Selasa, 07 Februari 2017

ASUHAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH DENGAN GANGGUAN MUSKULOSKELETAL DENGAN KASUS: FRAKTUR DAN DISLOKASI




photo.jpg.pngASUHAN  KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH  DENGAN GANGGUAN MUSKULOSKELETAL DENGAN KASUS: FRAKTUR DAN DISLOKASI




 

                                                                                                                                                                                           
Disusun Oleh :
Affin Aknatikharin (14002)
Dianatul Azhimah (14008)
Fikri Dienul Hakim (14014)
Libriana Oktavia (14019)
Muhamad Suyatna (14024)
Reza Dwi Puspita (14031)
Windiarsih (14039)

Tingkat/Semester: III/V

STIKES RAFLESIA DEPOK
Tahun Ajaran 2016/2017






KATA PENGANTAR
           
Puji dan syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan penulisan makalah tentang “ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN GANGGUAN SISTEM MUSKULOSKELETAL: FRAKTUR DAN DISLOKASI” ini dengan baik. Makalah ini disusun sebagai tugas mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah II.
Adapun makalah ini kami susun berdasarkan pengamatan kami dari buku yang ada kaitannya dengan makalah yang kami buat. Dalam penyusunan makalah ini tentunya tidak lepas dari adanya bantuan dari pihak tertentu, oleh karena itu kami tidak lupa mengucapkan banyak terima kasih kepada orang tua kami, dosen pembimbing kami, dan teman-teman kami yang telah membantu hingga selesainya makalah ini.
Dalam penyusunan makalah ini kami menyadari masih banyak kekurangan dan kelemahannya. Oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk menyempurnakan makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat untuk para pembaca.



Depok, Oktober 2016

         Kelompok 3





DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...................................................................................................... i
DAFTAR ISI..................................................................................................................... ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar belakang............................................................................................................. 1
1.2  Tujuan.......................................................................................................................... 2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Fraktur
2.1.1 Definisi....................................................................................................................... 4
2.1.2 Etiologi....................................................................................................................... 5
2.1.3 Tanda dan gejala...................................................................................................... 5
2.1.4 Patofisiologi............................................................................................................... 6
2.1.5 Komplikasi................................................................................................................ 7
2.1.5 Penatalaksanaan Medis............................................................................................ 7
2.1.6 Pemeriksaan Penunjang .........................................................................................  8
2.1.7 Konsep Asuhan Keperawatan................................................................................ 8
2.2 Dislokasi
2.2.1 Definsi .......................................................................................................................  17
2.2.2 Etiologi ......................................................................................................................  18
2.2.3 Tanda dan Gejala ....................................................................................................  18
2.2.4 Patofisiologi ..............................................................................................................  19
2.2.5 Komplikasi ...............................................................................................................  20
2.2.6 Penatalaksanaan Medis ...........................................................................................  20
2.2.7 Pemeriksaan Penunjang .........................................................................................  22
2.2.7 Konsep Asuhan Keperawatan ...............................................................................  23

BAB III
3.1 Kesimpulan.................................................................................................................. 29
3.2 Saran............................................................................................................................. 29
DAFTAR PUSTAKA

 







BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Badan kesehatan dunia (WHO) mencatat di tahun 2011 terdapat lebih dari 5,6 juta orang meninggal dikarenakan insiden kecelakaan dan sekitar 1.3 juta orang mengalami kecacatan fisik. Salah satu insiden kecelakaan yang memiliki prevalensi cukup tinggi yaitu insiden fraktur ekstrimitas bawah sekitar 40% dari insiden kecelakaan yang terjadi. Fraktur merupakan suatu keadaan dimana terjadi diintegritas pada tulang (http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/135/jtptunimus-gdl-nurhidayah-6731-1-babi.pdf).
Penyebab terbanyaknya adalah insiden kecelakaan, tetapi faktor lain seperti proses degeneratif dan osteoporosis juga dapat berpengaruh terhadap terjadinya fraktur. Kecelakaan lalu lintas dan kecelakaan kerja merupakan suatu keadaan yang tidak di inginkan yang terjadi pada semua usia dan secara mendadak. Angka kejadian kecelakaan lalu lintas di kota Semarang sepanjang tahun 2011 mencapai 217 kasus, dengan korban meninggal 28 orang, luka berat 40 orang, dan luka ringan sejumlah 480 orang (http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/135/jtptunimus-gdl-nurhidayah-6731-1-babi.pdf).
Berbagai penyebab fraktur diantaranya cidera atau benturan, faktor patologik,dan yang lainnya karena faktor beban. Selain itu fraktur akan bertambah dengan adanya komplikasi yang berlanjut diantaranya syok, sindrom emboli lemak, sindrom kompartement, kerusakan arteri, infeksi, dan avaskuler nekrosis. Komplikasi lain dalam waktu yang lama akan terjadi mal union, delayed union, non union atau bahkan perdarahan (http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/135/jtptunimus-gdl-nurhidayah-6731-1-babi.pdf).
Berbagai tindakan bisa dilakukan di antaranya rekognisi, reduksi, retensi, dan rehabilitasi. Meskipun demikian masalah pasien fraktur tidak bisa berhenti sampai itu saja dan akan berlanjut sampai tindakan setelah atau post operasi. Berdasarkan data dari catatan medik Ruang Umar Rumah Sakit Roemani Semarang, jumlah penderita fraktur selama 1 tahun terakhir ini yaitu dari bulan Mei 2011 sampai April 2012 sebanyak 32 pasien, dari jumlah pasien yang mengalami fraktur cruris ada 10 pasien (Catatan medik Ruang Umar Rumah Sakit Roemani Semarang) (http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/135/jtptunimus-gdl-nurhidayah-6731-1-babi.pdf).
Etiologi dislokasi pada 60% kasus disebabkan olehtrauma akibat jatuh, kecelakaan lalu lintas, kecelakaan rumah tangga, kekerasan, dan penyebab lain seperti membuka mulut yang berlebihan saat menguap, tertawa, bernyanyi, membuka mulut berkepanjangan dari prosedur lisan dan THT, membuka mulut secara kuat dari prosedur anestesi dan endoskopi memberikan kontribusi sekitar 40%. Dari semua kasus yang dikaji, hanya ditemukan 4 kasus dislokasi unilateral. Sebanyak 63 kasus dislokasi akut dirawat dengan reduksi manual tanpa disertai anestesi sementara 2 kasus dirawat dengan disertai pemberian analgesia IV dan obat penenang, dan sebanyak 14 kasus diberikan tindakan reduksi manual dengan bantuan anestesi umum, 3 kasus dilakukan reduksi dengan bantuan refleks muntah (Septadina, 2015).
Fenomena yang ada di rumah sakit menunjukan bahwa pasien di rumah sakit mengalami berbagai masalah keperawatan. Masalah tersebut harus di antisipasi dan di atasi agar tidak terjadi komplikasi. Peran perawat sangat penting dalam perawatan pasien terutama dalam pemberian asuhan keperawatan pada pasien (http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/135/jtptunimus-gdl-nurhidayah-6731-1-babi.pdf).

1.2  Tujuan
1.      Tujuan Umum
Untuk pembelajaran Mata Kuliah KMB II pada sub bab sistem muskuloskeletal, yang terfokus pada asuhan keperawatan pada kasus fraktur dan dislokasi.

2.      Tujuan Khusus
a.       Agar dapat mengetahui, menjelaskan dan memahami definisi pada kasus fraktur dan dislokasi.
b.      Agar dapat mengetahui, menjelaskan dan memahami etiologi pada kasus fraktur dan dislokasi.
c.       Agar dapat mengetahui, menjelaskan dan memahami tanda dan gejala pada kasus fraktur dan dislokasi.
d.      Agar dapat mengetahui, menjelaskan dan memahami patofisiologi pada kasus fraktur dan dislokasi.
e.       Agar dapat mengetahui, menjelaskan dan memahami komplikasi pada kasus fraktur dan dislokasi.
f.       Agar dapat mengetahui, menjelaskan dan memahami penatalaksanaan medis  pada kasus fraktur dan dislokasi.
g.      Agar dapat mengetahui, menjelaskan dan memahami pemeriksaan penunjang  pada kasus fraktur dan dislokasi.
h.      Agar dapat mengetahui, menjelaskan, memahami dan menerapkan asuhan keperawatan pada kasus fraktur dan dislokasi.


















BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Fraktur
2.1.1        Definisi
Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik. Kekuatan dan sudut dari tenaga tersebut, keadaan tulang, dan jaringan lunak disekitar tulang akan menentukan apakah fraktur yang terjadi itu lengkap atau tidak lengkap (Nurarif, 2015).  Fraktur merupakan sebuah istilah medis yang berarti terjadinya patah tulang yang ditandai dengan kondisi dimana hubungan kesatuan jaringa tulang terputus (http//www.idmedis.com/2015/09/pengertian-fraktur-atau-patah-tulang-dan-dislokasi-cara-pembidaian.html?m=1). Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya (DiGiulio, 2014). Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya jaringan tulang dan atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa. Fraktur adalah pemisahan atau patah tulang  (http://askep.asuhan-keperawatan.com/2014/09/lp-fraktur-88783.html).
Fraktur dapat dibagi menjadi:
1.      Fraktur tertutup (closed)
Dikatakan tertutup bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar, disebut dengan fraktur bersih (karena kulit masih utuh) tanpa komplikasi. Pada fraktur tertutup ada klasifikasi tersendiri yang berdasarkan keadaan jaringan lunak sekitar trauma, yaitu:
1)      Tingkat 0 : fraktur biasa dengan sedikit atau tanpa cedera jaringan lunak sekitarnya.
2)      Tingkat 1 : fraktur dengan abrasi dangkal atau memar kulit dan jaringan subkutan.
3)      Tingkat 2 : fraktur yang lebih berat dengan kontusio jaringan lunak bagian dalam dan pembengkakan.
4)      Tingkat 3 : Cedera berat dengan kerusakan jaringan lunak yang nyata dan ancaman sindroma kompartement.

2.      Fraktur terbuka (open/compound)
Dikatakan terbuka bila terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan di kulit. Bila tulang yang patah menembus otot dan kulit yang memungkinkan / potensial untuk terjadi infeksi dimana kuman dari luar dapat masuk ke dalam luka sampai ke tulang yang patah.
Derajat patah tulang terbuka :
1)      Derajat I
Laserasi < 2 cm, fraktur sederhana, dislokasi fragmen minimal.
2)      Derajat II
Laserasi > 2 cm, kontusio otot dan sekitarnya, dislokasi fragmen jelas.
3)      Derajat III
Luka lebar, rusak hebat, atau hilang jaringan sekitar.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa fraktur adalah patahnya tulang yang ditandai dengan terputusnya jaringan tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya.

2.1.2        Etiologi
Fraktur dapat disebabkan oleh pukulan langsung, gaya meremuk, gerakan puntir mendadak dan bahkan konstraksi otot ekstrem. Meskipun tulang patah, jaringan sekitarya juga akan terpengaruh, mengakibatkan edema jaringan lunak, perdarahan ke otot dan sendi, dislokasi sendi, rupture tendo, kerusakan saraf dan kerusakan pembuluh darah (Smeltzer, 2001).

2.1.3        Tanda dan Gejala
  1. Pendarahan lokal-tindak perubahan warna kulit mungkin atau mungkin tidak terlihat; tergantung jumlah darah yang hilang dan jarak antara fraktur kulit. Perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur.
  2. Terdapat rasa nyeri yang sangat pada daerah fraktur.
  3. Terdapat trauma (kecelakaan, jatuh dari ketinggian atau jatuh di kamar mandi pada orang tua, penganiayaan, tertimpa benda berat, kecelakaan kerja, trauma olahraga).
  4. Deformitas.
  5. Edema pada lokasi karena reaksi radang akibat kerusakan jaringan.
  6. Kelainan gerak karena rentang gerak abnormal-membutuhkan tulang yang utuh agar otot menarik dan menciptakan gerakan; jika fraktur terjadi dekat sendi, bengkak dapat membatasi rentang gerak.
  7. Terjadi pemendekan tulang karena konstraksi otot yang melekat di atas dan bawah tempat fraktur.
  8. Krepitasi akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainnya.
(Smeltzer, 2001, dan Nurarif, 2015)

2.1.4        Patofisiologi (Pathway)
Trauma langsung
Trauma tidak langsung
Kondisi patologis
Fraktur
 




Diskontinuitas tulang
Pergeseran fragmen tulang
Nyeri Akut
Perubahan jaringan sekitar
Kerusakan fragmen tulang
Pergeseran fragmen tulang
Spasme otot
Tekanan sumsum tulang lebih tinggi dari kapiler
Deformitas
Peningkatan tekanan kapiler
Melepaskan katekolamin
Gangguan fungsi ekstremitas
Hambatan mobilitas fisik
Laserasi kulit
Protein plasma hilang
Edema
Metabolisme asam lemak
Bergabung dengan trombosit
Emboli
Penekanan pembuluh darah
Menyumbat pembuluh darah
Putus vena/arteri
Kerusakan integritas kulit
Resiko Infeksi
Perdarahan
Kehilangan volume cairan
Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer
Resiko syok (hipovolemik)
 
























Sumber: Nurarif, 2015.

2.1.5        Komplikasi
Komplikasi Awal
1.      Syok hipovolemik atau traumatic, akibat perdarahan (baik kehilagan darah ekstena maupun yang tak kelihatan) dan kehilangan cairan eksrasel ke jaringan yang rusak.
2.      Sindrom emboli lemak, setelah fraktur terjadi dapat terjadi emboli lemak, khususnya pada dewasa muda (20 samapi 30 tahun) pria.

Komplikasi Lambat
1.      Penyatuan terlambat atau tidak ada penyatuan.
2.      Nekrosis avaskuler tulang.
3.      Reaksi terhadap alat fiksasi interna.
(http://askep.asuhan-keperawatan.com/2014/09/lp-fraktur-88783.html)

2.1.6        Penatalaksanaan Medis       
1.      Reduksi
Reduksi fraktur berarti mengembalikan fragmen tulang pada kesejajarannya dan rotasi anatomis. Reduksi tertutup, mengembalikan fragmen tulang ke posisinya (ujung ujungnya saling berhubungan) dengan manipulasi dan traksi manual. Alat yang digunakan biasanya traksi, bidai dan alat yang lainnya. Reduksi terbuka, dengan pendekatan bedah. Alat fiksasi interna dalam bentuk pin, kawat, sekrup, plat, paku.
2.      Imobilisasi
Imobilisasi dapat digunakan dengan metode eksterna dan interna , mempertahankan dan mengembalikan fungsi status neurovaskuler selalu dipantau meliputi peredaran darah, nyeri, perabaan, gerakan. Perkiraan waktu imobilisasi yang dibutuhkan untuk penyatuan tulang yang mengalami fraktur adalah sekitar 3 bulan.
 (Nurarif, 2015)

2.1.7        Pemeriksaan Penunjang
1)      X-ray: menentukan lokasi atau luasnya fraktur.
2)      Scan tulang: memperlihatkan fraktur lebih jelas, mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak.
3)      Arteriogram: dilakukan untuk memastikan ada tidaknya kerusakan vaskuler.
4)      Hitung darah lengkap: hemokonsentrasi mungkin meningkat, menurun pada perdarahan, peningkatan leukosit sebagai respon terhadap peradangan.
5)      Kretinin: trauma otot meningkatkan beban kretinin untuk klirens ginjal.
6)      Profil koagulasi: perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah, transfuse atau cedera hati.
(Nurarif, 2015)


2.1.8        Konsep Asuhan Keperawatan
2.1.8.1  Pengkajian
2.1.8.1.1 Anamnesa
1.      Identitas Klien
Meliputi nama, jenis kelamin, umur, alamat, agama, pendidikan.
2.      Keluhan Utama
Pada umumnya keluhan utama pada kasus fraktur adalah rasa nyeri. Nyeri tersebut bisa akut atau kronik tergantung dan lamanya serangan. Untuk memperoleh pengkajian yang lengkap tentang rasa nyeri klien digunakan:
a.      Provoking Incident: apakah ada peristiwa yang menjadi yang menjadi faktor presipitasi nyeri.
b.      Quality of Pain: seperti apa rasa nyeri yang dirasakan atau digambarkan klien. Apakah seperti terbakar, berdenyut, atau menusuk.
c.        Region : radiation, relief: apakah rasa sakit bisa reda, apakah rasa sakit menjalar atau menyebar, dan dimana rasa sakit terjadi.
d.      Severity (Scale) of Pain: seberapa jauh rasa nyeri yang dirasakan klien, bisa berdasarkan skala nyeri atau klien menerangkan seberapa jauh rasa sakit mempengaruhi kemampuan fungsinya.
Dapat diukur dengan skala nyeri yaitu :
Wong-Baker faces pain scale
        Tampilan skala gambar atau warna juga dapat membantu klien dalam menggambarkan nyeri yang ia rasakan apabila klien mengalami kesulitan menggunakan skala.

e.       Time: berapa lama nyeri berlangsung, kapan, apakah bertambah buruk pada malam hari atau siang hari.

3.      Riwayat Penyakit Sekarang
        Pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan sebab dari fraktur, yang nantinya membantu dalam membuat rencana tindakan terhadap klien. Ini bisa berupa kronologi terjadinya penyakit tersebut sehingga nantinya bisa ditentukan kekuatan yang terjadi dan bagian tubuh mana yang terkena. Selain itu, dengan mengetahui mekanisme terjadinya kecelakaan bisa diketahui luka kecelakaan yang lain
4.      Riwayat Penyakit Dahulu
        Pada pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab fraktur dan memberi petunjuk berapa lama tulang tersebut akan menyambung. Penyakit-penyakit tertentu seperti kanker tulang yang menyebabkan fraktur patologis yang sering sulit untuk menyambung. Selain itu, penyakit diabetes dengan luka di kaki sangat beresiko terjadinya osteomyelitis akut maupun kronik dan juga diabetes menghambat proses penyembuhan tulang.


5.      Riwayat Penyakit Keluarga
         Penyakit keluarga yang berhubungan dengan penyakit tulang merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya fraktur, seperti diabetes, osteoporosis yang sering terjadi pada beberapa keturunan, dan kanker tulang yang cenderung diturunkan secara genetik.

2.1.8.1.2 Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan awal penderita, perlu di perhatikannya adanya : Syok, anemia atau perdarahan, kerusakan pada organ-organ lain, misalnya otak, sumsum tulang belakang atau organ-organ dalam rongga toraks, panggul dan abdomen, fraktur predisposisi, misalnya pada fraktur patalogis. Keadaan umum : baik atau buruknya yang dicatat adalah tanda-tanda, seperti :
a.    Kesadaran penderita: apatis, sopor, koma, gelisah, komposmentis tergantung pada keadaan klien.
b.    Kesakitan, keadaan penyakit: akut, kronik, ringan, sedang, berat dan pada kasus fraktur biasanya akut.
c.    Tanda-tanda vital tidak normal karena ada gangguan baik fungsi maupun bentuk.
Keadaan Lokal        
Harus diperhitungkan keadaan proksimal serta bagian distal terutama mengenai status neurovaskuler. Pemeriksaan pada sistem muskuloskeletal adalah:
1)   Look (inspeksi). Perhatikan apa yang dapat dilihat antara lain:
a.     Fraktur tertutup dan terbuka.
b.    Deformitas : angulasi (medial, lateral, posterior atau anterior), diskrepensi (rotasi, perpendekan, perpanjangan).
c.     Kaji adanya bengkak atau kebiruaan.
d.    Kaji adanya fungsio laesa (hilangnya fungsi gerak).
2)   Feel (palpasi)
     Pada waktu akan palpasi, terlebih dahulu posisi penderita diperbaiki mulai dari posisi netral (posisi anatomi). Pada dasarnya ini merupakan pemeriksaan yang memberikan informasi dua arah, baik pemeriksa maupun klien. Yang perlu dicatat adalah:
a.    Palpasi seluruh ekstremitas dari proksimal hingga distal.
b.    Kaji adanya tenderness ( nyeri tekan) pada daerah fraktur.
c.    Kaji area sakit, efusi, maupun krepitasi.
     Otot: tonus pada waktu relaksasi atau kontraksi, benjolan yang terdapat di permukaan atau melekat pada tulang. Selain itu juga diperiksa status neurovaskuler. Apabila ada benjolan, maka sifat benjolan perlu dideskripsikan permukaannya, konsistensinya, pergerakan terhadap dasar atau  permukaannya, nyeri atau tidak, dan ukurannya.
3)     Move (pergerakan terutama lingkup gerak)
a.    Nyeri apabila digerakan, baik gerakan aktif maupun pasif.
b.    Gerakan tidak normal yaitu gerakan yang terjadi tidak pada sendinya.
c.    Kaji range of motion (ROM).
2.1.8.1.3 Pemeriksaan Bio-psiko-sosial-spritual
Merupakan respons emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya dan peran klien dalam keluarga dan masyarakat serta respon atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari-harinya baik dalam keluarga ataupun dalam masyarakat.
Pola-Pola Fungsi Kesehatan:
1.    Pola Persepsi dan Tata Laksana Hidup Sehat
          Pada kasus fraktur akan timbul ketakutan akan terjadinya kecacatan pada dirinya dan harus menjalani penatalaksanaan kesehatan untuk membantu penyembuhan tulangnya. Selain itu, pengkajian juga meliputi kebiasaan hidup klien seperti penggunaan obat steroid yang dapat mengganggu metabolisme kalsium, pengkonsumsian alkohol yang bisa mengganggu keseimbangannya dan apakah klien melakukan olahraga atau tidak.
2.    Pola Nutrisi dan Metabolisme
Pada klien fraktur harus mengkonsumsi nutrisi melebihi kebutuhan sehari-harinya seperti kalsium, zat besi, protein, vitamin C dan lainnya untuk membantu proses penyembuhan tulang. Evaluasi terhadap pola nutrisi klien bisa membantu menentukan penyebab masalah muskuloskeletal dan mengantisipasi komplikasi dari nutrisi yang tidak adekuat terutama kalsium atau protein dan terpapar sinar matahari yang kurang merupakan faktor predisposisi masalah muskuloskeletal terutama pada lansia. Selain itu juga obesitas juga menghambat degenerasi dan mobilitas klien.
3.    Pola Eliminasi
Untuk kasus fraktur tidak ada gangguan pada pola eliminasi, tapi walaupun begitu perlu juga dikaji frekuensi, konsistensi, warna serta bau feces pada pola eliminasi alvi. Sedangkan pada pola eliminasi urine dikaji frekuensi, kepekatannya, warna, bau, dan jumlah. Pada kedua pola ini juga dikaji ada kesulitan atau tidak.
4.    Pola Tidur dan Istirahat
Semua klien fraktur timbul rasa nyeri, keterbatasan gerak, sehingga hal ini dapat mengganggu pola dan kebutuhan tidur klien. Selain itu juga, pengkajian dilaksanakan pada lamanya tidur, suasana lingkungan, kebiasaan tidur, dan kesulitan tidur serta penggunaan obat tidur
5.    Pola Aktivitas
          Karena timbulnya nyeri, keterbatasan gerak, maka semua bentuk kegiatan klien menjadi berkurang dan kebutuhan klien perlu banyak dibantu oleh orang lain. Hal lain yang perlu dikaji adalah bentuk aktivitas klien terutama pekerjaan klien. Karena ada beberapa bentuk pekerjaan beresiko untuk terjadinya fraktur dibanding pekerjaan yang lain.
6.    Pola Hubungan dan Peran
          Klien akan kehilangan peran dalam keluarga dan dalam masyarakat. Karena klien harus menjalani rawat inap.
7.    Pola Persepsi dan Konsep Diri
          Dampak yang timbul pada klien fraktur yaitu timbul ketakutan akan kecacatan akibat frakturnya, rasa cemas, rasa ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas secara optimal, dan pandangan terhadap dirinya yang salah (gangguan body image).
8.    Pola Sensori dan Kognitif
          Pada klien fraktur daya rabanya berkurang terutama pada bagian distal fraktur, sedang pada indera yang lain tidak timbul gangguan.begitu juga pada kognitifnya tidak mengalami gangguan. Selain itu juga, timbul rasa nyeri akibat fraktur.


9.    Pola Penanggulangan Stress
       Pada klien fraktur timbul rasa cemas tentang keadaan dirinya, yaitu ketidakutan timbul kecacatan pada diri dan fungsi tubuhnya. Mekanisme koping yang ditempuh klien bisa tidak efektif
10.    Pola Tata Nilai dan Keyakinan
Untuk klien fraktur tidak dapat melaksanakan kebutuhan beribadah dengan baik terutama frekuensi dan konsentrasi. Hal ini bisa disebabkan karena nyeri dan keterbatasan gerak klien.

2.1.8.2  Diagnosa Keperawatan
1.      Nyeri berhubungan dengan agen cidera fisik.
2.      Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan penekanan pembuluh darah.
3.      Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan.
4.      Ansietas berhubungan dengan adanya perubahan status kesehatan.
(Herdman, 2015)

2.1.8.3  Rencana Keperawatan
No
Diagnosa Keperawatan
Tujuan
Intervensi
Rasional
1












No












Nyeri berhubungan dengan agen cidera fisik.










Diagnosa Keperawatan
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 2x24 jam nyeri berkurang atau hilang dengan kriteria hasil :
1.      Skala nyeri 1 (dari 1-10).
2.      TTV dalam batas normal (TD : 120/80  mmHg, RR: 12-
Tujuan

20x/menit, S: 36-37,5o C, N: 60-100x/menit).
3.      Pasien tampak rileks.

1.      Observasi tanda-tanda vital.


2.      Kaji skala nyeri secara kompherensif.


3.      Ajarkan tehnik distraksi


Intervensi

4.      Berikan pasien posisi yang nyaman bila perlu gunakan bantal.
5.      Kolaborasi dalam pemberian obat analgetik.
1.      Untuk mengetahui keadaan umum pasien
2.      Mengetahui frekuensi, kualitas, durasi, regional, dan waktu nyeri.
3.      Untuk mengurangi rasa nyeri dan mengalihkan
Rasional

perhatian terhadap nyeri.
4.      Untuk menyokong area dependen (area fraktur).
5.      Untuk mengurangi nyeri
2




















No




Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan penekanan pembuluh darah.















Diagnosa Keperawatan

Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan ketidakefektifan perfusi jaringan perifer pada klien teratasi dengan kriteria hasil :
1. Tekan sistole dan distole dalam rentang yang diharapkan.
2. Tidak ada tanda-tanda peningkatan tekanan intrakanial.



Tujuan

1.      Lakukan perawatan sirkulasi perifer secara komprehensif misal: periksa nadi perifer, edema, pengisian kapiler, warna, dan suhu ekstremitas.
2.      Ajarkan pasien pentingnya mematuhi diit dan program pengobatan.
3.      Tinggikan angota badan yang terkena 20 derajat atau lebih tinggi dari jantung
Intervensi

4.      Auskultasi frekuensi dan irama jantung, catat terjadinya bunyi jantung ekstra.
1.      Mengetahui keefektifan intervensi dan perkembangan pasien.







2.      Memperceapat proses penyembuhan.


3.      Meningkatkan aliran darah balik vena.


Rasional

4.      Takikardi sebagai akibat hipoksemia dan kompensasi upaya peningkatan aliran darah dan perfusi jaringan.
3






















No
Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan.

















Diagnosa Keperawatan

Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 2x24 jam pasien dapat melakukan mobilitas fisik secara mandiri dengan kriteria hasil :
1.      Pasien meningkat dalam aktivitas fisik
2.      Mengerti tujuan dari peningkatan mobilitas fisik
3.      Mampu untuk mobilisasi.



Tujuan

1.    Cegah agar tidak terjadi gerakan pada fraktur (imobilisasi).



2.    Bantu klien menggerakan bagian cedera dengan tetap memberikan sokongan yang adekuat.

3.    Ekstermitas di tinggikan dan disokong dengan bantal.


4.    Rencanakan periode istirahat yang cukup.


Intervensi









5.    Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhan sesuai kebutuhan.
1.    Informasi yang benar dapat meningkatkan kemajuan kesehatan.

2.    Agar dapat membantu mobilitas secara bertahap.




3.    Meningkatkan aliran balik vena dan mengurangi edema dan mengurangi nyeri.

4.    Mengurangi aktivitas yang tidak diperlukan, dan energi

Rasional

 terkumpul dapat di gunakan untuk aktivitas seperlunya secara optimal
5.    Mengurangi pemakaian energi sampai kekuatan pasien pulih kembali.
4




















No
Ansietas berhubungan dengan adanya perubahan status kesehatan.
















Diagnosa Keperawatan
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan ansietas dapat teratasi dengan kriteria hasil :
1.      Pasien mampu mengidentifikasi dan mengungkapkan gejala cemas.
2.      Mengidetifikasi, mengungkapkan dan menunjukan teknik untuk mengontrol cemas.
3.      Postur tubuh ekspresi wajah,
Tujuan

bahasa tubuh
dan tingat aktifitas  berkurangnya kecemasan.
1. Gunakan pendekatan yang menenangkan kepada pasien.

2. Identifikasi tingkat kecemasan.


3. Jelaskan apa yang akan dilakukan dan apa yang dapat dilakukan pasien.




Intervensi
1.      Membantu mengidentifikasi dalam mengatasi keadaan saat ini atau memberikan bantuan yang sesuai.
2.      Membantu mengidentifikasi tingkatan kecemasan yang dialami pasien.
3.      Untuk membantu mengilangkan rasa takut dan mendorong kerja sama.




Rasional
Sumber: Herdman, 2015; Bulechek, 2016; Moorhead, 2016; dan Wilkinson, 2011.

2.2  Diskolasi
2.2.1        Definisi
Dislokasi adalah terlepasnya kompresi jaringan tulang dari kesatuan sendi. Dislokasi ini dapat hanya komponen tulangnya saja yang bergeser atau terlepasnya seluruh komponen tulang dari tempat yang seharusnya (dari mangkuk sendi). Seseorang yang tidak dapat mengatupkan mulutnya kembali sehabis membuka mulutnya adalah karena sendi rahangnya terlepas dari tempatnya (Rejo, 2013).
Dislokasi adalah deviasi hubungan normal antara rawan yang satu dengan rawan yang lainnya sudah tidak menyinggung satu dengan lainnya. Dislokasi sendi adalah fragmen frakrtur saling terpisah dan menimbulkan deformitas. Dislokasi sendi adalah menggambarkan individu yang mengalami atau beresiko tinggi untuk mengalami perubahan posisi tulang dari posisinya pada sendi (Rejo, 2013).
Dislokasi sendi adalah suatu keadaan dimana permukaan sendi tulang yang membentuk sendi tak lagi dalam hubungan anatomis. Dislokasi sendi atau luksasio adalah tergesernya permukaan tulang yang membentuk persendian terhadap tulang lain. Dislokasi terjadi saat ligarnen rnamberikan jalan sedemikian rupa sehingga tulang berpindah dari posisinya yang normal di dalam sendi. Dislokasi dapat disebabkan oleh faktor penyakit atau trauma karena dapatan (acquired) atau karena sejak lahir (kongenital) (Rejo, 2013).
Dislokasi merupakan terlepasnya kompesi tulang dari kesatuan sendi dislokasi ini bisa saja haya komponen tulangnya saja yang bergeser atau bisa juga terlepasnya seluruh komponen tulang dari tempat yang seharusnya (http//www.idmedis.com/2015/09/pengertian-fraktur-atau-patah-tulang-dan-dislokasi-cara-pembidaian.html?m=1). Jadi, dapat disimpulkan bahwa dislokasi adalah tergesernya sendi dari mangkuk sendi yang kemudian dapat menimbulkan deformitas.

2.2.2        Etiologi
     Dislokasi biasanya sering dikaitkan dengan patah tulang/fraktur yang disebabkan oleh berpindahnya ujung tulang yang patah oleh karena kuatnya trauma, tonus atau kontraksi otot dan tarikan. Dan biasanya disebabkan oleh :
1.      Kecelakaan lalu lintas
Benturan keras pada sendi saat kecelakaan motor biasanya menyebabkan dislokasi.
2.      Trauma tumpul.
3.      Gerakan secara tiba-tiba dan berlebihan.
4.      Cedera olahraga
Olahraga yang biasanya menyebabkan dislokasi adalah sepak bola dan hoki, serta olah raga yang beresiko jatuh misalnya : terperosok akibat bermain ski, senam, volley. Pemain basket dan pemain sepak bola paling sering mengalami dislokasi pada tangan dan jari-jari karena secara tidak sengaja menangkap bola dari pemain lain.
5.      Terjadi infeksi di sekitar sendi.                                  
6.      Trauma akibat pembedahan ortopedi.
7.      Akibat kelainan pertumbuhan sejak lahir.
       (Rejo, 2013).

2.2.3   Tanda dan Gejala
Menurut Smeltzer, 2001, tanda dan gejala pada dislokasi biasanya akan terlihat melalui kejanggalan yang muncul pada bentuk sendi, misalnya:
a)    Perubahan kontur sendi.
b)   Muncul benjolan aneh di dekat tempurung atau soket sendi.
c)    Sendi juga akan mengalami pembengkakan
d)   Lebam.
e)    Perubahan panjang ekstremitas.
f)    Kehilangan mobilitas normal.
g)   Perubahan sumbu tulang yang mengalami dislokasi.
h)   Kekakuan.
i)   Nyeri akut.
j)   Teraba adanya benjolan tulang akibat pergeseran.
k)   Bentuk tangan abnormal.
l)   Kerusakan fungsi.
m)  Deformitas pada persendiaan.
n)   Gangguan gerakan
  Otot-otot tidak dapat bekerja dengan baik pada tulang tersebut.
o)   Pembengkakan
  Pembengkakan ini dapat parah pada kasus trauma dan dapat menutupi deformitas.
p)   Rasa nyeri sering terdapat pada dislokasi
  Sendi bahu, sendi siku, metakarpal phalangeal dan sendi pangkal paha servikal.
Cidera ini termasuk kondisi darurat yang membutuhkan penanganan medis untuk mengembalikan tulang pada posisi yang seharusnya (www.alodokter.com/dislokasi).

2.2.4        Patofisiologi


















2.2.5        Komplikasi
1)      Kerusakan syaraf atau pembuluh darah pada atau di sekitar sendi.
2)      Sobeknya otot, ligament, dan tendon pada sendi yang cidera seiring bertambahnya usia.
3)      Munculnya arthritis pada sendi yang cidera.
4)      Meningkatkan kemungkinan cedera kembali terjadi.
(www.alodokter.com/dislokasi)

2.2.6        Penatalaksanaan Medis
1.    Medis
a.       Farmakologi
1)   Pemberian obat obatan : analgesic non narkotik.
2)   Analsik yang berfungsi untuk mengatasi nyeri otot, sendi, sakit kepala, nyeri pinggang.
3)   Bismantan yang berfungsi untuk menghilangkan nyeri ringan atau sedang, kondisi akut atau kronis termasuk nyeri persendian, nyeri otot.
b.      Pembedahan
1.    Operasi ortopedi
   Operasi ortopedi merupakan spesialisasi medis yang mengkhususkan pada pengendalian medis dan bedah para pasien yang memiliki kondisi kondisi arthritis yang mempengaruhi persendian utama, pinggul, lutut dan bahu melalui bedah invasive minimal dan bedah penggantian sendi. Prosedur pembedahan yang sering dilakukan meliputi reduksi terbuka dengan fiksasi interna atau disingkat ORIF (open reduction and fixation). Berikut jenis jenis pembedahan ortopedi dan indikasinya yang lazim dilakukan:
a.    Reduksi terbuka: melakukan reduksi dan membuat kesajajran tulang yang patah setelah terlebih dahulu dilakukan diseksi dan pemajanan tulang yang patah.
b.    Fiksasi interna: stabilisasi patah tulang yang telah direduksi dengan skrup, plat, paku, dan pin logam.
c.    Graft tulang: penggantian jaringan tulang untuk memperbaiki penyembuhan untuk menstabilisasi atau mengganti tulang yang berpenyakit.
d.   Amputasi: penghilangan bagian tubuh.
e.    Artroplasti: memperbaiki masalah sendi dengan artroskop (suatu alat yang memungkinkan ahli bedah mengoperasi dalamnya sendi tanpa irisan yang besar) atau melalui pembedahan sendi terbuka.
f.  Menisektomi: eksisi fibrokartilago sendi yang telah rusak.
g.    Penggantian sendi: penggantian permukaan sendi dengan bahan logam atau sintesis.
h.    Penggantian sendi total: penggantian kedua permukaan artikuler dalam sendi dengan logam atau sintesis
2.      Non Medis
a.       Dislokasi reduksi dikembalikan ketempat semula dengan menggunakan anastesi jika dislokasi berat
RICE
R: rest (istirahat).
I: ice (kompres dengan es).
C: compression (kompresi/pemasangan pembalut tekan).
E: elevasi (meninggikan bagian dislokasi).
b.      Pencegahan
1)    Cedera akibat olahraga
a.  Gunakan peralatan yang diperlukan seperti sepatu untuk lari.
b.  Latihan.
c.  Conditioning.
2)    Trauma kecelakaan
a.  Kurangi kecepatan.
b.  Memakai alat pelindung diri seperti helm, sabuk pengaman.
c.  Patuhi peraturan lalu lintas.








2.2.7        Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium dasar, pemeriksaan kimia darah, hitung sel darah lengkap, penentuan golongan darah dan uji silang, hitung trombosit, urinalisasi,dan penentuan gula darh, BUM dan elektrolit,pemeriksaanlainyabisajugadengan:
1. Sinar-X (Rontgen)
Pemeriksaan rontgen merupakan pemeriksaan diagnostik noninvasif untuk membantu menegakkan diagnosa medis. Pada pasien dislokasi sendi ditemukan adanya pergeseran sendi dari mangkuk sendi dimana tulang dan sendi berwarna putih.
2. CT scan
CT-Scan yaitu pemeriksaan sinar-X yang lebih canggih dengan bantuan komputer, sehingga memperoleh gambar yang lebih detail dan dapat dibuat gambaran secara 3 dimensi. Pada pasien dislokasi ditemukan gambar 3 dimensi dimana sendi tidak berada pada tempatnya.
3. MRI
MRI merupakan pemeriksaan yang menggunakan gelombang magnet dan frekuensi radio tanpa menggunakan sinar-X atau bahan radio aktif, sehingga dapat diperoleh gambaran tubuh (terutama jaringan lunak) dengan lebih detail. Seperti halnya CT-Scan, pada pemeriksaan MRI ditemukan adanya pergeseran sendi dari mangkuk sendi.
4.    Radiologi
Untuk memastikan arah dislokasi dan apakah disertai fraktur.
5.    Arterigram
Bila kerusakan vaskuler dicurigai.
6.    Laboratorium
Trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk klirens ginjal.
(Rejo, 2013)







2.2.8        Konsep Asuhan Keperawatan
2.2.8.1  Pengkajian
                        Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan untuk mengumpulkan data pasien dengan menggunakan tehnik wawancara, observasi, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang tetapi pada pasien dislokasi difokuskan pada :
1)      Keluhan Utama
Keluhan utama pada pasien dislokasi adalah psien mengeluhkan adanya nyeri. Kaji penyebab, kualitas, skala nyeri dan saat kapan nyeri meningkat dan saat kapan nyeri dirasakan menurun.
2)      Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien biasanya mengeluhkan nyeri pada bagian yang terjadi dislokasi, pergerakan terbatas, pasien melaporkan penyebab terjadinya cedera.
3)      Riwayat Penyakit Dahulu
Pada pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab dislokasi, serta penyakit yang pernah diderita klien sebelumnya yang dapat memperparah keadaan klien dan menghambat proses penyembuhan.
4)      Pemeriksaan Fisik
Tampak adanya perubahan kontur sendi pada ekstremitas yang mengalami dislokasi, tampak perubahan panjang ekstremitas pada daerah yang mengalami dislokasi, adanya nyeri tekan pada daerah dislokasi, tampak adanya lebam pada dislokasi sendi.
5)      Kaji 14 kebutuhan dasar Henderson
Untuk dislokasi dapat difokuskan kebutuhan dasar manusia yang terganggu adalah:
a.       Rasa nyaman (nyeri) : pasien dengan dislokasi biasanya mengeluhkan nyeri pada bagian dislokasi yang dapat mengganggu kenyamanan klien.
b.      Gerak dan aktivitas: pasien dengan dislokasi dimana sendi tidak berada pada tempatnya semula harus diimobilisasi. Klien dengan dislokasi pada ekstremitas dapat mengganggu gerak dan aktivitas klien.
c.       Makan minum: pasien yang mengalami dislokasi terutama pada rahang sehingga klien mengalami kesulitan mengunyah dan menelan. Efeknya bagi tubuh yaitu ketidakseimbangan  nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.
d.      Rasa aman(ansietas): klien dengan dislokasi tentunya mengalami gangguan rasa aman atau cemas(ansietas) dengan kondisinya.
2.2.8.2  Diagnosa Keperawatan
1)      Nyeri berhubungan dengan agen cedera fisik (trauma), agen cedera biologis (gerakan fragmen tulang).
2)      Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan.
3)      Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan imobilisasi fisik.
4)      Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi.
 (Herdman, 2015)

2.2.7.3 Rencana Keperawatan
No
Diagnosa Keperawatan
Tujuan
Intervensi
Rasional
1





















No






















Nyeri berhubungan dengan agen cedera fisik (trauma), agen cedera biologis (gerakan fragmen tulang).
















Diagnosa Keperawatan



Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 2x24 jam nyeri berkurang atau hilang dengan kriteria hasil :
1)      Skala nyeri 1 (dari 1-10).
2)      TTV dalam batas normal (TD : 120/80  mmHg, RR: 12-20x/menit, S: 36-37,5o C, N: 60-100x/menit).
3)      Pasien tampak rileks.





Tujuan


1. Kaji nyeri.





2. Jelaskan penyebab nyeri.



3. Dorong pasien menyatakan masalah, mendengar   dengan   aktif pada    masalah ini dan berikan  dukungan dengan menerima, tinggal  dengan pasien berikan   imformasi yang
Intervensi

 tepat.
4.Dorong
penggunaan tehnik relaksasi, (imajinasi, visualisasi, aktivitas terapeutik.


5. Berikan tindakan kenyamanan   contoh  pijat punggung, penguatan posisi (penggunaan tindakan  dukungan sesuai kebutuhan).
6. Berikan obat analgesik sesuai indikasi.
1.Membantu mengevaluasi derajat ketidakanyaman dan keefektifan   analgesik atau menyatakan terjadinya komplikasi.
2. Informasi memberikan data dasar untuk mengevaluasi kebutuhan dan keefektifan intervensi.
3. Penurunan ansietas atau takut meningkatkan  relaksasi kenyamanan.








Rasional


7.    Menurunkan tegangan  
     otot, meningkatkan relaksasi dan dapat meningkatkan kemampuan koping, menurunkan nyeri dan ketidakanyamanan.
5. Menghilangkan nyeri, meningkatkan kenyamanan dan meningkatkan istirahat. membantu klien dalam mengatsi kecemasan terhadap nyeri.

6. Menghilangkan nyeri, meningkatkan kenyamanan dan meningkatkan istirahat.
2










No
Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan.








Diagnosa Keperawatan


Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 2x24 jam pasien dapat melakukan mobilitas fisik secara mandiri dengan kriteria hasil:
1)      Pasien meningkat dalam aktivitas fisik.
Tujuan

2)      Mengerti tujuan dari peningkatan mobilitas fisik.
3)      Mampu untuk mobilisasi.
1. Kaji keterbatasan aktivitas, perhatikanadanya/derajat/keterbatasan /kemampuan.
2. Jelaskan penyebab kelemahan.

3.Ubah posisi setiap 2 jam bila tirah baring: dukung
Intervensi

bagian tubuh yang sakit/sendi dengan bantal, gulungan, bantalan siku/tumit sesuai indikasi.
4. Bantu dalam latihan rentang gerak aktif/pasif.



5. Berikan pijatan kulit, pertahankan kebersihan dan kekeringan kulit. pertahankan linen kering dan bebas kerutan.
6. Berikan tempat tidur busa/kapuk.
1. Mempengaruhi pilihan intervensi.



2. Informasi dapat meningkatkan perubahan perilaku.
3.Menurunkan ketidaknyamanan, mempertahankan kekuatan
Rasional

 otot/mobilitas sendi, meningkatkan sirkulasi, dan mencegah kerusakan kulit.

4. Mempertahankan kelenturan sendi, mencegah kontraktur, dan membantu dalam menurunkan ketegangan otot.
5. Merangsang sirkulasi: mencegah iritasi kulit





6. Menurunkan tekanan jaringan dan dapat meningkatkan sirkulasi, sehingga menurunkan resiko iskemia/kerusakan dermal.
3






No
Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan imobilisasi fisik.



Diagnosa Keperawatan

Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan masalah kerusakan integritas kulit dapat teratasi dengan kriteria hasil:
Tujuan

1.      Tidak ada      kerusakan pada lapisan kulit.
2.      Tidak ada kerusakan pada permukaan kulit.
3.      Integritas kulit yang baik bisa dipertahankan (sensasi, elastisitas, temperatur, hidrasi, pigmentasi).
4.      Luka menunjukkan peningkatan kesembuhan.
1. Kaji kulit, kemerahan dan perubahan warna kulit.


2. Jelaskan penyebab
Intervensi

kerusakan kulit


3. Selidiki nyeri tiba-tiba/keterbatasan gerakan dengan edema lokal/eritema ekstremitas cedera.
4. Kolaborasi dalam pemberian obat antibiotik sesuai indikasi.
1. Memberikan informasi tentang sirkulasi kulit dan masalah yang mungkin disebabkan balutan/ikatan perban dan imobilisasi lama.
2. Informasi dapat
Rasional

 merubah prilaku klien untuk mencegah terjadinya dekubitus.
3. Dapat mengidentifikasi terjadinya osteomielitis.



4. Antibiotik dapat meminimalkan resiko terjadi infeksi.
4












No



Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi.









Diagnosa Keperawatan

Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan masalah nyeri akut dapat teratasi dengan kriteria hasil:
1.      TTV normal (TD= 120/80 mmHg, RR= 12-20x/menit, S= 36-37,5 derajat Celcius, N= 60-
Tujuan

100x/menit).
2.      Wajah tidak meringis kesakitan.
3.      Skala 1 (dari 1-10).
4.      Tidak menunjukkan adanya peradangan lebih parah.
1. Kaji pengetahuan klien tentang penyakit dan harapan masa datang.
2. Jelaskan secara singkat dan sederhana mengenai  penyakit.




Intervensi

3. Beri kesempatan untuk bertanya.

4. Jelaskan pentingnya kerjasama klien dengan tenaga kesehatan.
1. Kesempatan untuk menjelaskan kesalahan konsepsi mengenai situasi individu.

2. Memberikan pengetahuan dimana klien dapat membuat pilihan berdasarkan informasi dan kesempatan untuk menjelaskan kesalahan konsepsi mengenai situasi individu.
Rasional

3. Dapat mempercepat proses penyembuhan penyakit.
4. Memberikan pengetahuan dimana klien dapat membuat pilihan berdasarkan informasi.
Sumber: Herdman, 2015; Bulechek, 2016; Moorhead, 2016; Rejo, 2013; dan Wilkinson, 2011.













BAB III
PENUTUP

3.1  Kesimpulan
Fraktur adalah patahnya tulang yang ditandai dengan terputusnya jaringan tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. Fraktur tertutup (closed): bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar, disebut dengan fraktur bersih (karena kulit masih utuh) tanpa komplikasi. Fraktur terbuka (open/compound): bila terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan di kulit.
Sedangkan dislokasi adalah tergesernya sendi dari mangkuk sendi yang kemudian dapat menimbulkan deformitas. Dislokasi biasanya sering dikaitkan dengan patah tulang/fraktur yang disebabkan oleh berpindahnya ujung tulang yang patah oleh karena kuatnya trauma, tonus atau kontraksi otot dan tarikan. Masalah tersebut harus diantisipasi dan diatasi agar tidak terjadi komplikasi. Peran perawat sangat penting dalam perawatan pasien terutama dalam pemberian asuhan keperawatan pada pasien

3.2 Saran
     Melalui makalah ini, kami selaku penyusun makalah ini berharap agar pembaca senantiasa memperdulikan akan kesehatannya sendiri, lingkungan dan sekitarnya juga kehati-hatian dalam kehidupan sehari-hari agar terhindar dari fraktur dan disklokasi.











DAFTAR PUSTAKA

Bulechek, Gloria M. dkk. 2016. Nursing Interventions Classification (NIC) Edisi Bahasa Indonesia.Yogyakarta: MocoMedia.
DiGiulio, Mary dkk. 2014. Keperawatan Medikal Bedah. Yogyakarta: Rapha Publishing.
Herdman, T. Heather dan S. Kamitsuru. 2015. NANDA International Inc. DIAGNOSIS     KEPERAWATAN :             Definisi dan Klasifikasi 2015-2017 Edisi 10. Jakarta: EGC.
Moorhead, Sue dkk. 2016. Nursing Outcomess Classification (NOC) Edisi Bahasa Indonesia.Yogyakarta: MocoMedia.
Nurarif, Amin Huda dan Hardhi Kusuma. 2015. APLIKASI KEPERAWATAN    BERDASARKAN DIAGNOSA MEDIS & NANDA NIC-NOC. Yogyakarta: Media Action Publishing.
Rejo, 2013. GAMBARAN PELAKSANAAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN DISLOKASI, JKèm-U, Vol. V, No. 15. Surakarta: Akademi Keperawatan Mamba’ul ‘Ulum.
Septadina, Indri Seta. 2015. Prinsip Penatalaksanaan Dislokasi Sendi Temporomandibular. Palembang : Bagian Anatomi, Fakultas Kedokteran, Universitas Sriwijaya.
Smeltzer, Suzanne C. dan Brenda G. Bare. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah             edisi 8. Jakarta: EGC.
Wilkinson, Judith M. Dan Nancy R. Ahern. 2011. Buku Saku Diagnosis Keperawatan Edisi 9. Jakarta: EGC.
http//www.idmedis.com/2015/09/pengertian-fraktur-atau-patah-tulang-dan-dislokasi-cara-pembidaian.html?m=1 (diakses pada tanggal 18 Oktober 2016)
www.academia.edu/11892322/Dislokasi (diakses pada tanggal 18 Oktober 2016)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar