedur lisan dan THT, membuka mulut secara kuat dari
prosedur anestesi dan endoskopi memberikan kontribusi sekitar 40%. Dari semua
kasus yang dikaji, hanya ditemukan 4 kasus dislokasi unilateral. Sebanyak 63
kasus dislokasi akut dirawat dengan reduksi manual tanpa disertai anestesi
sementara 2 kasus dirawat dengan disertai pemberian analgesia IV dan obat
penenang, dan sebanyak 14 kasus diberikan tindakan reduksi manual dengan
bantuan anestesi umum, 3 kasus dilakukan reduksi dengan bantuan refleks muntah
(Septadina, 2015).
Fenomena yang
ada di rumah sakit menunjukan bahwa pasien di rumah sakit mengalami berbagai
masalah keperawatan. Masalah tersebut harus di antisipasi dan di atasi agar
tidak terjadi komplikasi. Peran perawat sangat penting dalam perawatan pasien
terutama dalam pemberian asuhan keperawatan pada pasien (http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/135/jtptunimus-gdl-nurhidayah-6731-1-babi.pdf).
1.2
Tujuan
1. Tujuan
Umum
Untuk pembelajaran Mata Kuliah KMB II
pada sub bab sistem muskuloskeletal,
yang terfokus pada asuhan keperawatan pada kasus fraktur dan dislokasi.
2. Tujuan
Khusus
a.
Agar dapat mengetahui,
menjelaskan dan memahami definisi pada kasus fraktur dan dislokasi.
b.
Agar dapat mengetahui,
menjelaskan dan memahami etiologi pada kasus fraktur dan dislokasi.
c.
Agar dapat mengetahui,
menjelaskan dan memahami tanda dan gejala pada kasus fraktur dan dislokasi.
d.
Agar dapat mengetahui,
menjelaskan dan memahami patofisiologi
pada kasus fraktur dan dislokasi.
e.
Agar dapat mengetahui,
menjelaskan dan memahami komplikasi pada kasus fraktur dan dislokasi.
f.
Agar dapat mengetahui,
menjelaskan dan memahami penatalaksanaan medis
pada kasus fraktur dan
dislokasi.
g.
Agar dapat mengetahui,
menjelaskan dan memahami pemeriksaan
penunjang pada kasus fraktur dan dislokasi.
h.
Agar dapat mengetahui,
menjelaskan, memahami dan menerapkan asuhan keperawatan pada kasus fraktur dan dislokasi.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Fraktur
2.1.1
Definisi
Fraktur
adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik.
Kekuatan dan sudut dari tenaga tersebut, keadaan tulang, dan jaringan lunak
disekitar tulang akan menentukan apakah fraktur yang terjadi itu lengkap atau
tidak lengkap (Nurarif, 2015).
Fraktur
merupakan sebuah istilah medis yang berarti terjadinya patah tulang yang
ditandai dengan kondisi dimana hubungan kesatuan jaringa tulang terputus (http//www.idmedis.com/2015/09/pengertian-fraktur-atau-patah-tulang-dan-dislokasi-cara-pembidaian.html?m=1). Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan
sesuai jenis dan luasnya (DiGiulio, 2014). Fraktur atau patah tulang adalah
terputusnya jaringan tulang dan atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh
rudapaksa. Fraktur
adalah pemisahan atau patah tulang
(http://askep.asuhan-keperawatan.com/2014/09/lp-fraktur-88783.html).
Fraktur dapat dibagi menjadi:
1. Fraktur tertutup (closed)
Dikatakan tertutup bila tidak
terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar, disebut dengan
fraktur bersih (karena kulit masih utuh) tanpa komplikasi. Pada fraktur
tertutup ada klasifikasi tersendiri yang berdasarkan keadaan jaringan lunak sekitar
trauma, yaitu:
1)
Tingkat 0 : fraktur biasa dengan sedikit atau tanpa cedera
jaringan lunak sekitarnya.
2)
Tingkat 1 : fraktur dengan abrasi dangkal atau memar kulit
dan jaringan subkutan.
3)
Tingkat 2 : fraktur yang lebih berat dengan kontusio
jaringan lunak bagian dalam dan pembengkakan.
4)
Tingkat 3 : Cedera berat dengan kerusakan jaringan lunak
yang nyata dan ancaman sindroma kompartement.
2.
Fraktur terbuka (open/compound)
Dikatakan terbuka bila terdapat
hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan di
kulit. Bila tulang yang patah menembus otot dan
kulit yang memungkinkan / potensial untuk terjadi infeksi dimana kuman dari
luar dapat masuk ke dalam luka sampai ke tulang yang patah.
Derajat patah tulang terbuka :
1)
Derajat I
Laserasi < 2 cm, fraktur sederhana,
dislokasi fragmen minimal.
2)
Derajat II
Laserasi > 2 cm, kontusio otot
dan sekitarnya, dislokasi fragmen jelas.
3)
Derajat III
Luka lebar, rusak hebat, atau hilang
jaringan sekitar.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa fraktur adalah patahnya
tulang yang ditandai dengan terputusnya jaringan tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya.
2.1.2
Etiologi
Fraktur dapat disebabkan oleh
pukulan langsung, gaya meremuk, gerakan puntir mendadak dan bahkan konstraksi
otot ekstrem. Meskipun tulang patah, jaringan sekitarya juga akan terpengaruh,
mengakibatkan edema jaringan lunak, perdarahan ke otot dan sendi, dislokasi sendi, rupture
tendo, kerusakan saraf dan kerusakan pembuluh darah (Smeltzer,
2001).
2.1.3
Tanda
dan Gejala
- Pendarahan lokal-tindak perubahan warna kulit mungkin atau mungkin tidak terlihat; tergantung jumlah darah yang hilang dan jarak antara fraktur kulit. Perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur.
- Terdapat rasa nyeri yang sangat pada daerah fraktur.
- Terdapat trauma (kecelakaan, jatuh dari ketinggian atau jatuh di kamar mandi pada orang tua, penganiayaan, tertimpa benda berat, kecelakaan kerja, trauma olahraga).
- Deformitas.
- Edema pada lokasi karena reaksi radang akibat kerusakan jaringan.
- Kelainan gerak karena rentang gerak abnormal-membutuhkan tulang yang utuh agar otot menarik dan menciptakan gerakan; jika fraktur terjadi dekat sendi, bengkak dapat membatasi rentang gerak.
- Terjadi pemendekan tulang karena konstraksi otot yang melekat di atas dan bawah tempat fraktur.
- Krepitasi akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainnya.
(Smeltzer,
2001, dan Nurarif, 2015)
2.1.4
Patofisiologi
(Pathway)
|
Trauma
langsung
|
|
Trauma tidak
langsung
|
|
Kondisi
patologis
|
|
Fraktur
|
|
Diskontinuitas
tulang
|
|
Pergeseran
fragmen tulang
|
|
Nyeri Akut
|
|
Perubahan
jaringan sekitar
|
|
Kerusakan
fragmen tulang
|
|
Pergeseran
fragmen tulang
|
|
Spasme otot
|
|
Tekanan
sumsum tulang lebih tinggi dari kapiler
|
|
Deformitas
|
|
Peningkatan
tekanan kapiler
|
|
Melepaskan
katekolamin
|
|
Gangguan
fungsi ekstremitas
|
|
Hambatan
mobilitas fisik
|
|
Laserasi
kulit
|
|
Protein
plasma hilang
|
|
Edema
|
|
Metabolisme
asam lemak
|
|
Bergabung
dengan trombosit
|
|
Emboli
|
|
Penekanan
pembuluh darah
|
|
Menyumbat
pembuluh darah
|
|
Putus
vena/arteri
|
|
Kerusakan
integritas kulit
Resiko
Infeksi
|
|
Perdarahan
|
|
Kehilangan
volume cairan
|
|
Ketidakefektifan
perfusi jaringan perifer
|
|
Resiko syok
(hipovolemik)
|
Sumber: Nurarif, 2015.
2.1.5
Komplikasi
Komplikasi Awal
1. Syok hipovolemik atau traumatic,
akibat perdarahan (baik kehilagan darah ekstena maupun yang tak kelihatan) dan
kehilangan cairan eksrasel ke jaringan yang rusak.
2. Sindrom emboli lemak, setelah fraktur terjadi dapat
terjadi emboli lemak, khususnya pada dewasa muda (20 samapi 30 tahun) pria.
Komplikasi Lambat
1. Penyatuan terlambat atau tidak ada penyatuan.
2. Nekrosis avaskuler tulang.
3. Reaksi terhadap alat fiksasi interna.
(http://askep.asuhan-keperawatan.com/2014/09/lp-fraktur-88783.html)
2.1.6
Penatalaksanaan
Medis
1. Reduksi
Reduksi
fraktur berarti mengembalikan fragmen tulang pada kesejajarannya dan rotasi
anatomis. Reduksi tertutup, mengembalikan fragmen tulang ke posisinya (ujung
ujungnya saling berhubungan) dengan manipulasi dan traksi manual. Alat yang
digunakan biasanya traksi, bidai dan alat yang lainnya. Reduksi terbuka, dengan
pendekatan bedah. Alat fiksasi interna dalam bentuk pin, kawat, sekrup, plat,
paku.
2. Imobilisasi
Imobilisasi
dapat digunakan dengan metode eksterna dan interna , mempertahankan dan
mengembalikan fungsi status neurovaskuler selalu dipantau meliputi peredaran
darah, nyeri, perabaan, gerakan. Perkiraan waktu imobilisasi yang dibutuhkan
untuk penyatuan tulang yang mengalami fraktur adalah sekitar 3 bulan.
(Nurarif, 2015)
2.1.7
Pemeriksaan Penunjang
1)
X-ray: menentukan
lokasi atau luasnya fraktur.
2)
Scan tulang:
memperlihatkan fraktur lebih jelas, mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak.
3)
Arteriogram: dilakukan
untuk memastikan ada tidaknya kerusakan vaskuler.
4)
Hitung darah lengkap:
hemokonsentrasi mungkin meningkat, menurun pada perdarahan, peningkatan
leukosit sebagai respon terhadap peradangan.
5)
Kretinin: trauma otot
meningkatkan beban kretinin untuk klirens ginjal.
6)
Profil koagulasi:
perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah, transfuse atau cedera hati.
(Nurarif, 2015)
2.1.8
Konsep Asuhan Keperawatan
2.1.8.1 Pengkajian
2.1.8.1.1 Anamnesa
1. Identitas
Klien
Meliputi nama, jenis kelamin,
umur, alamat, agama, pendidikan.
2. Keluhan
Utama
Pada
umumnya keluhan utama pada kasus fraktur adalah rasa nyeri. Nyeri tersebut bisa
akut atau kronik tergantung dan lamanya serangan. Untuk memperoleh pengkajian
yang lengkap tentang rasa nyeri klien digunakan:
a.
Provoking Incident: apakah
ada peristiwa yang menjadi yang menjadi faktor presipitasi nyeri.
b.
Quality of Pain: seperti apa
rasa nyeri yang dirasakan atau digambarkan klien. Apakah seperti terbakar,
berdenyut, atau menusuk.
c.
Region : radiation, relief: apakah rasa sakit
bisa reda, apakah rasa sakit menjalar atau menyebar, dan dimana rasa sakit
terjadi.
d.
Severity (Scale) of Pain:
seberapa jauh rasa nyeri yang dirasakan klien, bisa berdasarkan skala nyeri
atau klien menerangkan seberapa jauh rasa sakit mempengaruhi kemampuan
fungsinya.
Dapat diukur dengan skala
nyeri yaitu :
Wong-Baker faces pain scale
Tampilan skala gambar atau warna juga dapat membantu klien
dalam menggambarkan nyeri yang ia rasakan apabila klien mengalami kesulitan
menggunakan skala.
e.
Time: berapa lama nyeri
berlangsung, kapan, apakah bertambah buruk pada malam hari atau siang hari.
3. Riwayat
Penyakit Sekarang
Pengumpulan
data yang dilakukan untuk menentukan sebab dari fraktur, yang nantinya membantu
dalam membuat rencana tindakan terhadap klien. Ini bisa berupa kronologi
terjadinya penyakit tersebut sehingga nantinya bisa ditentukan kekuatan yang
terjadi dan bagian tubuh mana yang terkena. Selain itu, dengan mengetahui
mekanisme terjadinya kecelakaan bisa diketahui luka kecelakaan yang lain
4. Riwayat
Penyakit Dahulu
Pada pengkajian ini
ditemukan kemungkinan penyebab fraktur dan memberi petunjuk berapa lama tulang
tersebut akan menyambung. Penyakit-penyakit tertentu seperti kanker tulang yang
menyebabkan fraktur patologis yang sering sulit untuk menyambung. Selain itu,
penyakit diabetes dengan luka di kaki sangat beresiko terjadinya osteomyelitis
akut maupun kronik dan juga diabetes menghambat proses penyembuhan tulang.
5. Riwayat
Penyakit Keluarga
Penyakit keluarga yang
berhubungan dengan penyakit tulang merupakan salah satu faktor predisposisi
terjadinya fraktur, seperti diabetes, osteoporosis yang sering terjadi pada
beberapa keturunan, dan kanker tulang yang cenderung diturunkan secara genetik.
2.1.8.1.2 Pemeriksaan Fisik
Pada
pemeriksaan awal penderita, perlu di perhatikannya adanya : Syok, anemia atau
perdarahan, kerusakan pada organ-organ lain, misalnya otak, sumsum tulang
belakang atau organ-organ dalam rongga toraks, panggul dan abdomen, fraktur
predisposisi, misalnya pada fraktur patalogis. Keadaan umum : baik
atau buruknya yang dicatat adalah tanda-tanda, seperti :
a. Kesadaran
penderita: apatis, sopor, koma, gelisah, komposmentis tergantung pada keadaan
klien.
b. Kesakitan,
keadaan penyakit: akut, kronik, ringan, sedang, berat dan pada kasus fraktur
biasanya akut.
c. Tanda-tanda
vital tidak normal karena ada gangguan baik fungsi maupun bentuk.
Keadaan
Lokal
Harus
diperhitungkan keadaan proksimal serta bagian distal terutama mengenai status
neurovaskuler. Pemeriksaan pada sistem muskuloskeletal adalah:
1) Look
(inspeksi).
Perhatikan apa yang dapat dilihat antara lain:
a. Fraktur
tertutup dan terbuka.
b. Deformitas
: angulasi (medial, lateral, posterior atau anterior), diskrepensi (rotasi,
perpendekan, perpanjangan).
c. Kaji
adanya bengkak atau kebiruaan.
d. Kaji
adanya fungsio laesa (hilangnya fungsi gerak).
2) Feel
(palpasi)
Pada waktu akan
palpasi, terlebih dahulu posisi penderita diperbaiki mulai dari posisi netral
(posisi anatomi). Pada dasarnya ini merupakan pemeriksaan yang memberikan
informasi dua arah, baik pemeriksa maupun klien. Yang perlu dicatat
adalah:
a.
Palpasi seluruh
ekstremitas dari proksimal hingga distal.
b. Kaji
adanya tenderness ( nyeri tekan) pada daerah fraktur.
c. Kaji
area sakit, efusi, maupun krepitasi.
Otot: tonus pada waktu
relaksasi atau kontraksi, benjolan yang terdapat di permukaan atau melekat
pada tulang. Selain itu juga diperiksa status neurovaskuler. Apabila ada
benjolan, maka sifat benjolan perlu dideskripsikan permukaannya,
konsistensinya, pergerakan terhadap dasar atau
permukaannya, nyeri atau tidak, dan ukurannya.
3) Move (pergerakan terutama lingkup gerak)
a. Nyeri
apabila digerakan, baik gerakan aktif maupun pasif.
b. Gerakan
tidak normal yaitu gerakan yang terjadi tidak pada sendinya.
c. Kaji
range of motion (ROM).
2.1.8.1.3 Pemeriksaan
Bio-psiko-sosial-spritual
Merupakan
respons emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya dan peran klien dalam
keluarga dan masyarakat serta respon atau pengaruhnya dalam kehidupan
sehari-harinya baik dalam keluarga ataupun dalam masyarakat.
Pola-Pola Fungsi
Kesehatan:
1. Pola
Persepsi dan Tata Laksana Hidup Sehat
Pada
kasus fraktur akan timbul ketakutan akan terjadinya kecacatan pada dirinya dan
harus menjalani penatalaksanaan kesehatan untuk membantu penyembuhan tulangnya.
Selain itu, pengkajian juga meliputi kebiasaan hidup klien seperti penggunaan
obat steroid yang dapat mengganggu metabolisme kalsium, pengkonsumsian alkohol
yang bisa mengganggu keseimbangannya dan apakah klien melakukan olahraga atau
tidak.
2. Pola
Nutrisi dan Metabolisme
Pada klien fraktur harus mengkonsumsi
nutrisi melebihi kebutuhan sehari-harinya seperti kalsium, zat besi, protein,
vitamin C dan lainnya untuk
membantu proses penyembuhan tulang. Evaluasi terhadap pola nutrisi klien bisa
membantu menentukan penyebab masalah muskuloskeletal dan mengantisipasi
komplikasi dari nutrisi yang tidak adekuat terutama kalsium atau protein dan
terpapar sinar matahari yang kurang merupakan faktor predisposisi masalah
muskuloskeletal terutama pada lansia. Selain itu juga obesitas juga menghambat
degenerasi dan mobilitas klien.
3. Pola
Eliminasi
Untuk
kasus fraktur tidak ada gangguan pada pola eliminasi, tapi walaupun begitu
perlu juga dikaji frekuensi, konsistensi, warna serta bau feces pada pola
eliminasi alvi. Sedangkan pada pola eliminasi urine dikaji frekuensi, kepekatannya,
warna, bau, dan jumlah. Pada kedua pola ini juga dikaji ada kesulitan atau
tidak.
4. Pola
Tidur dan Istirahat
Semua klien fraktur timbul rasa nyeri,
keterbatasan gerak, sehingga hal ini dapat mengganggu pola dan kebutuhan tidur
klien. Selain itu juga, pengkajian dilaksanakan pada lamanya tidur, suasana
lingkungan, kebiasaan tidur, dan kesulitan tidur serta penggunaan obat tidur
5. Pola
Aktivitas
Karena
timbulnya nyeri, keterbatasan gerak, maka semua bentuk kegiatan klien menjadi
berkurang dan kebutuhan klien perlu banyak dibantu oleh orang lain. Hal lain
yang perlu dikaji adalah bentuk aktivitas klien terutama pekerjaan klien.
Karena ada beberapa bentuk pekerjaan beresiko untuk terjadinya fraktur
dibanding pekerjaan yang lain.
6. Pola
Hubungan dan Peran
Klien akan kehilangan peran dalam
keluarga dan dalam masyarakat. Karena klien harus menjalani rawat inap.
7. Pola
Persepsi dan Konsep Diri
Dampak yang timbul pada klien fraktur
yaitu timbul ketakutan akan kecacatan akibat frakturnya, rasa cemas, rasa
ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas secara optimal, dan pandangan terhadap
dirinya yang salah (gangguan body image).
8. Pola
Sensori dan Kognitif
Pada klien fraktur daya rabanya
berkurang terutama pada bagian distal fraktur, sedang pada indera yang lain
tidak timbul gangguan.begitu juga pada kognitifnya tidak mengalami gangguan.
Selain itu juga, timbul rasa nyeri akibat fraktur.
9. Pola
Penanggulangan Stress
Pada
klien fraktur timbul rasa cemas tentang keadaan dirinya, yaitu ketidakutan
timbul kecacatan pada diri dan fungsi tubuhnya. Mekanisme koping yang ditempuh
klien bisa tidak efektif
10. Pola
Tata Nilai dan Keyakinan
Untuk klien fraktur tidak dapat
melaksanakan kebutuhan beribadah dengan baik terutama frekuensi dan
konsentrasi. Hal ini bisa disebabkan karena nyeri dan keterbatasan gerak klien.
2.1.8.2 Diagnosa
Keperawatan
1.
Nyeri berhubungan
dengan agen cidera fisik.
2. Ketidakefektifan
perfusi jaringan perifer berhubungan dengan penekanan pembuluh darah.
3. Hambatan
mobilitas fisik berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan.
4. Ansietas
berhubungan dengan adanya perubahan status kesehatan.
(Herdman,
2015)
2.1.8.3 Rencana
Keperawatan
|
No
|
Diagnosa Keperawatan
|
Tujuan
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
1
No
|
Nyeri berhubungan dengan agen
cidera fisik.
Diagnosa Keperawatan
|
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama
2x24 jam nyeri berkurang atau hilang dengan kriteria hasil :
1. Skala
nyeri 1 (dari 1-10).
2. TTV
dalam batas normal (TD : 120/80 mmHg,
RR: 12-
Tujuan
20x/menit, S: 36-37,5o
C, N: 60-100x/menit).
3. Pasien
tampak rileks.
|
1. Observasi
tanda-tanda vital.
2. Kaji
skala nyeri secara kompherensif.
3. Ajarkan
tehnik distraksi
Intervensi
4. Berikan
pasien posisi yang nyaman bila perlu gunakan bantal.
5. Kolaborasi
dalam pemberian obat analgetik.
|
1.
Untuk
mengetahui keadaan umum pasien
2.
Mengetahui frekuensi,
kualitas, durasi, regional, dan waktu nyeri.
3.
Untuk mengurangi rasa nyeri
dan mengalihkan
Rasional
perhatian terhadap nyeri.
4.
Untuk menyokong area
dependen (area fraktur).
5.
Untuk
mengurangi nyeri
|
|
2
No
|
Ketidakefektifan perfusi jaringan
perifer berhubungan dengan penekanan pembuluh darah.
Diagnosa Keperawatan
|
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama
2x24 jam diharapkan ketidakefektifan perfusi jaringan perifer pada klien
teratasi dengan kriteria hasil :
1. Tekan sistole dan distole dalam rentang
yang diharapkan.
2. Tidak ada tanda-tanda peningkatan tekanan
intrakanial.
Tujuan
|
1. Lakukan
perawatan sirkulasi perifer secara komprehensif misal: periksa nadi perifer,
edema, pengisian kapiler, warna, dan suhu ekstremitas.
2. Ajarkan
pasien pentingnya mematuhi diit dan program pengobatan.
3. Tinggikan
angota badan yang terkena 20 derajat atau lebih tinggi dari jantung
Intervensi
4. Auskultasi
frekuensi dan irama jantung, catat terjadinya bunyi jantung ekstra.
|
1.
Mengetahui
keefektifan intervensi dan perkembangan pasien.
2.
Memperceapat
proses penyembuhan.
3.
Meningkatkan
aliran darah balik vena.
Rasional
4.
Takikardi
sebagai akibat hipoksemia dan kompensasi upaya peningkatan aliran darah dan perfusi
jaringan.
|
|
3
No
|
Hambatan mobilitas fisik
berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan.
Diagnosa Keperawatan
|
Setelah diberikan asuhan
keperawatan selama 2x24 jam pasien dapat melakukan mobilitas fisik secara
mandiri dengan kriteria hasil :
1. Pasien
meningkat dalam aktivitas fisik
2. Mengerti
tujuan dari peningkatan mobilitas fisik
3. Mampu
untuk mobilisasi.
Tujuan
|
1. Cegah agar tidak terjadi gerakan pada fraktur
(imobilisasi).
2. Bantu klien menggerakan bagian cedera dengan tetap
memberikan sokongan yang adekuat.
3. Ekstermitas di tinggikan dan disokong dengan
bantal.
4. Rencanakan
periode istirahat yang cukup.
Intervensi
5. Bantu
pasien dalam memenuhi kebutuhan sesuai kebutuhan.
|
1.
Informasi yang benar
dapat meningkatkan kemajuan kesehatan.
2.
Agar
dapat membantu mobilitas secara bertahap.
3.
Meningkatkan
aliran balik vena dan mengurangi edema dan mengurangi nyeri.
4.
Mengurangi aktivitas yang
tidak diperlukan, dan energi
Rasional
terkumpul dapat di gunakan untuk aktivitas
seperlunya secara optimal
5.
Mengurangi pemakaian energi
sampai kekuatan pasien pulih kembali.
|
|
4
No
|
Ansietas berhubungan dengan
adanya perubahan status kesehatan.
Diagnosa Keperawatan
|
Setelah diberikan
asuhan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan ansietas dapat teratasi dengan
kriteria hasil :
1.
Pasien
mampu mengidentifikasi dan mengungkapkan gejala cemas.
2.
Mengidetifikasi,
mengungkapkan dan menunjukan teknik untuk mengontrol cemas.
3.
Postur
tubuh ekspresi wajah,
Tujuan
bahasa tubuh
dan tingat aktifitas berkurangnya kecemasan.
|
1. Gunakan pendekatan yang menenangkan kepada pasien.
2. Identifikasi tingkat kecemasan.
3. Jelaskan apa yang akan dilakukan dan apa yang
dapat dilakukan pasien.
Intervensi
|
1.
Membantu
mengidentifikasi dalam mengatasi keadaan saat ini atau memberikan bantuan
yang sesuai.
2.
Membantu
mengidentifikasi tingkatan kecemasan yang dialami pasien.
3.
Untuk
membantu mengilangkan rasa takut dan mendorong kerja sama.
Rasional
|
Sumber: Herdman,
2015; Bulechek,
2016; Moorhead, 2016; dan Wilkinson, 2011.
2.2 Diskolasi
2.2.1
Definisi
Dislokasi
adalah terlepasnya kompresi jaringan tulang dari kesatuan sendi. Dislokasi ini
dapat hanya komponen tulangnya saja yang bergeser atau terlepasnya seluruh
komponen tulang dari tempat yang seharusnya (dari mangkuk sendi). Seseorang
yang tidak dapat mengatupkan mulutnya kembali sehabis membuka mulutnya adalah
karena sendi rahangnya terlepas dari tempatnya (Rejo, 2013).
Dislokasi
adalah deviasi hubungan normal antara rawan yang satu dengan rawan yang lainnya
sudah tidak menyinggung satu dengan lainnya. Dislokasi sendi adalah fragmen
frakrtur saling terpisah dan menimbulkan deformitas. Dislokasi
sendi adalah menggambarkan individu yang mengalami
atau beresiko tinggi untuk mengalami perubahan posisi tulang dari posisinya
pada sendi (Rejo, 2013).
Dislokasi
sendi adalah suatu keadaan dimana permukaan sendi tulang yang membentuk sendi
tak lagi dalam hubungan anatomis. Dislokasi sendi
atau luksasio adalah tergesernya permukaan tulang yang membentuk
persendian terhadap tulang lain. Dislokasi
terjadi saat ligarnen rnamberikan jalan sedemikian rupa sehingga tulang berpindah dari posisinya yang normal di dalam sendi.
Dislokasi dapat disebabkan oleh faktor penyakit atau trauma karena dapatan
(acquired) atau karena sejak lahir (kongenital) (Rejo, 2013).
Dislokasi merupakan terlepasnya kompesi tulang dari kesatuan
sendi dislokasi ini bisa saja haya komponen tulangnya saja yang bergeser atau
bisa juga terlepasnya seluruh komponen tulang dari
tempat yang seharusnya (http//www.idmedis.com/2015/09/pengertian-fraktur-atau-patah-tulang-dan-dislokasi-cara-pembidaian.html?m=1). Jadi, dapat disimpulkan bahwa dislokasi adalah
tergesernya sendi dari mangkuk sendi yang kemudian dapat menimbulkan
deformitas.
2.2.2
Etiologi
Dislokasi biasanya sering dikaitkan
dengan patah tulang/fraktur yang disebabkan oleh berpindahnya ujung tulang yang
patah oleh karena kuatnya trauma, tonus atau kontraksi otot dan tarikan. Dan biasanya
disebabkan oleh :
1. Kecelakaan
lalu lintas
Benturan keras pada sendi saat kecelakaan motor
biasanya menyebabkan dislokasi.
2. Trauma
tumpul.
3. Gerakan secara tiba-tiba dan berlebihan.
4. Cedera olahraga
Olahraga
yang biasanya menyebabkan dislokasi adalah sepak bola dan hoki, serta olah raga
yang beresiko jatuh misalnya : terperosok akibat bermain ski, senam, volley.
Pemain basket dan pemain sepak bola paling sering mengalami dislokasi pada
tangan dan jari-jari karena secara tidak sengaja menangkap bola dari pemain
lain.
5. Terjadi infeksi di sekitar sendi.
6. Trauma akibat pembedahan ortopedi.
7. Akibat kelainan pertumbuhan sejak lahir.
(Rejo, 2013).
2.2.3 Tanda dan Gejala
Menurut Smeltzer, 2001, tanda
dan gejala
pada dislokasi biasanya akan
terlihat melalui kejanggalan yang muncul pada bentuk sendi, misalnya:
a)
Perubahan kontur sendi.
b)
Muncul benjolan aneh di
dekat tempurung atau soket sendi.
c)
Sendi
juga akan mengalami pembengkakan
d)
Lebam.
e)
Perubahan panjang
ekstremitas.
f)
Kehilangan mobilitas
normal.
g)
Perubahan sumbu tulang
yang mengalami dislokasi.
h)
Kekakuan.
i) Nyeri akut.
j) Teraba adanya benjolan tulang akibat pergeseran.
k)
Bentuk tangan abnormal.
l) Kerusakan fungsi.
m) Deformitas
pada persendiaan.
n)
Gangguan
gerakan
Otot-otot
tidak dapat bekerja dengan baik pada tulang tersebut.
o)
Pembengkakan
Pembengkakan
ini dapat parah pada kasus trauma dan dapat menutupi deformitas.
p)
Rasa
nyeri sering terdapat pada dislokasi
Sendi
bahu, sendi siku, metakarpal phalangeal dan sendi pangkal paha servikal.
Cidera ini termasuk
kondisi darurat yang membutuhkan penanganan medis untuk mengembalikan tulang
pada posisi yang seharusnya (www.alodokter.com/dislokasi).
2.2.4
Patofisiologi
Sumber : www.academia.edu/11892322/Dislokasi
2.2.5
Komplikasi
1) Kerusakan syaraf atau pembuluh darah
pada atau di sekitar sendi.
2) Sobeknya otot, ligament, dan tendon pada
sendi yang cidera seiring bertambahnya
usia.
3) Munculnya arthritis pada sendi yang
cidera.
4) Meningkatkan kemungkinan cedera kembali
terjadi.
(www.alodokter.com/dislokasi)
2.2.6
Penatalaksanaan
Medis
1.
Medis
a.
Farmakologi
1) Pemberian
obat obatan : analgesic non narkotik.
2)
Analsik yang berfungsi untuk
mengatasi nyeri otot, sendi, sakit kepala, nyeri pinggang.
3) Bismantan
yang berfungsi untuk menghilangkan nyeri ringan atau sedang, kondisi akut atau
kronis termasuk nyeri persendian, nyeri otot.
b.
Pembedahan
1. Operasi
ortopedi
Operasi
ortopedi merupakan spesialisasi medis yang mengkhususkan pada pengendalian
medis dan bedah para pasien yang memiliki kondisi kondisi arthritis yang
mempengaruhi persendian utama, pinggul, lutut dan bahu melalui bedah invasive
minimal dan bedah penggantian sendi. Prosedur pembedahan yang sering dilakukan
meliputi reduksi terbuka dengan fiksasi interna atau disingkat ORIF (open
reduction and fixation). Berikut jenis jenis pembedahan ortopedi dan
indikasinya yang lazim dilakukan:
a. Reduksi
terbuka: melakukan reduksi dan membuat kesajajran tulang yang patah setelah
terlebih dahulu dilakukan diseksi dan pemajanan tulang yang patah.
b. Fiksasi
interna: stabilisasi patah tulang yang telah direduksi dengan skrup, plat,
paku, dan pin logam.
c. Graft
tulang: penggantian jaringan tulang untuk memperbaiki penyembuhan untuk
menstabilisasi atau mengganti tulang yang berpenyakit.
d. Amputasi:
penghilangan bagian tubuh.
e. Artroplasti:
memperbaiki masalah sendi dengan artroskop (suatu alat yang memungkinkan ahli
bedah mengoperasi dalamnya sendi tanpa irisan yang besar) atau melalui
pembedahan sendi terbuka.
f. Menisektomi:
eksisi fibrokartilago sendi yang telah rusak.
g. Penggantian
sendi: penggantian permukaan sendi dengan bahan logam atau sintesis.
h. Penggantian
sendi total: penggantian kedua permukaan artikuler dalam sendi dengan logam
atau sintesis
2. Non Medis
a. Dislokasi
reduksi dikembalikan ketempat semula dengan menggunakan anastesi jika dislokasi
berat
RICE
R: rest (istirahat).
I: ice (kompres dengan
es).
C: compression
(kompresi/pemasangan pembalut tekan).
E: elevasi (meninggikan
bagian dislokasi).
b. Pencegahan
1) Cedera
akibat olahraga
a. Gunakan
peralatan yang diperlukan seperti sepatu untuk lari.
b. Latihan.
c. Conditioning.
2) Trauma
kecelakaan
a.
Kurangi kecepatan.
b.
Memakai alat pelindung
diri seperti helm, sabuk pengaman.
c.
Patuhi peraturan lalu
lintas.
2.2.7
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan
laboratorium dasar, pemeriksaan kimia darah, hitung sel darah lengkap,
penentuan golongan darah dan uji silang, hitung trombosit, urinalisasi,dan
penentuan gula darh, BUM dan elektrolit,pemeriksaanlainyabisajugadengan:
1. Sinar-X
(Rontgen)
Pemeriksaan rontgen merupakan pemeriksaan
diagnostik noninvasif untuk membantu menegakkan diagnosa medis. Pada pasien
dislokasi sendi ditemukan adanya pergeseran sendi dari mangkuk sendi dimana tulang dan sendi
berwarna putih.
2. CT scan
CT-Scan yaitu pemeriksaan sinar-X yang lebih
canggih dengan bantuan komputer, sehingga memperoleh gambar yang lebih detail dan
dapat dibuat gambaran secara 3 dimensi. Pada pasien dislokasi ditemukan gambar 3 dimensi dimana sendi tidak
berada pada tempatnya.
3. MRI
MRI merupakan pemeriksaan yang menggunakan
gelombang magnet dan frekuensi radio tanpa menggunakan sinar-X atau bahan radio
aktif, sehingga dapat diperoleh gambaran tubuh (terutama jaringan lunak) dengan
lebih detail. Seperti halnya CT-Scan, pada pemeriksaan MRI ditemukan adanya
pergeseran sendi dari mangkuk sendi.
4.
Radiologi
Untuk memastikan arah dislokasi dan
apakah disertai fraktur.
5.
Arterigram
Bila kerusakan vaskuler dicurigai.
6.
Laboratorium
Trauma otot meningkatkan beban
kreatinin untuk klirens ginjal.
(Rejo,
2013)
2.2.8
Konsep
Asuhan Keperawatan
2.2.8.1 Pengkajian
Pengkajian merupakan
tahap awal dari proses keperawatan untuk mengumpulkan data pasien dengan
menggunakan tehnik wawancara, observasi, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang tetapi pada pasien dislokasi difokuskan pada :
1)
Keluhan Utama
Keluhan utama pada
pasien dislokasi adalah psien mengeluhkan adanya nyeri. Kaji penyebab,
kualitas, skala nyeri dan saat kapan nyeri meningkat dan saat kapan nyeri
dirasakan menurun.
2) Riwayat Penyakit
Sekarang
Pasien biasanya
mengeluhkan nyeri pada bagian yang terjadi dislokasi, pergerakan terbatas,
pasien melaporkan penyebab terjadinya cedera.
3) Riwayat Penyakit Dahulu
Pada pengkajian ini
ditemukan kemungkinan penyebab dislokasi, serta penyakit yang pernah diderita
klien sebelumnya yang dapat memperparah keadaan klien dan menghambat proses
penyembuhan.
4) Pemeriksaan Fisik
Tampak adanya perubahan
kontur sendi pada ekstremitas yang mengalami dislokasi,
tampak
perubahan panjang ekstremitas pada daerah yang mengalami dislokasi,
adanya
nyeri tekan pada daerah dislokasi, tampak adanya lebam pada
dislokasi sendi.
5)
Kaji 14 kebutuhan dasar Henderson
Untuk dislokasi dapat
difokuskan kebutuhan dasar manusia yang terganggu adalah:
a.
Rasa nyaman (nyeri) : pasien dengan dislokasi
biasanya mengeluhkan nyeri pada bagian dislokasi yang dapat mengganggu
kenyamanan klien.
b.
Gerak dan aktivitas: pasien dengan dislokasi
dimana sendi tidak berada pada tempatnya semula harus diimobilisasi. Klien
dengan dislokasi pada ekstremitas dapat mengganggu gerak dan aktivitas klien.
c.
Makan minum: pasien yang mengalami dislokasi
terutama pada rahang sehingga klien mengalami kesulitan mengunyah dan menelan.
Efeknya bagi tubuh yaitu ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh.
d.
Rasa aman(ansietas): klien dengan dislokasi
tentunya mengalami gangguan rasa aman atau cemas(ansietas) dengan kondisinya.
2.2.8.2 Diagnosa Keperawatan
1) Nyeri berhubungan dengan agen cedera fisik (trauma), agen
cedera biologis (gerakan fragmen tulang).
2) Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan
kelemahan.
3) Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan imobilisasi
fisik.
4) Defisiensi
pengetahuan berhubungan
dengan kurang informasi.
(Herdman,
2015)
2.2.7.3 Rencana Keperawatan
|
No
|
Diagnosa
Keperawatan
|
Tujuan
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
1
No
|
Nyeri
berhubungan dengan agen cedera fisik (trauma), agen cedera biologis (gerakan
fragmen tulang).
Diagnosa Keperawatan
|
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama
2x24 jam nyeri berkurang atau hilang dengan kriteria hasil :
1) Skala
nyeri 1 (dari 1-10).
2) TTV
dalam batas normal (TD : 120/80 mmHg,
RR: 12-20x/menit, S: 36-37,5o C, N: 60-100x/menit).
3) Pasien
tampak rileks.
Tujuan
|
1. Kaji nyeri.
2. Jelaskan penyebab nyeri.
3. Dorong pasien menyatakan masalah,
mendengar dengan aktif pada masalah
ini dan berikan dukungan dengan menerima, tinggal dengan pasien
berikan imformasi yang
Intervensi
tepat.
4.Dorong
penggunaan
tehnik relaksasi, (imajinasi, visualisasi, aktivitas terapeutik.
5. Berikan tindakan kenyamanan contoh
pijat punggung, penguatan posisi (penggunaan tindakan dukungan sesuai
kebutuhan).
6. Berikan obat analgesik sesuai indikasi.
|
1.Membantu mengevaluasi
derajat ketidakanyaman dan keefektifan analgesik atau menyatakan
terjadinya komplikasi.
2. Informasi memberikan data dasar untuk mengevaluasi kebutuhan
dan keefektifan intervensi.
3. Penurunan
ansietas atau takut meningkatkan relaksasi kenyamanan.
Rasional
7.
Menurunkan tegangan
otot, meningkatkan
relaksasi dan dapat meningkatkan kemampuan koping, menurunkan nyeri dan ketidakanyamanan.
5. Menghilangkan
nyeri, meningkatkan kenyamanan dan meningkatkan istirahat. membantu klien
dalam mengatsi kecemasan terhadap nyeri.
6. Menghilangkan
nyeri, meningkatkan kenyamanan dan meningkatkan istirahat.
|
|
2
No
|
Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan.
Diagnosa Keperawatan
|
Setelah diberikan asuhan
keperawatan selama 2x24 jam pasien dapat melakukan mobilitas fisik secara
mandiri dengan kriteria hasil:
1) Pasien
meningkat dalam aktivitas fisik.
Tujuan
2) Mengerti
tujuan dari peningkatan mobilitas fisik.
3) Mampu
untuk mobilisasi.
|
1. Kaji keterbatasan aktivitas,
perhatikanadanya/derajat/keterbatasan /kemampuan.
2. Jelaskan penyebab kelemahan.
3.Ubah
posisi setiap 2 jam bila tirah baring: dukung
Intervensi
bagian
tubuh yang sakit/sendi dengan bantal, gulungan, bantalan siku/tumit sesuai
indikasi.
4. Bantu dalam latihan
rentang gerak aktif/pasif.
5. Berikan
pijatan kulit, pertahankan kebersihan dan kekeringan kulit. pertahankan linen
kering dan bebas kerutan.
6. Berikan tempat tidur busa/kapuk.
|
1. Mempengaruhi pilihan intervensi.
2. Informasi dapat meningkatkan
perubahan perilaku.
3.Menurunkan ketidaknyamanan, mempertahankan kekuatan
Rasional
otot/mobilitas sendi, meningkatkan
sirkulasi, dan mencegah kerusakan kulit.
4. Mempertahankan kelenturan
sendi, mencegah kontraktur, dan membantu dalam menurunkan ketegangan otot.
5.
Merangsang sirkulasi: mencegah iritasi kulit
6.
Menurunkan tekanan jaringan dan dapat meningkatkan sirkulasi, sehingga
menurunkan resiko iskemia/kerusakan dermal.
|
|
3
No
|
Kerusakan
integritas kulit berhubungan dengan imobilisasi fisik.
Diagnosa Keperawatan
|
Setelah
diberikan asuhan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan masalah kerusakan
integritas kulit dapat teratasi dengan kriteria hasil:
Tujuan
1. Tidak
ada kerusakan pada lapisan kulit.
2. Tidak
ada kerusakan pada permukaan kulit.
3. Integritas kulit yang baik bisa
dipertahankan (sensasi, elastisitas, temperatur, hidrasi, pigmentasi).
4.
Luka menunjukkan peningkatan kesembuhan.
|
1. Kaji kulit, kemerahan dan perubahan warna kulit.
2. Jelaskan
penyebab
Intervensi
kerusakan
kulit
3. Selidiki nyeri tiba-tiba/keterbatasan gerakan dengan
edema lokal/eritema ekstremitas cedera.
4. Kolaborasi dalam pemberian obat antibiotik sesuai
indikasi.
|
1. Memberikan informasi tentang sirkulasi kulit dan
masalah yang mungkin disebabkan balutan/ikatan perban dan imobilisasi
lama.
2. Informasi dapat
Rasional
merubah prilaku klien untuk mencegah
terjadinya dekubitus.
3. Dapat mengidentifikasi terjadinya osteomielitis.
4. Antibiotik dapat meminimalkan resiko terjadi
infeksi.
|
|
4
No
|
Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan
kurang informasi.
Diagnosa Keperawatan
|
Setelah
diberikan asuhan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan masalah nyeri akut
dapat teratasi dengan kriteria hasil:
1. TTV
normal (TD= 120/80 mmHg, RR= 12-20x/menit, S= 36-37,5 derajat Celcius, N= 60-
Tujuan
100x/menit).
2. Wajah
tidak meringis kesakitan.
3. Skala
1 (dari 1-10).
4. Tidak
menunjukkan adanya peradangan lebih parah.
|
1.
Kaji pengetahuan klien tentang penyakit dan harapan
masa datang.
2. Jelaskan
secara singkat dan sederhana mengenai penyakit.
Intervensi
3.
Beri kesempatan untuk bertanya.
4. Jelaskan
pentingnya kerjasama klien dengan tenaga kesehatan.
|
1. Kesempatan
untuk menjelaskan kesalahan konsepsi mengenai situasi individu.
2. Memberikan pengetahuan dimana klien
dapat membuat pilihan berdasarkan informasi dan kesempatan untuk menjelaskan
kesalahan konsepsi mengenai situasi individu.
Rasional
3.
Dapat mempercepat proses penyembuhan penyakit.
4. Memberikan
pengetahuan dimana klien dapat membuat pilihan berdasarkan informasi.
|
Sumber: Herdman, 2015; Bulechek,
2016; Moorhead, 2016; Rejo, 2013; dan
Wilkinson, 2011.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Fraktur
adalah patahnya tulang yang ditandai dengan terputusnya jaringan tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. Fraktur tertutup (closed): bila tidak terdapat hubungan antara
fragmen tulang dengan dunia luar, disebut dengan fraktur bersih (karena kulit
masih utuh) tanpa komplikasi. Fraktur terbuka (open/compound): bila terdapat hubungan antara
fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan di kulit.
Sedangkan dislokasi adalah tergesernya sendi dari mangkuk
sendi yang kemudian dapat menimbulkan deformitas. Dislokasi
biasanya sering dikaitkan dengan patah tulang/fraktur yang disebabkan oleh
berpindahnya ujung tulang yang patah oleh karena kuatnya trauma, tonus atau
kontraksi otot dan tarikan. Masalah
tersebut harus diantisipasi dan diatasi agar tidak terjadi komplikasi. Peran
perawat sangat penting dalam perawatan pasien terutama dalam pemberian asuhan
keperawatan pada pasien
3.2 Saran
Melalui makalah ini, kami selaku penyusun makalah ini berharap
agar pembaca senantiasa memperdulikan akan kesehatannya sendiri, lingkungan dan
sekitarnya juga kehati-hatian
dalam kehidupan sehari-hari agar terhindar dari fraktur dan disklokasi.
DAFTAR PUSTAKA
Bulechek,
Gloria M. dkk. 2016. Nursing
Interventions Classification (NIC) Edisi Bahasa Indonesia.Yogyakarta:
MocoMedia.
DiGiulio,
Mary dkk. 2014. Keperawatan Medikal Bedah.
Yogyakarta: Rapha Publishing.
Herdman,
T. Heather dan S. Kamitsuru.
2015. NANDA International Inc. DIAGNOSIS KEPERAWATAN : Definisi
dan Klasifikasi 2015-2017 Edisi 10. Jakarta: EGC.
Moorhead, Sue
dkk. 2016. Nursing Outcomess
Classification (NOC) Edisi Bahasa Indonesia.Yogyakarta: MocoMedia.
Nurarif, Amin
Huda dan Hardhi Kusuma. 2015.
APLIKASI
KEPERAWATAN BERDASARKAN
DIAGNOSA MEDIS
& NANDA NIC-NOC.
Yogyakarta: Media Action Publishing.
Rejo,
2013. GAMBARAN PELAKSANAAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN
DENGAN DISLOKASI, JKèm-U,
Vol. V, No. 15. Surakarta: Akademi
Keperawatan Mamba’ul ‘Ulum.
Septadina,
Indri Seta. 2015. Prinsip Penatalaksanaan
Dislokasi Sendi Temporomandibular. Palembang
: Bagian Anatomi, Fakultas Kedokteran, Universitas Sriwijaya.
Smeltzer, Suzanne C. dan Brenda G. Bare. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah edisi
8. Jakarta: EGC.
Wilkinson, Judith M. Dan Nancy R. Ahern. 2011. Buku Saku Diagnosis Keperawatan Edisi 9. Jakarta: EGC.
http://askep.asuhan-keperawatan.com/2014/09/lp-fraktur-88783.html (diakses pada tanggal 18 Oktober 2016)
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/135/jtptunimus-gdl-nurhidayah-6731-1-babi.pdf (diakses pada tanggal 18 Oktober 2016)
http//www.idmedis.com/2015/09/pengertian-fraktur-atau-patah-tulang-dan-dislokasi-cara-pembidaian.html?m=1 (diakses pada tanggal 18 Oktober 2016)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar